1. Salam sejahtera pertama kami haturkan
Semoga perjumpaan kita selalu
berkesan
Pantun legenda Kik Cuan mari
lanjutkan
Ceritera
perjuangan pendekar Pelulusan
2. Seraya berdendang menabuh gendang
Sahut
bersahutan sya’ir bertukar-tukar
Kik Cuan
manula sehat perawakan sedang
Tidak
bongkok tetapi bebadan tegap kekar
3. Wahai sekalian sahabat selamat datang
Mari kita berdendamg
di malam panjang
Berkumis putih merunduk tak melintang
Janggut
putih dibiarkan terus memanjang
4. Lepaskan kepiluan janganlah menyiksa
Ayolah
menghibur diri bergurau canda
Kepala
nyaris gundul sedikit uban tersisa
Kulit
keriput tibanya usia lanjut petanda
5. Kadang dalam dendang nasehat tersirat
Perbuatan kebajikan
janganlah ditinggal
Pada masa
tua kakek pemakan sirih berat
Gigi terpelihara
utuh tak satu pun tanggal
6. Masa ini ada dendang basah-basah serak
Sambil
berjingkrak dendang dinyanyikan
Sirih tidak
dikunyah tapi dihaluskan urak
Urak hadiah
nakhoda kakek manfaatkan
7. Masa dulu orang menembang kidung
Duduk
tertib memakai busana surjan
Menempati
pondok tempat berlindung
Dari
terpaan angin, panas beserta hujan
8. Bagaimana pula dendang tarian Melayu
Para pria
rapih berbusana teluk belanga
Pondok
sedehana berlantai belahan kayu
Dinding
kulit kayu berapit beratap nanga
9. Melihat kucing datang tikus pun berlari
Pergi
bersembunyi ke liang yang dalam
Pondok yang
sama berdiri pula kanan kiri
Tempat bila tamu
menumpang bermalam
10. Zaman yang silam orang menenun kain
Kain sutra ditenun
dari kepompong ulat
Halaman luas
tempat anak-anak bermain
Kadang
untuk membela diri berlatih silat
11. Terbang di udara burung punai sepasang
Capek
terbang hinggap di pohon beringin
Adakala nya
bermain kuda pelepah pisang
Diajar pula
oleh kakek membuat penangin
12. Manakala mentari menjelang terbenam
Megiring
corak warna warni cakrawala
Berjenis
pisang sekitar pondok ditanam
Bila
menebang anak-anak kebagian pula
13. Angin silir semilir bertiup pelan menerpa
Menyapu
seluruh tubuh terasa merambat
Kakek
santun kepada siapa saja menyapa
Kepada
semua anak-anak menjadi sahabat
14. Konon nyaman dirujak mempelam pauh
Pohon
tinggi tempat serangga bersarang
Kala sang
kakek hendak berpergian jauh
Ciri
dandanan khas mudah dikenal orang
15. Diiwaktu bulan gelap menyuluh ketam
Asyik tak
terasa subuh menjelang siang
Pakai baju
warna merah bercelana hitam
Terbungkus
rapih sarung setengah tiang
16. Berlomba burung beterbangan datang
Bila
sebatang pohon tumbuhnya rindang
Pada bagian
kepala selalu terikat getang
Bungkusan
bekal di bahu selalu disandang
17. Gambang Semarang tarian berlenggang
Hati
tertarik gerak gerik tukang gendang
Perangkat
urak terselip pula di pinggang
Melangkah
tegap waspada arah pandang
18. Manakala dilanda badai perahu di lautan
Kesana
kemari gelombang menghempas
Kepada sang istri t Kik Cuan berpamitan
Restu tentu
diberikan sang suami dilepas
19. Oleh bantuan gaib perahu diselamatkan
Ke arah
pulau penumpang didamparkan
Keluar
pondok kaki kanan dilangkahkan
Ke arah
timur langkah tegap diayunkan
20. Gagah pasukan tempur bebanjar bersama
Manakala
telah ditabuh genderang perang
Kala itu
malam lima belas bulan purnama
Suasana
alam tentulah terang benderang
21. Layar terkembang perahu pun melaju
Cuaca cerah
angin berembus sempurna
Genting
Apit kawasan perjalanan dituju
Konon
kawanan limpai penguasa disana
22. Konon candi terindah candi Prambanan
Dari
kejauhan puncak tertinggi kelihatan
Melalui
belantara sepanjang perjalanan
Bagi Kik
Cuan bukanlah sesuatu kesulitan
23. Kejam ibu tiri tidaklah sekejam ibukota
Demikian
sindiran kiasan berpandangan
Bagaikan
berlenggang di tanah yang rata
Semak dan
onak tidak menjadi halangan
24. Burung merpati berkasihan dua sejoli
Terbang
tinggi melayang diatas kota
Berjalan
dalam belantara cepat sekali
Tak
disadari Genting Apit didepan mata
25. Konon burung garuda burung perkasa
Memililik
bulu berwarna-warni indah
Bau angit
di hidung menyengat terasa
Agaknya
