Sunday, August 12, 2012

BAGIAN KELIMAPULUH SATU MINERVA (4) - Habis


1.       Wahai para sahabat handai berserta taulan
Gembira sekali kita kembali dipertemukan
Setelah tiada bersua selama berbulan-bulan
Sekarang pantun Minerva mari kita lanjutkan

2.       Bagaimanakah  gerangan kabar berita
Semoga kesehatan tetap dipeliharakan
Perihal Tanjung Pandan kita masih cerita
Setiap satu Juli hari jadi meriah dirayakan

3.       Dekat dalam hati jauh dipandang mata
Apakah semua arti ini dapatlah diterka
Marilah kita melanjutkan berkeliling kota
Dari Jalan Penghulu kearah Jalan Merdeka

4.       Tentu tak lupa tuan perihal mentimun suri
Menjadi minuman penyegar setelah diolah
Menuju arah ketimur mari kita menelusuri
Berbelok kiri menuju keutara Jalan Sekolah

5.       Andaikta tuan jadi seorang pengelana
Pasti keliling jagat raya kesana kemari
Sekolah Belanda dahulu berdiri disana
Kini Sekolah Menengah Pertama Negeri

6.       Sambil berkelana menimba segala ilmu
Maka hasil berkelana tidaklah percuma
Dengan Masjid Jamik kota kita bertemu
Masjid Agung Al Mabrur kini diberi nama

7.       Ilmu tertanam dihati tidak akan hilang
Menjadikan diri tuan piawai berkreasi
Jalan Sekolah dan Jalan Masjid bersilang
Dua lembaga pendidikan disana berlokasi

8.       Bila berilmu jangan membusungkan dada
Nasehat nenek perilaku itu pantang sekali
Sekolah Rakyat dibangun dizaman Belanda
Tempat pendidikan di Belitung pertama kali

9.       Bila dikau santun akan dihormati orang
Dari masa dahulu hingga pada masa kini
Madrasah Nurul Islam terletak di seberang
Banyak pemuka masyarakat digodok disini

10.   Budaya santun tak akan dimakan zaman
Ciri khas dari bangsa kita yang tercinta
Jalan Masjid kini bernama Jalan Sudirman
Menuju  kearah Air Berutak dibatas kota

11.   Binatang kuda termasyhur deras berlari
Tetapi waspada kalau dia bersifat binal
Sebuah pabrik es dan limun dahulu berdiri
Pabrik es Kim Soe ketika itu amat dikenal

12.   Neng geulis pasti dia pujaan si kakang
Demikian bait lagu masyarakat Sunda
Sebuah rumah jagal sapi letak di belakang
Mendaki keatas bukit perkuburan Belanda

13.   Kelenteng terkadang disebut juga vihara
Dilengkapi patung-patung penuh hiasan
Dari Air Berutak kita  menuju kearah utara
Gang Depati masa silam bernama kawasan

14.   Negeri kita berbagai budaya dihormati
Negeri majemuk penuh beragam pesona
Jalan Depati Rahad sekarang nama diganti
Depati Ki Agus Rahad dulu berdiam disana

15.   Belitung dulu Billiton Belanda namakan
Masa kini terus menerus berbenah diri
Rumah panggung kokoh pernah didirikan
Dua meriam kuno mengawal di kanan kiri

16.   Berperahu ke bagan menangguk selar
Di malam nan gelap bercahaya bintang
Cakraningrat delapan depati diberi gelar
Pada kolonial Belanda beliau menentang

17.   Lebih tenang bila cuaca tidak berkabut
Tidak terasa malam kian bertambah dini
Kampong Raje kawasan ini biasa disebut
Kerabat depati umumnya berdiam disini

18.   Konon langit berlapis-lapis tujuh petala
Tujuh petala pula bumi ini mengimbangi
Sebuah rumah besar disini didirikan pula
Berhalaman luas pohon karet menyelingi

19.   Mantera niaga sering orang ucapkan
Jampi berjudul pelaris tanjung kimpul
Rumah Gede masyarakat menyebutkan
Kadang disana orang ramai berkumpul

20.   Jenis ikan bandeng dan ikan belanak
Konon paling laris dijual di pasaran
Halaman tempat bermain anak-anak
Lapang bermain dan berkejar-kejaran

21.   Jenis ikan ketarap menghuni karang
Jenis ikan tongkol nyaman dipindang
Kampong Ume nama lain disebut orang
Ume dalam base Belitong berarti ladang             

22.   Ikan ketarap biasanya dimasak gangan
Dicampur dengan nanas lebih nyaman
Mungkin kawasan bermula perladangan
Kemudian dijadikan tenpat permukiman

23.   Tahukah tuan kebutuhan fisik minimum
Pedoman apabila gaji karyawan dihitung
Berlokasi disini pula Rumah Sakit Umum
Rumah sakit umum pertama di Belitung

24.   Bila buruh tuntut tinjau penguppahan
Malahan kadang dia peroleh tekanan
Kantor boswezen berdiri bersebelahan
Belakangan disebut Jawatan Kehutanan

25.   Jangan tuan bercinta dalam kenangan
Jadinya bagai pungguk rindukan bulan
Gang Depati dan Jalan Sijuk bersimpangan
Gardu jaga derdiri disudut pertemuan jalan

26.   Konon burung beo dapat diajar berkata
Tidak jelas apakah jantan atau betina
Kota Tanjung Pandan dahulu rapih tertata
Pembangunan kota beraturan terencana

27.   Tentang  rajawali sang burung penjaga
Lebih banyak terkisah dalam dunia maya
Disetiap persimpangan berdiri gardu jaga
Lengkap dengan lonceng petanda bahaya

