Friday, August 3, 2012

BAGIAN KELIMAPULUH ENAM LEGENDA - KIK CUAN (2) – Habis


1.       Salam sejahtera pertama kami haturkan
Semoga perjumpaan kita selalu berkesan
Pantun legenda Kik Cuan mari lanjutkan
Ceritera perjuangan pendekar Pelulusan

2.       Seraya berdendang menabuh gendang
Sahut bersahutan sya’ir bertukar-tukar
Kik Cuan manula sehat perawakan sedang
Tidak bongkok tetapi bebadan tegap kekar

3.       Wahai sekalian sahabat selamat datang
Mari kita berdendamg di malam panjang
 Berkumis putih merunduk tak melintang
Janggut putih dibiarkan terus memanjang

4.       Lepaskan kepiluan janganlah menyiksa
Ayolah menghibur diri bergurau canda
Kepala nyaris gundul sedikit uban tersisa
Kulit keriput tibanya usia lanjut petanda

5.       Kadang dalam dendang nasehat tersirat
Perbuatan kebajikan janganlah ditinggal
Pada masa tua kakek pemakan sirih berat
Gigi terpelihara utuh tak satu pun tanggal

6.       Masa ini ada dendang basah-basah serak
Sambil berjingkrak dendang dinyanyikan
Sirih tidak dikunyah tapi dihaluskan urak
Urak hadiah nakhoda kakek manfaatkan

7.       Masa dulu orang menembang kidung
Duduk tertib memakai busana surjan
Menempati pondok tempat berlindung
Dari terpaan angin, panas beserta hujan

8.       Bagaimana pula dendang tarian Melayu
Para pria rapih berbusana teluk belanga
Pondok sedehana berlantai  belahan kayu
Dinding kulit kayu berapit beratap nanga

9.       Melihat kucing datang tikus pun berlari
Pergi bersembunyi ke liang yang dalam
Pondok yang sama berdiri pula kanan kiri
Tempat bila tamu menumpang bermalam

10.   Zaman yang silam orang menenun kain
Kain sutra ditenun dari kepompong ulat
Halaman luas tempat anak-anak bermain
Kadang untuk membela diri berlatih silat

11.   Terbang di udara burung punai sepasang
Capek terbang hinggap di pohon beringin
Adakala nya bermain kuda pelepah pisang
Diajar pula oleh kakek membuat penangin

12.   Manakala mentari menjelang terbenam
Megiring corak warna warni cakrawala
Berjenis pisang sekitar pondok ditanam
Bila menebang anak-anak kebagian pula

13.   Angin silir semilir bertiup pelan menerpa
Menyapu seluruh tubuh terasa merambat
Kakek santun kepada siapa saja menyapa
Kepada semua anak-anak menjadi sahabat

14.   Konon nyaman dirujak mempelam pauh
Pohon tinggi tempat serangga bersarang
Kala sang kakek hendak berpergian jauh
Ciri dandanan khas mudah dikenal orang

15.   Diiwaktu bulan gelap menyuluh ketam
Asyik tak terasa subuh menjelang siang
Pakai baju warna merah bercelana hitam
Terbungkus rapih sarung setengah tiang

16.   Berlomba burung beterbangan datang
Bila sebatang pohon tumbuhnya rindang
Pada bagian kepala selalu terikat getang
Bungkusan bekal di bahu selalu disandang

17.   Gambang Semarang tarian berlenggang
Hati tertarik gerak gerik tukang gendang
Perangkat urak terselip pula di pinggang
Melangkah tegap waspada arah pandang

18.   Manakala dilanda badai perahu di lautan
Kesana kemari gelombang menghempas
Kepada  sang istri t Kik Cuan berpamitan
Restu tentu diberikan sang suami dilepas

19.   Oleh bantuan gaib perahu diselamatkan
Ke arah pulau penumpang didamparkan
Keluar pondok kaki kanan dilangkahkan
Ke arah timur langkah tegap diayunkan

20.   Gagah pasukan tempur bebanjar bersama
Manakala telah ditabuh genderang perang
Kala itu malam lima belas bulan purnama
Suasana alam tentulah terang benderang

