1. Salam tabik wahai tuan berserta puan
Dalam cerita kadang dikandung
pesan
Pantun kita
berkisah tentang Kik Cuan
Sang
pendekar dari daerah Pelulusan
2. Terbang di angkasa sang burung dara
Mengikuti angin menuju
arah selatan
Daerah Pelulusan
berkeliling belantara
Ada empat
gunung terletak berdekatan
3. Letih terbang kembali ke bumi mendarat
Hinggap diatas
pohon kayu nan rindang
Gunung Bantan serta
Liang disebelah barat
Timur
selatan Gunung Badau dan Mundang
4. Menanam padi sawah berpetak-petak
Dikelilingi
pematang silang menyilang
Di kejauhan
utara Gunung Tajam terletak
Dua puncak
tertampak tinggi menjulang
5. Jikalau tuan merantau ke negeri seberang
Kampung
halaman janganlah dilupakan
Dikala itu
kendaraan belum dikenal orang
Berjalan kaki
berbagai kegiatan dilakukan
6. Selalu dekat dihati walaupan tak tampak
Kala kelak pulang
jadi putra kebanggaan
Pada kaki-kaki
gunung berliku jalan setapak
Jalur
Tanjong ke selatan ramai perniagaan
7. Sekawan pipit terbang diatas persawahan
Mengintai
tanaman padi masak jeli sekali
Kadang
Pelulusan jadi tempat persinggahan
Menjadi
kawasan tempat orang berjual beli
8. Panen berlimpah petanda rakyat makmur
Keadaan
ekonomi negeri tentu tertopang
Jalan
setapak berkelok selatan dan timur
Dari arah Badau
kekanan jalan bersimpang
9. Kalau
tuan berperahu ke Pulau Panggang
Tolonglah kami diajak serta menumpang
Jalur selatan
menuju arah kawasan Linggang
Berlanjut Dendang
serta Tanjung Kelumpang
10. Wahai puan apakah yang dikau susahkan
Mengapakah gerangan
berwajah muram
Kelak jalur ini
Jalan Tengah orang sebutkan
Melewati
Genting Apit bukit berbatu curam
11. Apakah gerangan terdengar kabar berita
Yang
membuat dikau dalam hati merana
Perihal
legenda Kik Cuan kita akan bercerita
Kakek tua
selalu merendah tetapi bijaksana
12. Marilah puan kita bersenandung bersama
Buat
menghibur segala lara yang diderita
Berdiam
didaerah Pelulusan sudahlah lama
Didampingi Nek
Cuan sang istri nan tercinta
13. Ke dermaga ramai orang pergi memantau
Tersiar kabar
akan berlabuh kapal perang
Dimasa muda
konon beliau jauh merantau
Melanglang
buana jauh ke negeri seberang
14. Dara hitam manis dipandang tak jemu
Berderai senyum
piawai sekali menari
Jauh ke utara
mengelana menimba ilmu
Pencak silat
serta kuntau beliau pelajari
15. Berbulu bak burung merak ayam kalkun
Berlereng
berbintik pada sayap kiri-kanan
Suami istri
berkehidupan sangatlah rukun
Akan
tetapi tidaklah empunya keturunan
16. Pemimpin bijaksana tentulah disanjung
Pastilah
pula dia arif dalam bertutur kata
Saat pulang singgah di tanah Semenanjung
Menumpang
perahu layar ke pulau tercinta
17. Sarung songket benang emas betetenun
Kebudayaan
Nusantara asli seni abadi
Dalam pelayaran
perahu diserang lanun
Penumpang
bersatu perlawanan terjadi
18. Hindari diri dari bebiasaan berputus asa
Percayalah
diri jangan menaruh waswas
Kik Cuan
turut bertarung gagah perkasa
Lanun kocar
kacir namun nakhoda tewas
19. Jangan tuan suka menebar sejuta janji
Jikalau
pelaksanaan tidak mengiringi
Jelang ajal
kepada Kik Cuan dia memuji
Dikau pendekar
perkasa sulit ditandingi
20. Janganlah pula tuan suka berjanji semu
Kejujuran
diri tuan selalu orang harapkan
Inilah
benda pusaka kuhadiahkan padamu
Mungkin
dihari tua kelak kau memerlukan
21. Selalulah berlaku sejalan hati dan kata
Bagai
nyanyi dan musik berjalan seirama
Tanpa
lanjutkan kata nakhoda tutup mata
Hadiah seperangkat
urak Kik Cuan terima
22. Bunga tulip indah bukanlah bunga melati
Banyak ditanam
orang di negeri Belanda
Kik Cuan pulang
Nek Cuan setia menanti
Walau kala
pergi mereka pasangan muda
23. Bagai durian dengan timun di ibaratkan
Lawan tidak
sebanding jadi peringatan
Bahtera
hidup rukun keduanya lanjutkan
Kerja Kik
Cuan mencari damar dan rotan
24. Maukah tuan merujak sambil bersantai
Sediakan
buah timun serta bangkuang
Kadang Nek
Cuan turut pergi menyertai
Dihutan
memarang lais dan mengkuang
25. Buah jagung
berbonggol memanjang
Bijinya
berhamburan bilamana dipipil
Rotan
dijadikan ambong dan keranjang
Sang kakek
menjalin amatlah terampil
26. Adalah hewan kucing tajam bercakar
Tak kalah tajam
berbulu hewan landak
Dari lais