28.   Masa lalu orang menulis memakai dawat
Menulis surat buat kerabat serta kenalan
Parit bererta gorong-gorong baik terawat
Sistem drainase amat ketat pengontrolan
29.   Remaja tentu menulis buat sang pacar
Tanda hubungan cinta kasih dua sejoli
Ke laut serta ke sungai air mengalir lancar
Bahaya air meluap dan banjir jauh sekali

30.   Berjenis bunga tasbih berwarna jingga
Jenis bunga kana  berwarna rada serupa
Pos pemadam kebakaran setiap saat siaga
Oleh penduduk disebukan rumah pompa

31.   Bunga bokor berwarna biru bergumpal
Kadang dipakai untuk acara pemujaan
Jalan raya kota terawat mulus beraspal
Walau kala itu belum banyak kendaraan

32.   Simak kata kala menerima pelajaran
Saat guru didepan kelas lagi berujar
Perumahan ditata terletak beraturan
Jarak dengan jalan raya diatur sejajar

33.   Amtenar tua senang mengisap cerutu
Duduk di korsi goyang bermalas-malas
Rumah kontrakan berpetak disebut Pintu
Ada Pintu Sepuluh dan Pintu Empatbelas

34.   Asap mengepul ke udara perasaan damai
Sambil mengenang kejayaan masa muda
Pintu Empatpuluh paling tua serta ramai
Belakang bioskop Minerva Pintu berada

35.   Jago silat tentu piawai mengatur jurus
Silahkan menandingi bila tuan berani
Kontrakan berlanjutan terus menerus
Warga Tionghoa umumnya menghuni

36.   Berputar kanan kiri pasang kuda-kuda
Sandi pun ditata dengan kerlingan mata
Sepanjang Jalan Sijuk kita masih berada
Pemakaman Islam terletak dibatas kota



37.   Aduhai kasihan hidup putri dalam puri
Walau serba mewah perasaan merana
Lima jalur Simpang Lima telah ditelusuri
Keseputar kota kita sudahlah berkelana

38.   Didalam sungai hewan buaya menyelam
Muncul ke permukaan menganga seram
Itulah potret Tanjung Pandan masa silam
Sebuah kota aman damai serta tenteram

39.   Mangga manalagi bagaimana gerangan
Buahnya manis walaupun belum matang
Semua hanya terpatri didalam kenangan
Catatan bagi anak cucu masa mendatang

40.   Batang mangga udang buahnya jarang
Pohonnya tinggi jarang pula tumbang
Bagaimanakah keadaan dimasa sekarang
Banyaklah perubahan terus berkembang            

41.   Nomaden adalah hidup berpindah-pindah
Komunitas ini lambat sekali menjadi maju
Cadangan timah Belitung menciutlah sudah
Namun geliat ekonomi tetap terus melaju         

42.   Biarlah bulan dan bintang menjadi saksi
Kata nan kelasik dari perayu gombalan
Industri dan pertanian tampil ambil posisi
Tapi program pariwisata menjadi andalan

43.    Bila pelepah kelapa landai memanjang
Tentulah sangat disukai binatang tupai
Sarana dan prasarana sangat menunjang
Dari Ibukota Negara amat mudah dicapai

44.   Kebisaan binatang tupai tahukah tuan
Mencari kelapa muda untuk dimakan
Program wisata murah dijadikan tujuan
Keramah tamahan amatlah diutamakan

45.   Matahari terbenam menyanyi jangkrik
Itulah suasana malam di ujung tanjung
Pulau tercinta nan permai selalu menarik
Dari manca negara pelancong berkunjung

46.   Dalam kolam angsa berenang mengapung
Riak air beregerak menerpa bunga teratai
Hotel dan pondok wisata siap menampung
Segala macam fasilitas tentulah menyertai

47.   Kolam teratai terhampar didekat istana
Tempat istirahat bersantai paduka raja
 Mal dan swalayan tersebar dimana-mana
Tentu memudahkan untuk wisata belanja

48.   Paduka raja duduk bersantai di sore hari
Dikawal pengawal berdiri bergandengan
Tentulah paling menonjol wisata bahari
Kepulauan Pasifik menadapat tandingan

49.   Langit memerah diatas alam terbentang
Mengiringi terbitnya cahaya sang fajar
Utara ke selatan pantai barat merentang
Dikawal puluhan pulau berbaris berjajar

50.   Suara kicauan burung menjadi penyerta
Amatlah merdu suara burung cucakrawa
Semuanya penghias alam pulau tercinta
Tuan datang berkunjug pasti tak kecewa

51.   Suasana syahdu mengetuk hati insani
Rasa bahagia pastilah pula di ucapkan
Objek wisata bahari berada disana sini
Didalam pantun lain banyak diceritakan

52.   Gerangan apakah para buruh harapkan
Tentulah cepat-cepat berakhirnya bulan
Wisata budaya sanagatlah menjanjikan
Wisata kuliner tidaklah pula ketinggalan            

53.   Di saat bulan besinar terang benderang
Konon ke muka bumi turun dewi asmara
Lain tempo doeloe lainlah pula sekarang
Kedamaian tetap lestari dan terpelihara
54.   Manakala bulan puasa datang menjelang
Pastilah ummat Islam menanti keberkahan
Sejarah kemakmuran silam akan terulang
Asal aparat selalu serius memberi arahan

55.   Duabelas bulan satu tahun disebutkan
Bila telaten segala hal masukkan catatan
Permohonan do’a marilah kita panjatkan
Semoga Tuhan melimpahkan keselamatan

56.   Dimulai  bulan Januari tahun di awalkan
Kelak  bulan Desember tahun di akhirkan
Pantun Mineva hingga disini kita selesaikan
Bila terdapat kekeliruan mohon dimaafkan       



Malang,  20 Septembar  2011

No comments:

Post a Comment