21.   Layar terkembang perahu pun melaju
Cuaca cerah angin berembus sempurna
Genting Apit kawasan perjalanan dituju
Konon kawanan limpai penguasa disana

22.   Konon candi terindah candi Prambanan
Dari kejauhan puncak tertinggi kelihatan
Melalui belantara  sepanjang perjalanan
Bagi Kik Cuan bukanlah sesuatu kesulitan

23.   Kejam ibu tiri tidaklah sekejam ibukota
Demikian sindiran kiasan berpandangan
Bagaikan berlenggang di tanah yang rata
Semak dan onak tidak menjadi halangan

24.   Burung merpati berkasihan dua sejoli
Terbang tinggi melayang diatas kota
Berjalan dalam belantara cepat sekali
Tak disadari Genting Apit didepan mata

25.   Konon burung garuda burung perkasa
Memililik bulu berwarna-warni indah
Bau angit di hidung menyengat terasa
Agaknya intel limpai mengendus sudah

26.   Zaman kini berjamaah orang korupsi
Kalau di negeri lain pasti dihukum mati
Intel limpai amatlah canggih beroperasi
Semua gerak di belantara dipantau teliti

27.   Menggerogoti duit negara bagai hama
Perbuatan korupsi sama dengan pencuri
Tiba-tiba sebuah suara datang menggema
Hai kakek tua gerangan apa yang kau cari

28.   Bagaikan buaya siap mengintai di kali
Menerkam mangsa menggunakan seni
Dengan tenang Kik Cuan cepat menimpali
Gerangan siapakah penguasa di daerah ini

29.   Para koruptor mengintai piti matanya jeli
Macam keluang mengincar buah kuweni
Terdengar suara jawaban sombong sekali
Limpai sakti pemegang kekeuasaan disini

30.   Jangan tuan suka memasang janji dusta
Janji dusta belakang hari jadi bumerang
Belum sempat Kik Cuan balas jawab kata
Sekejap mata bagaikan badai menyerang

31.   Satukan hati dan mulut tanpa tekanan
Jangan munafik dengan berkata “tidak”
Secepat kilat kakek putar badan kekanan
Beliau terhindar dari serangan mendadak

32.   Bila ketahuan korupsi tidak mengaku tentu
Didepan sidang pengadilan berelak melulu
Siluman gadok telah memulai jurus kesatu
Untung Kik Cuan pendekar waspada selalu

33.   Jika tuan tak mau dihampiri derita merana
Selalulah tuan berusaha diri hidup mandiri
Gadok siluman entahlah melesat kemana
Sang kakek hanya sekadar menghindar diri

34.   Tuan dihormati bila selalu berlaku lurus
Haidarkan dari segala perilaku tidak elok
Memang gadok empunya bermacam jurus
Tetapi hanya satu arah tidak bisa berbelok

35.   Konon jikalau  tuan sering berfikir keras
Masih berusia muda sudah tumbuh uban
Hanyalah mengandalkan terpaan deras
Untuk berbalik kembali amatlah lamban

36.   Apa gerangan maknanya ada reformasi
Bilamana masih banyak rakyat melarat
Kini Kik Cuan dan siluman berganti posisi
Sang kakek di timur gadok siluman di barat

37.   Mengejar materi bagaikan lari berlomba
Semua cari celah memperkaya diri sendiri
Gadok siluman kembli menyerang tiba-tiba
Kik Cuan menhindar memutar  badan kekiri

38.   Berkumpul pasukan kala ditiup sangkakala
Tinggalkan malam sonsonglah adibangkit
Jurus ke dua dari sang siluman gagallah pula
Kik Cuan dengan tenang berdiri diatas bukit

39.    Berlatih tembak tepat membidik  sasaran
Pikiran pusatkan laras senapang arahkan
Membuat siluman menjadi  kesal penasaran
Tak mungkin bangsa limpai dapat dikalahkan

40.   Sekawan burung merpati hinggap di menara
Terbang kemana saja sungguh amat leluasa
Kini sang limpai memilih pertempuran udara
Dengan cepat melambung tinggi ke angksasa

41.   Dalam lautan berjenis ikan mencari makan
Turut beserta pula berjenis cumi dan gurita
Senjata asap dari mulut limpai hembuskan
Benderang bulan jadi tertutup gelap gulita

