Friday, August 3, 2012

BAGIAN KELIMAPULUH TIGA LEGENDA - KIK CUAN (1)


1.       Salam tabik wahai tuan berserta puan
Dalam cerita kadang dikandung pesan
Pantun kita berkisah tentang Kik Cuan
Sang pendekar dari daerah Pelulusan

2.       Terbang di angkasa sang burung dara
Mengikuti angin menuju arah selatan
Daerah Pelulusan berkeliling belantara
Ada empat gunung terletak berdekatan

3.       Letih terbang kembali ke bumi mendarat
Hinggap diatas pohon kayu nan rindang
Gunung Bantan serta Liang disebelah barat
Timur selatan Gunung Badau dan Mundang

4.       Menanam padi sawah berpetak-petak
Dikelilingi pematang silang menyilang
Di kejauhan utara Gunung Tajam terletak
Dua puncak tertampak tinggi menjulang

5.       Jikalau tuan merantau ke negeri seberang
Kampung halaman janganlah dilupakan
Dikala itu kendaraan belum dikenal orang
Berjalan kaki berbagai kegiatan dilakukan

6.       Selalu dekat dihati walaupan tak tampak
Kala kelak pulang jadi putra kebanggaan
Pada kaki-kaki gunung berliku jalan setapak
Jalur Tanjong ke selatan ramai perniagaan

7.       Sekawan pipit terbang diatas persawahan
Mengintai tanaman padi masak jeli sekali
Kadang Pelulusan jadi tempat persinggahan
Menjadi kawasan tempat orang berjual beli

8.       Panen berlimpah petanda rakyat makmur
Keadaan ekonomi negeri  tentu tertopang
Jalan setapak berkelok  selatan dan timur
Dari arah Badau kekanan jalan bersimpang

9.  Kalau  tuan berperahu ke Pulau Panggang
Tolonglah  kami diajak serta menumpang
Jalur selatan menuju arah kawasan Linggang
Berlanjut Dendang serta Tanjung Kelumpang

10.   Wahai puan apakah yang dikau susahkan
Mengapakah gerangan berwajah muram
Kelak jalur ini Jalan Tengah orang sebutkan
Melewati Genting Apit bukit berbatu curam

11.   Apakah gerangan terdengar kabar berita
Yang membuat dikau dalam hati merana
Perihal legenda Kik Cuan kita akan bercerita
Kakek tua selalu merendah tetapi bijaksana

12.   Marilah puan kita bersenandung bersama
Buat menghibur segala lara yang diderita
Berdiam didaerah Pelulusan sudahlah lama
Didampingi Nek Cuan sang istri nan tercinta

13.   Ke dermaga ramai orang pergi memantau
Tersiar kabar akan berlabuh kapal perang
Dimasa muda konon beliau jauh merantau
Melanglang buana jauh ke negeri seberang

14.   Dara hitam manis dipandang tak jemu
Berderai senyum piawai sekali menari
Jauh ke utara mengelana menimba ilmu
Pencak silat serta kuntau beliau pelajari

15.   Berbulu bak burung merak ayam kalkun
Berlereng berbintik pada sayap kiri-kanan
Suami istri berkehidupan sangatlah rukun
Akan tetapi tidaklah empunya keturunan

16.   Pemimpin bijaksana tentulah disanjung
Pastilah pula dia  arif dalam bertutur kata
 Saat pulang singgah di  tanah Semenanjung
Menumpang perahu layar ke pulau tercinta

17.   Sarung songket  benang emas betetenun
Kebudayaan Nusantara asli seni abadi
Dalam pelayaran perahu diserang lanun
Penumpang bersatu perlawanan terjadi

18.   Hindari diri dari bebiasaan berputus asa
Percayalah diri jangan menaruh waswas
Kik Cuan turut bertarung gagah perkasa
Lanun kocar kacir namun nakhoda tewas

19.   Jangan tuan suka menebar sejuta janji
Jikalau pelaksanaan tidak mengiringi
Jelang ajal kepada Kik Cuan dia memuji
Dikau pendekar perkasa sulit ditandingi

20.   Janganlah pula tuan suka berjanji semu
Kejujuran diri tuan selalu orang harapkan
Inilah benda pusaka kuhadiahkan padamu
Mungkin dihari tua kelak kau memerlukan

21.   Selalulah berlaku sejalan hati dan kata
Bagai nyanyi dan musik berjalan seirama
Tanpa lanjutkan kata nakhoda tutup mata
Hadiah seperangkat urak Kik Cuan terima

22.   Bunga tulip indah bukanlah bunga melati
Banyak ditanam orang di negeri Belanda
Kik Cuan pulang Nek Cuan setia menanti
Walau kala pergi mereka pasangan muda

23.   Bagai durian dengan timun di ibaratkan
Lawan tidak sebanding jadi peringatan
Bahtera hidup rukun keduanya lanjutkan
Kerja Kik Cuan mencari damar dan rotan

24.   Maukah tuan merujak sambil bersantai
Sediakan buah timun serta bangkuang
Kadang Nek Cuan turut pergi menyertai
Dihutan memarang lais dan mengkuang

25.   Buah jagung  berbonggol memanjang
Bijinya berhamburan bilamana dipipil
Rotan dijadikan ambong dan keranjang
Sang kakek menjalin amatlah terampil

