Wednesday, August 15, 2012

BAGIAN KEEMPATPULUH EMPAT MEMBARI’AN (8)


1.       Wahai sahabat selamat berjumpa
Salam dan hormat kami sampaikan
Semoga kita tidaklah menjadi lupa
Membari’an marilah kita lanjutkan
                                                                                                                                 
2.       Manakala rembulan bersinar purna
Tentu alam benderang tanpa lentera
Pantun lalu kita melanglang buana
Kita juga melihat sistuasi Nusantara

3.       Cahaya  menerangi seisi alam semesta
Setiap mata memandang penuh pesona
Sekarang mari kembali ke pulau tercinta
Bagaimanatah gerangan dampak susana

4.       Ananda tersayang buah hati ibunda
Jadilah semoga dikau manusia berguna
Diabad sembilanbelas Nusantara berada
Terjadi pergolakan segala macam rona

5.       Burung terbang tinggi sayap berkepak
Bersua ranting kedua kaki dihinggapkan
Suasana Nusantara tentulah berdampak
Seluruh Nusantara tentulah merasakan

6.       Jadikanlah diri manusia dersifat sabar
Jadikanlah pula sabar sifat kebiasaan
Akhir abad delapanbelas kompeni bubar
Kerajaan Belannda kendalikan kekuasaan

7.       Benua Antartika terletak dibumi selatan
Kawasan salju tidak didiami penduduk
Tahun seribu delpanratus dalam catatan
Negeri Belanda kepada Perancis tunduk

8.       Orang membuat baju mengikuti pola
Seluruh bagian badan diukur jelas
Hindia Belanda didalamnya terikut pula
Berakhir sampai delapanbelas sebelas

9.       Ukuran teratur lengkungan dan garis
Bentukan dirancang mode mutakhir
Hindia Belanda kemudian dikuasai Inggris
Delapanbelas enambelas baru berakhir

10.   Apakah gerangan yang tuan renungkan
Duduk termenung berpikiran nelangsa
Seluruh kekuasaan Inggris kembalikan
Kerajaan Belanda kembalilah berkuasa

11.   Bertanaklah dulu bila hendak makan
Ambil periuk jerangkan diatas dapur
Pada pantun berlalu telah diceritakan
Cakraningrat tujuh gugur bertempur

12.   Berkumpul bersama duduk berdiskusi
Memecahkan masalah para cendekia
Putra muda belia calon penerus generasi
Diselamatkan jiwanya  oleh pasukan setia

13.   Janganlah sampai membuka huma
Didaerah dinyatakan hutan larangan
Ki Agus Rahad putra penerus bernama
Tetap berada sehat dalam perlindungan

14.   Orang bijak menjadi pemimpin diusung
Jangan memilih pimpinan sembarangan
Delapanbelas limabelas tahun berlangsung
Jabatan depati berada dalam kekosongan

15.   Pemimpin bijak tentulah berbaik budi
Segala sesuatu dijanjikan ditepati pasti
Delapanbelas duasatu peristiwa terjadi
Ki Agus Rahad didaulat rakyat jadi depati

16.   Sopanlah bila menyatakan ucapan
Janganlah pula suka berucap usil
Depati bergelar Cakraningrat delapan
Kolonialis mendongkel tidak berhasil

17.   Piawai nian pujangga menyusun bahasa
Sungguhlah dia seorang penulis kawakan
Walau pemerintah Belanda sudah berkuasa
Namun Belitung belum dapat ditundukkan

18.   Marilah kita  jalan-jalan ke Pasar Minggu
Sambil membeli buahan serta makanan
Beberapa kali kolonialis coba mengganggu
Rakyat bersatu padu melakukan perlawanan

19.   Andaikan tuan mengunjungi pedesaan
Temuilah kepala desa langkah pertama
Disamping hasrat menegakkan kekuasaan
Menyelidiki adanya timah incaran utama

20.   Setahun sekali bermusim buah durian
Durian jatuhan sangatlah diharapkan
Depati muda usia sangat keras pendirian
Rahasia pasir timah tidaklah terbocorkan

