1. Assalamualaikum selamat bersua kembali
Selamat dan bahagia marilah kita do’akan
Bertemu subat sanak sedare senang
sekali
Pantun Maras Taun marilah kita
lanjutkan
2. Remaja cantik memakai kebaya marun
Menebarkan pesona tersenyum girang
Maras Taun adat Belitong turun
temurun
Dari zaman barik sampai masa
sekarang
3. Masa silam negeri kita penjajah kuasai
Mula berawal dari mengincar rempah
Manakala ngetam padi sudahlah
selesai
Hasil panen didapat
berlimpah-limpah
4. Pantai Widuri berdekatan Tanjung Sari
Kesana orang berwisata di akhir
pekan
Kehadapan Tuhan Yang Maha Pemberi
Ucapan terima kasih tentu
disampaikan
5. Terletak di Selat Malaka Pulau Rupat
Diseberang negeri jiran pada
kejauhan
Petanda syukur atas hasil telah didapat
Segala jerih payah mendapat
limpahan
6. Marilah tuan bermain tebak-tebakan
Apa itu tetap panjang walau
dipotong
Acara Maras Taun selalu
dilaksanakan
Dari kampong kekampong di Belitong
7. Kaki gunung berhias lembah dan lurah
Bersusun memencar bertingkat-tingkat
Semua unsur mengadakan musyawarah
Segala keputusan diambil atas
mufakat
8. Sampaikan salam sebagai kata pembuka
Hamba berpantun semoga tuan
berkenan
Ingatkah tuan akan prinsip trias
poliktika
Lurah, penghulu
dan dukun ambil peranan
9. Sampaikan salam mesra buat Halmahera
Bait-bait lagu
kenangan orang nyanyikan
Disepakati
hari, tanggal dan tempat acara
Beserta besar
kecil perayaan dilaksanakan
10. Sampaikan pula salam buat kota Langkat
Marilah
bersenandung ria merangkai kata
Dana sepenuhnya
sumbangan masyarakat
Azas kegotong
royongan terlaksana nyata
11. Senandung Melayu dari negeri Malaka
Mengapakah
adinda dikau bersedih hati
Biasa
diselenggarakan dilapangan terbuka
Baik dan buruk
cuaca diperhitungkan teliti
12. Taruh karangan bunga dalam jambangan
Bunga berwarna ungu
mengandung pesan
Panggung dan
bangsal memenuhi lapangan
Dipersolek
dengan berwarna-warni hiasan
13. Tersohor pelanduk binatang cerdik jenaka
Mengecoh kawan
maupun lawan soal biasa
Pada saat telah
disepakati perayaan dibuka
Dipimpin oleh
tiga serangkai pengelola desa
14. Inginkah macam pelanduk tuan di ibaratkan
Pandai silat
lidah cerdik berbalas omongan
Do’a selamat khusyuk
penghulu sampaikan
Kehadhirat Allah
dimohonkan perlindungan
15. Kantan anak durhaka bahteranya karam
Dikutuki dewata
akibat dari kesombongan
Supaya rangkaian
acara berjalan tenteram
Aman beserta
damai lancar tanpa halangan
16. Perhatikan Jayabaya enpunya ramalan
Ada seratus buah
petunjuk disebutkan
Daun ati-ati
serta neruse ramuan kesalan
Keseluruh
penjuru oleh dukun ditaburkan
17. Ingin bepergian ramalan cuaca indahkan
Perihal angin
berarah dan hujan tercurah
Ketupat lepas beserta
berete dihidangkan
Bersama
berjenis macam makanan daerah
18. Badai berhembus keras kapal terhempas
Terayun di laut
bak sekerat kayu belaka
Ketupat lepas
sekali tarik isi pun terlepas
Lambang
terlepas dari segala malapetaka
19. Bila
jalanan padat kendaraan tersendat
Serasa jauh
walaupun perjalanan dekat
Perpaduan serasi agama dan adat istiadat
Tidak ada