sang nenek menganyam tikar
Dari
mengkuang mereka buat terindak
27. Binatang buaya merayap diatas batu
Dari atas
batu beralih berenang ke kali
Kerjasama
suami istri saling membantu
Para
pedagang singgah datang membeli
28. Aduhai malang nasib anak yatim piatu
Selalu
meratapi keadaan menangis lirih
Lazimnya
dilakukan orang tua masa itu
Kebiasaan
Kik dan Nek Cuan makan sirih
29. Janganlah berucap hanya manis di bibir
Ucapan
beserta hati haruslah disatukan
Sirih dicampur
kapur, pinang dan gambir
Dengan urak
campuran sirih dihaluskan
30. Gundah gulana hidup dalam penantian
Sesuatu
ditunggu tak kunjung ditemukan
Urak hadiah
nahoda dipakai bergantian
Di saat tua
ternyata memang diperlukan
31. Kala bujang dan dayang mata bertemu
Tertanam dalam
hati cinta pun terpadu
Kik Cuan
orangnya santun serta berilmu
Tempat
meminta petuah serta mengadu
32. Di pandang jauh namun di hati dekat
Gunung
dikejar tidaklah akan berlari
Kepada Sang
Pencipta selalu mendekat
Pembawaan
hormat dan berendah diri
33. Merdu melantun siapakah kiranya tuan
Memikat
hati serta membujuk perasaan
Terkadang
orang datang minta bantuan
Anaknya
demam minta jampi pedaraan
34. Sebentuk cincin tersimpan di mukun
Hati-hati
diambil untuk penghias jari
Kik Cuan
memang cucu seorang dukun
Dari sang
kakek ilmu jampi dipelajari
35. Cincin bermata satam kekasih titipkan
Entah
kemana sekarang dia menghilang
Kunyit
serta kapor besi urak ditorehkan
Di jidat
tanda palang dipasang bersilang
36. Dikala
angin kencang tiba berembus
Berayun
berderai dahan serta ranting
Puh
penyakit cepat kau pegi berambus
Kunyit
pedaraan diantingkan melanting
37. Daging ayam enak kalau dimasak opor
Buat bekal
berwisata ditaruh di rantang
Peribase
urang macam kunyit kan kapor
Demam
menyerang kesembuhan datang
38. Berwisata santai pelipur lara nan susah
Ramai
dilakukan orang di akhir minggu
Konon pada
satu saat penduduk gelisah
Dikawasan
Genting Apit sering diganggu
39. Belanda menjajah kita berzaman-zaman
Dengan tipu
licik serta segala kekuatan
Diganggu
limpai binatang gadok siluman
Penduduk
dalam resah gelisah ketakutan
40. Marilah ke laut memukat ikan tamban
Tamban
menjauh kala ada suara hingar
Banyaklah
sudah penduduk jadi korban
Ke telinga
Kin Cuan peristiwa terdengar
41. Dikala musim hujan hampir mendekati
Biasanya
tumbuh berbagai cendawan
Barisan
limpai terkenal samgat ditakuti
Segenap
penduduk tak berani melawan
42. Amatlah bahagia sepasang pengantin
Manakala
berduaan duduk bersanding
Kik dan Nek
Cuan dilubuk hati perihatin
Dalam setiap
kelakar mereka berunding
43. Membuat ladang lahan hutan dibatas
Disusul
dengan upacara beramai nebas
Membantu
penduduk dipikiran terlintas
Dari
ketakutan penduduk haruslah bebas
44. Nebas upacara orang Belitung lakukan
Hitungan
surik menjadi sebagai ukuran
Di satu malam
semedi Kik Cuan lakukan
Di keheningan
bisikan halus kedengaran
45. Dikala ke rumah orang datang bertamu
Ucapkan
dulu salam baru pintu ketukkan
Urakmu,
urakmu, urakmu, perisai kamu
Urak sakti
segala kejahatan ditaklukkan
46. Terbang malam hewan kunang-kunang
Berkelap-kelip
terang sinar ditimbulkan
Kik Cuan
terlena masa silam terkenang
Perangkat
urak nakhoda perahu berikan
47. Berwisata ke pulau perahu layarkan
Turuti arah angin layar kembangkan
Pada saat
ini urak hanya dipergunakan
Untuk
penghalus sirih mudah dimakan
48. Mula
menyeberang kali melalui titian
Lama
kelamaan diperbuat jembatan
Ternyata
urak mengandung kesaktian
Guna
mengenyahkan segala kejahatan
49. Berbuat korupsi janganlah tuan tergoda
Walapun
hidup dalam keadaan miskin
Seperti dahulu
dipesankan oleh nakhoda
Dimasa tua dikau
memerlukan mungkin
50. Diatas kanvas dua petinju bertanding
Saling
pukul memukul berganti-ganti
Dengan
istri tercinta Kik Cuan berunding
Nek Cuan
memberi dorongan sudah pasti
51. Ingin mecicil rumah tuan membuat akad
Akad kredit
sebelum rumah tuan diami
Menghancurkan
limpai kebulatan tekad
Silumman
haruslah enyah dari muka bumi
52. Perayaan muang jong beramai menari
Apabila
suka tuan dibolehkan bergabung
Pantun Kik
Cuan sementara ditunda mari
Waktu
kedepan pastilah akan disambung
Malang, 10 Oktober 2011
No comments:
Post a Comment