21.   Berikan kepada hamba tali berserta takal
Keperluan mandi air akan hamba timbakan
Kolonialis Belanda tidaklah kehabisan akal
Segala tipu muslihat coba mereka lakukan

22.   Dengan handuk air dibadan keringkan
Hendaklah teratur menjaga kesehatan
Taktik mengganggu sementara dihentikan
Mereka coba melakukan taktik pendekatan

23.   Pemimpin haruslah tampil penuh wibawa
Setiap kali berpidato dihadapan majelis
Delapanbelas tigadelapan tahun peristiwa
Tepatnya tanggal satu Juli catatan menulis

24.   Setiap saat bersiap pasukan kapal armada
Berangkat bertempur tunggu ditugaskan
Adanya pemerintahan depati diakui Belanda
Dengan alasan persahabatan dialog dilakukan

25.   Janganlah sampai keonaran tuan lakukan
Oleh masyarakat tuan niscaya akan dibenci
Taktik dialog pun ternyata gagal diupayakan
Mulut depati serta rakyat bagagikan tekunci

26.   Berbahaya tuan kalau bertelinga tuli
Lebih parah lagi ditambah bermata buta
Belanda membentuk team peneliti akhli
Ditunjuklah Den Dekker menjadi anggota

27.   Kembang cempaka kembang kemboja
Ditengah taman kembang melati berada
Masuk keluar kampung mereka bekerja
Alkisah rombongan berkendaraan kuda

28.   Ikan linggang beserta ikan cempedik
Berenang bersama bitengah waduk
Konon Den Dekker Belanda penyelidik
Sangatlah piawai mendekati penduduk

29.   Didalam undang-undang hukum tertera
Kitabnya sangatlah tebal berpasal-pasal
Dari penduduk  Dekker mendengar ceritera
Perihal seorang  dari Pulau Singkep berasal

30.   Konon dizaman dahulu ada seorang raja
Menghadapi rakyatnya sangatlah ramah
Pada zaman Cakraningrat tujuh dia bekerja
Sebagai tenaga pekerja penggali bijih timah

31.   Sifat dan sikap sang raja menjadi panutan
Para menteri dan punggawa ikut melakukan
Den Dekker tidaklah membuang kesempatan
Sang mantan pekerja secepatnya didatangkan

32.   Tak disangka cempedak berbuah nangka
Tidaklah mungkin seroja berbunga melati
Dari mantan pekerja rahasia timah terbuka
Kandungan bijih timah mulai Belanda teliti

33.   Janganlah tuan sering bekerja menunda
Semua pekerjaan secepatnya selesaikan
Sungguhlah rezeki nomplok bagi Belanda
Kandungan timah tertanam tak terkirakan

34.   Segala saran baiknya tuan pertimbangkan
Berpikir mantap sebelum ambil keputusan
Penambangan tradisional mulai dilakukan
Oleh Belanda dengan semangat kerakusan

35.   Bekerjalah dengan giat sampai selesai
Selesaikanlah pekerjaan dengan sabar
Pemerintahan di Belitung mereka kuasai
Ambisi tamak didalam sanubari berkobar

36.   Tertawa terkekeh pemirsa acara parodi
Dimainkan sangat lucu oleh para artis
Delapanbelas limadua peristiwa terjadi
Belanda mengambil keputusan drastis

37.   Tarian menumbuk padi ditarikan penari
Padi ditumbuk bersama didalam lesung
Dari Keresidenan Bangka memisahkan diri
Kepada Batavia tanggung jawab langsung

38.   Dewa-dewi berdiam diatas kayangan
Sesekali kepermukaan bumi diturunkan
Pemerintahan depati dibawah bayangan
Segala peraturan penjajah menentukan

39.   Sungguh pandai sekali filsuf berfilsafat
Perbaikan budi dilakukan bermacam cara
Tahun delapanbelas limaempat depati wafat
Beliau tiadalah meninggalkan seorang putra