sesuatu pun halangan penyekat
20. Dikala telah tiba musim buah rambutan
Memerah terayun
di pohon siap dipetik
Dimasa silam
tidak banyak kata sambutan
Apalagi ditunggangi
kepentingan politik
21. Dimuka penghulu calon mempelai pria
Mengikrarkan
akad nikah jabat tangan
Seisi kampong
turut serta bergembira ria
Dari kampong
lainpun turut berdatangan
22. Bila tuan jadi pejabat jangan lupa daratan
Nasib rakyat
menderita tolong perhatikan
Para
penjaja turut pula ambil kesempatan
Beragam barang
dan makanan disuguhkan
23. Janganlah tutup mata berlagak pura-pura
Akan keluhan
anak negeri punya keadaan
Berduyun kumpul
memadati arena upacara
Semua golongan
menyatu tanpa perbedaan
24. Jangan bersikap tidak ingin ambil pusing
Turun kebawah
ketemu rakyat pun jarang
Hirau degau rio
campo campur baur bising
Petanda perayaan
sukses dikunjungi orang
25. Pesan hati nurani rakyat jangan diabaikan
Harus berani
selesaikan segala persoalan
Segala jenis
hiburan masyarakat tampilkan
Beripat arena
permainan adu keterampilan
26. Kalau persoalan buntu wajiblah ditembus
Keamanan dan
kemajuan tuan penuntun
Beripat beregong
serta betiong begambus
Besepen, besaer
berikut berbalasa pantun
27. Apabila tuan gagal akan luas berdampak
Situasi negeri
tentu akan menjadi senjang
Tidak
ketinggalan dulmulok serta campak
Menarik pula
acara nutok lesong panjang
28. Roda pemerintahan macet tak berjalan
Niscaya timbul
kekacauan awut-awutan
Beripat
kesenian mengadu keterampilan
Saling
berpukulan dengan tongkat rotan
29. Wahai para pemimpin dengarlah pesan
Perhatikanlah
pula akan akan kecaman
Tangan kanan
pegang rotan kiri tangkisan
Di bahagian
kepala ditutup kain pengaman
30. Luangkan kesempatan bagi perbaikan diri
Sadarkah
pemimpin bila tiap saat dituding
Memasuki
kelapangan tanding nigal menari
Mengundang
lawan masuk kearena tanding
31. Bila tuan selalu tutup telinga membarengi
Pada suatu saat
tuan pasti akan ditendang
Dari panggong
tinggi tetabuhan mengiringi
Gong, kelinang,
tawak-tawak serta gendang
32. Gajah hewan dapat diajak kerja bersama
Bekerjanya kuat
dengan memakai belalai
Di ikuti tiupan
serunai mengalun berirama
Lawan memasuhki
arena permainan dimulai
33. Putus asmara jangan rindu selalu dipikul
Bukankah dunia
tidak selebar daun kelor
Ngeripat,
ngembat, melasa pukul memukul
Sampai badan
bagian belakang balor-balor
34. Kala nasib baik telah tiba menghampiri
Niscaya
kemudian tuan merasa tenang
Banyak balor
dijadikan ukuran para juri
Jumlah balor
sedikit menjadi pemenang
35. Sejauh jauhnya tuan pergi mengembara
Kelak ke
kampung halaman pulang pasti
Seusai
bertanding pemain salaman mesra
Tiada dendam
kesumat terpendam dihati
36. Di kalbu kenangan masa lalu pasti merayu
Rasa rindu pun
tentulah datang menuntun
Betiong begambus
perminan klasik Melayu
Musik
mengiringi nyanyian syair berpantun
37. Air mata berlinang jatuh bertumpahan
Dikala
terbayang suasana di kampung
Alat musik
biola, gitar, gong dan tabuhan
Diramaikan
serunai, rebab dan ketipung
38. Pulang kampung masa tua beristirahat