42.   Menyelam di lautan dalam menburu lokan
Terkadang lokan menyelip hidup di karang
Sarung pelekat di pinggang Kik Cuan libaskan
Asap tersisih alam kembali terang benderang

43.   Dikala matahri terbit sang malam tinggalkan
Embun bertebaran tanda hari sudahlah pagi
Jurus ke tiga limpai dapat Kik Cuan hindarkan
Sekarang jurus ke empat limpai mencoba lagi

44.   Janganlah korupsi nanti tuan dipenjarakan
Menghuni hotel prodeo dalam waktu lama
Dari mulut limpai  ribuan tikus dihamburkan
Limpai-limpai kecil menyerbu bersama-sama

45.   Diantara koruptor dan pencuri berbeda tipis
Sama-sama pemaling yang harus di basmi
Dengan tangan sebelah kiri sang kakek tepis
Tepisan maut semua tikus mati jatuh kebumi

46.   Pantai tergenang dikala laut naik pasang
Gravitasi bulan mentari konon berimbas
Jurus ke lima disemburkan ribuan musang
Kini tangan pakai kanan pendekar melibas

47.   Bila tak pandai bual jangan jadi politikus
Membohongi rakyat sungguhlah ganas
Musang dimusnahkan menyusul sang tikus
Pertempuran udara bertambah memanas

48.   Berlaku pura-pura manis dikala menyapa
Ucapan dan perbuatan tidaklah menyatu
Limpai siluman semakin perkasa menerpa
Kini posisi mereka di antara dua bukit batu

49.   Ucapan dan perangai jauh daripada lurus
Bersilat lidah adalah perbutan sehari-hari
Kik Cuan tidaklah membuka satu pun jurus
Dalam pertempuran hanya menghidar diri         

50.   Berkoak-koak di televisi bagaikan bermusik
TIdakkah sadar diri ucapan tak orang sukai
Sekilas Kik Cuan mendengar suara membisik
Suara membisik urak nye kik lum ikam pakai

51.   Janji bohong belaka sehari-hari diucapkan
Lebih-lebih di kala masa pemilu menjelang
Diatas pusatnye mate urak ikam tunjamkan
Pertempuran terus  saling silang menyilang

52.   Mau jadi anggota parlemen mereka berebut
Segala muslihat mencapai tujuan dihalalkan
Dengan sigap mata urak secepatnya dicabut
Manakala bersilang mata urak dibunjamkan      

53.   Di ladang tempat petani bercocok tanam
Sesekali ke hutan mencari hewan buruan
Tepat di pusar limpai mata urak tertanam
Limpai jatuh ke bumi darah berhamburan

54.   Manakala sebuah kapal badai melanggar
Kadang karam ke dasar laut hilang lenyap
Bumi Genting Apit bagai hempas begegar
Tetapi seketika suasana jadi sunyi senyap

55.   Burung kakatua terbang ke atas jendela
Nenek tua nampak ompong saat tertawa
Bulan menyelinap bumi kembali sedia kala
Bagai tak pernah terjadi sesuartu peristiwa

56.   Mendaki tebing tinggi tentulah tak mudah
Merayap paut berpautan berikatkan tali
Sekarang ini limpai jahat musnahlah sudah
Penduduk hidup aman tenteram kembali

57.   Bila tuan membeli maggis di Simpang Rusa
Janganlah lupa membeli pula buah delima
Kik dan nek Cuan melakukan kegiatan biasa
Menolong sesama pekerjaan paling utama

58.   Kereta kencana ditumpangi baginda raja
Berjalan pelan  ditarik delapan ekor kuda
Kisah Kik Cuan pendekar ditutup disini saja
Apapun cerita terkisah hanya suatu legenda

59.   Kuda balap berlari deras manakala dipacu
Berlomba di arena balap berlari berkejaran
Cerita dari datuk nenek sampai ke anak cucu
Menjadi nasehat dalam membela kebenaran

60.   Sangatlah merdu nian suara burung kenari
Bersiul menyanyi menyambut udara pagi
Akhir kata kami mohon permisi undur diri
Pada pantun lain semoga kita bertemu lagi

Bogor,  28 Januari 2012

No comments:

Post a Comment