40.   Pemikiran buruk jangan dikembangkan
Manusia kebingungan harus dinasehati
Dua tahun kemudian barulah digantikan
Ki Agus Muhammad Saleh adinda depati

41.   Kepada tanah air marilah mengabdi
Wahai kawan handai beserta taulan
Delapanbelas limaenam tahun terjadi
Depati begelar Cakraningrat sembilan

42.   Belilah selembar cita pembuat bahan
Hati-hati jangan terbeli warna luntur
Penjajah kini memegang pemerintahan
Segala masalah daerah mereka mengatur

43.   Jagalah pemimipin martabat bangsa
Perbuatan tak terpuji jangan lakukan
Belanda sepenuhnya memegang kuasa
Penambangan timah mereka kendalikan

44.   Melanglang angkasa pesawat diterbangkan
Pada zaman dahulu tiadalah terbayangkan
Delapanbelas enampuluh maskapai didirikan
Ribuan pekerja dari negeri China didatangkan

45.   Siang dan malam tiba saling berganti
Sang waktupun beredar hari demi hari
Setelah tujuhbelas tahun menjadi depati
Cakraningrat sembilan mengudurkan diri

46.   Kehidupan didunia ini tiadalah abadi
Camkanlah ini wahai anak manusia
Delapanbelas tujuhtiga tahun terjadi
Tiga tahun kemudian beliau tutup usia

47.   Aduhai nasib kasihan anak yatim piatu
Tiada tempat berpaut hidup pun merana
Akan halnya Hindia Belanda pada saat itu
Di kota Batavia mendirikan sebuah istana

48.   Harum semerbak bunga wijaya kusuma
Dimasa kini bunga ini sudahlah langka
Istana Gambir pada awalnya bernama
Sekarang ini dinamakan Istana Merdeka

49.   Dikala mendengar lagu selendang sutera
Perjuangan dimasa lampau kita diingatkan
Cakraningrat sembilan tak memiliki putra
Jabatan depati oleh penjajah dihapuskan

50.   Aduhai gelapnya malam tanpa bintang
Tentu lebih gelap kalau tanpa rembulan
Duaratus limapuluhlima tahun terbentang
Cakraningrat satu sampai dengan sembilan       

51.   Gunung Payung gersang lereng berbatu
Disana sini bertumbuhan liar pohon jelai
Enambelas delapanbelas Cakraningrat satu
Kiai Gegedeh Yakup depati awal memulai

52.   Mak Inang tentu berbalas pantun mahir
Dalam ucapan sarat makna kata ibarat
Cakraningat sembilan jadi depati terakhir
Delapanbelas tujuhtiga kalender tersurat

53.   Berbalas pantun bermain kata dan lidah
Bagai peluru melesat dari mulut tercurah
Pemerintahan Cakraningrat ditutup sudah
Tertinggal dalam catatan mengukir sejarah

54.   Masa  menugal dihuma bibit padi disemai
Diatur teratur berbarisan memenuhi lahan
Rakyat hidup aman tenteram serta damai
Sampai penjajah menguasai pemerintahan

55.   Beramai mengetam padi di Simpang Rusa
Berukuran gantang hasil ketaman dihitung
Selanjutnya pemerintah Belanda berkuasa
Memegang otoritas pemerinthan Belitung

56.   Kasihan ejekan bagi orang bertubuh kurus
Walaupun sehat dikatakan kurang makan
Penggalian pasir timah ditingkatkan terus
Secara moderen penambangan dilakukan

57.   Dasar mulut usil suka melemparkan ejekan
Orang  badan gemuk dikatakan seperti gajah
Ke Negeri Belanda tentunya hasil dikirimkan
Untuk membangun mahligai negeri penjajah

58.   Dengarlah suara gendang bertalu-talu
Mari bededang ria kita  turut bergabung
Pantun membari’an cukuplah sekian dulu
Pada pantun mendatang kelak disambung



Bogor,  06 Agustus  2011

No comments:

Post a Comment