Ikut membina
kampung menuju kejayaan
Pantun memuat
sindiran petuah nasehat
Terkadamg
membari’an atau percintaan
39. Mohonlah do’a terperiharalah kesehatan
Mengabdi
masyarakat janganlah lelah
Berbalas pantun
saling bersahut-sahutan
Yang tak dapat
menyahut mengaku kalah
40. Gunung Tajam lerengnya berbatu-batu
Terkumpullah
disana berbagai riwayat
Dulmulok atau
dul muluk apakah pula itu
Seni panggung bercerita tentang hikayat
41. Dari mana gunung awal mula bernama
Banyaklah
riwayat terkandung misteri
Sumber kisah
dengan saer hampir sama
Hikayat
Siti Zubaidah amatlah digemari
42. Sambil memetik gitar menyanyi bersantai
Di kawasan
Burung Mandi bukit berbatu
Seni budaya
asli penduduk Melayu Pantai
Amat terkekenal
Dulmulok daerah Belantu
43. Batu tersusun indah seakan dirapihkan
Sesekali
dipakai untuk berlatih mendaki
Teater dalam
bahasa Belitong dimainkan
Seluruh pemain pendukung
adalah lelaki
44. Di puncak bukit sebuah vihara didirikan
Tempat nan
indah tenang bersih dan asri
Gerak bahasa
lelucon sangat ditonjolkan
Mengundang
gelak tawa sampai dinihari
45. Menjadi pengantin digelari raja sehari
Mengenakan
busana berhiaskan sulam
Kesenian
besepen bernyanyi dan menari
Gerakan pencak
silat terkandung didalam
46. Seharian di pelaminan duduk bersanding
Para pemberi selamat ganti berdatangan
Tetapi bukan
mencari lawan bertanding
Sekadar seni kelincahan
kaki dan tangan
47. Nenek moyang mencatat batu dipahat
Catatan berisi
nasehat dan peringatan
Unsur budaya
Melayu masih jelas terlihat
Khususnya
Semenanjung dan Kalimantan
48. Di istana Bogor dipelihara hewan kijang
Tempat
masyarakat datang berekreasi
Bersama
kesenian nutok lesong panjang
Kelak
dikemudian hari seni dimodefikasi
49. Bagai bulan dipagari bintang semisal
Gadis cantik
tak puas mata memandang
Campak konon
dari Pulau Lingga berasal
Perempuan
berjoget sambil berdendang
50. Di
langit berjuta bintang berkelap kelip
Sungguh
amat syahdu mata memandang
Dalam
dendang untaian pantun terselip
Diiringi gesekan
biola, gong dan gendang
51. Takut hantu berlari tunggang langgang
Walaupun
menerpa onak dan rintangan
Pantun
bersindir lelaki masuk gelanggang
Mengajak
beserta berjoget berpasangan
52. Duhulu terkenal tontonan tonil komedi
Pentas para
pelawak memegang posisi
Bila lelaki
masuk berbalas pantun terjadi
Didalam bait
pantun senda gurau berisi
53. Kalau suratan nasib sudahlah begini
Tiadalah
rintihan kalbu dapat disesali
Tari dendang
berlangsung sampai dini
Diikuti tepuk
sorakan sorai ramai sekali
54. Dikala musim kemarau panjang sekali
Tentu
keringlah semua kali dan telaga
Walau asyik
keadaan selalu terkendali
Batas kesopanan
tetaplah wajib dijaga
55. Wahai sekalian kerabat berserta teman
Dalam berjuang
selalulah di garis depan
Situasi
permainan berjalan lancar aman
Tertib
tenteram sampai saat penutupan
56. Ada pohon mempelam ada pula kuweni
Pohon
mangga tumbuhnya tinggi sekali
Pantun
Maras Taun sementara sampai sini
Pada
kesempatan lain disambung kembali
Bogor, 31 Desember 2011
No comments:
Post a Comment