26.    Adalah hewan kucing tajam bercakar
Tak kalah tajam berbulu hewan landak
Dari lais sang nenek menganyam tikar
Dari mengkuang mereka buat terindak

27.   Binatang buaya merayap diatas batu
Dari atas batu beralih berenang ke kali
Kerjasama suami istri saling membantu
Para pedagang singgah datang membeli

28.   Aduhai malang nasib anak yatim piatu
Selalu meratapi keadaan menangis lirih
Lazimnya dilakukan orang tua masa itu
Kebiasaan Kik dan Nek Cuan makan sirih

29.   Janganlah berucap hanya manis di bibir
Ucapan beserta  hati haruslah disatukan
Sirih dicampur kapur, pinang dan gambir
Dengan urak campuran sirih dihaluskan

30.   Gundah gulana hidup dalam penantian
Sesuatu ditunggu tak kunjung ditemukan
Urak hadiah nahoda dipakai bergantian
Di saat tua ternyata memang diperlukan

31.   Kala bujang dan dayang mata bertemu
Tertanam dalam hati cinta pun terpadu
Kik Cuan orangnya santun serta berilmu
Tempat meminta petuah serta mengadu

32.   Di pandang jauh namun di hati dekat
Gunung dikejar tidaklah akan berlari
Kepada Sang Pencipta selalu mendekat
Pembawaan hormat dan berendah diri

33.   Merdu melantun siapakah kiranya tuan
Memikat hati serta membujuk perasaan
Terkadang orang datang minta bantuan
Anaknya demam minta jampi pedaraan               

34.   Sebentuk cincin tersimpan di mukun
Hati-hati diambil untuk  penghias jari
Kik Cuan memang cucu seorang dukun
Dari sang kakek ilmu jampi dipelajari

35.   Cincin bermata satam kekasih titipkan
Entah kemana sekarang dia menghilang
Kunyit serta kapor besi urak ditorehkan
Di jidat tanda palang dipasang bersilang

36.   Dikala  angin kencang tiba berembus
Berayun berderai dahan serta ranting
Puh penyakit cepat kau pegi berambus
Kunyit pedaraan diantingkan melanting

37.   Daging ayam enak kalau dimasak opor
Buat bekal berwisata ditaruh di rantang
Peribase urang macam kunyit kan kapor
Demam menyerang kesembuhan datang

38.   Berwisata santai pelipur lara nan susah
Ramai dilakukan orang di akhir minggu
Konon pada satu saat penduduk gelisah
Dikawasan Genting Apit sering diganggu

39.   Belanda menjajah kita berzaman-zaman
Dengan tipu licik serta segala kekuatan
Diganggu limpai binatang gadok siluman
Penduduk dalam resah gelisah ketakutan

40.   Marilah ke laut memukat ikan tamban
Tamban menjauh kala ada suara hingar
Banyaklah sudah penduduk jadi korban
Ke telinga Kin Cuan peristiwa terdengar

41.   Dikala musim hujan hampir mendekati
Biasanya tumbuh berbagai cendawan
Barisan limpai terkenal samgat ditakuti
Segenap penduduk tak berani melawan

42.   Amatlah bahagia sepasang pengantin
Manakala berduaan duduk bersanding
Kik dan Nek Cuan dilubuk hati perihatin
Dalam setiap kelakar mereka berunding             

43.   Membuat ladang lahan hutan dibatas
Disusul dengan upacara beramai nebas
Membantu penduduk dipikiran terlintas
Dari ketakutan penduduk haruslah bebas

44.   Nebas upacara orang Belitung lakukan
Hitungan surik menjadi sebagai ukuran
Di satu malam semedi Kik Cuan lakukan
Di keheningan bisikan halus kedengaran

45.   Dikala ke rumah orang datang bertamu
Ucapkan dulu salam baru pintu ketukkan
Urakmu, urakmu, urakmu, perisai kamu
Urak sakti segala kejahatan ditaklukkan

46.   Terbang malam hewan kunang-kunang
Berkelap-kelip terang sinar ditimbulkan
Kik Cuan terlena masa silam terkenang
Perangkat urak nakhoda perahu berikan

47.   Berwisata ke pulau  perahu layarkan
Turuti  arah angin layar kembangkan
Pada saat ini urak hanya dipergunakan
Untuk penghalus sirih mudah dimakan

48.   Mula  menyeberang kali melalui titian
Lama kelamaan diperbuat jembatan
Ternyata urak mengandung kesaktian
Guna mengenyahkan segala kejahatan

49.   Berbuat korupsi janganlah tuan tergoda
Walapun hidup dalam keadaan miskin
Seperti dahulu dipesankan oleh nakhoda
Dimasa tua dikau memerlukan mungkin

50.   Diatas kanvas dua petinju bertanding
Saling pukul memukul berganti-ganti
Dengan istri tercinta Kik Cuan berunding
Nek Cuan memberi dorongan sudah pasti

51.   Ingin mecicil rumah tuan membuat akad
Akad kredit sebelum rumah tuan diami
Menghancurkan limpai kebulatan tekad
Silumman haruslah enyah dari muka bumi

52.   Perayaan muang jong beramai menari
Apabila suka tuan dibolehkan bergabung
Pantun Kik Cuan sementara ditunda mari
Waktu kedepan pastilah akan disambung

Malang,  10 Oktober 2011


No comments:

Post a Comment