intel limpai mengendus sudah
26. Zaman kini berjamaah orang korupsi
Kalau di
negeri lain pasti dihukum mati
Intel
limpai amatlah canggih beroperasi
Semua gerak
di belantara dipantau teliti
27. Menggerogoti duit negara bagai hama
Perbuatan
korupsi sama dengan pencuri
Tiba-tiba
sebuah suara datang menggema
Hai kakek
tua gerangan apa yang kau cari
28. Bagaikan buaya siap mengintai di kali
Menerkam
mangsa menggunakan seni
Dengan
tenang Kik Cuan cepat menimpali
Gerangan
siapakah penguasa di daerah ini
29. Para koruptor mengintai piti matanya jeli
Macam
keluang mengincar buah kuweni
Terdengar
suara jawaban sombong sekali
Limpai
sakti pemegang kekeuasaan disini
30. Jangan tuan suka memasang janji dusta
Janji
dusta belakang hari jadi bumerang
Belum
sempat Kik Cuan balas jawab kata
Sekejap
mata bagaikan badai menyerang
31. Satukan hati dan mulut tanpa tekanan
Jangan
munafik dengan berkata “tidak”
Secepat
kilat kakek putar badan kekanan
Beliau
terhindar dari serangan mendadak
32. Bila ketahuan korupsi tidak mengaku tentu
Didepan
sidang pengadilan berelak melulu
Siluman
gadok telah memulai jurus kesatu
Untung
Kik Cuan pendekar waspada selalu
33. Jika tuan tak mau dihampiri derita merana
Selalulah
tuan berusaha diri hidup mandiri
Gadok
siluman entahlah melesat kemana
Sang
kakek hanya sekadar menghindar diri
34. Tuan dihormati bila selalu berlaku lurus
Haidarkan
dari segala perilaku tidak elok
Memang
gadok empunya bermacam jurus
Tetapi
hanya satu arah tidak bisa berbelok
35. Konon jikalau tuan sering berfikir keras
Masih
berusia muda sudah tumbuh uban
Hanyalah mengandalkan
terpaan deras
Untuk
berbalik kembali amatlah lamban
36. Apa gerangan maknanya ada reformasi
Bilamana
masih banyak rakyat melarat
Kini Kik
Cuan dan siluman berganti posisi
Sang kakek di
timur gadok siluman di barat
37. Mengejar materi bagaikan lari berlomba
Semua cari
celah memperkaya diri sendiri
Gadok siluman
kembli menyerang tiba-tiba
Kik Cuan menhindar
memutar badan kekiri
38. Berkumpul pasukan kala ditiup sangkakala
Tinggalkan
malam sonsonglah adibangkit
Jurus ke dua dari
sang siluman gagallah pula
Kik Cuan dengan
tenang berdiri diatas bukit
39. Berlatih tembak tepat membidik sasaran
Pikiran
pusatkan laras senapang arahkan
Membuat siluman
menjadi kesal penasaran
Tak mungkin
bangsa limpai dapat dikalahkan
40. Sekawan burung merpati hinggap di menara
Terbang kemana
saja sungguh amat leluasa
Kini sang
limpai memilih pertempuran udara
Dengan cepat
melambung tinggi ke angksasa
41. Dalam lautan berjenis ikan mencari makan
Turut beserta
pula berjenis cumi dan gurita
Senjata asap
dari mulut limpai hembuskan
Benderang bulan
jadi tertutup gelap gulita
42. Menyelam di lautan dalam menburu lokan
Terkadang lokan
menyelip hidup di karang
Sarung pelekat
di pinggang Kik Cuan libaskan
Asap tersisih
alam kembali terang benderang
43. Dikala matahri terbit sang malam tinggalkan
Embun
bertebaran tanda hari sudahlah pagi
Jurus ke tiga
limpai dapat Kik Cuan hindarkan
Sekarang jurus
ke empat limpai mencoba lagi
44. Janganlah korupsi nanti tuan dipenjarakan
Menghuni hotel
prodeo dalam waktu lama
Dari mulut
limpai ribuan tikus dihamburkan
Limpai-limpai
kecil menyerbu bersama-sama
45. Diantara koruptor dan pencuri berbeda tipis
Sama-sama
pemaling yang harus di basmi
Dengan tangan
sebelah kiri sang kakek tepis
Tepisan maut
semua tikus mati jatuh kebumi
46. Pantai tergenang dikala laut naik pasang
Gravitasi bulan
mentari konon berimbas
Jurus ke lima disemburkan
ribuan musang
Kini tangan
pakai kanan pendekar melibas
47. Bila tak pandai bual jangan jadi politikus
Membohongi
rakyat sungguhlah ganas
Musang
dimusnahkan menyusul sang tikus
Pertempuran
udara bertambah memanas
48. Berlaku pura-pura manis dikala menyapa
Ucapan dan
perbuatan tidaklah menyatu
Limpai siluman
semakin perkasa menerpa
Kini posisi
mereka di antara dua bukit batu
49. Ucapan dan perangai jauh daripada lurus
Bersilat lidah
adalah perbutan sehari-hari
Kik Cuan
tidaklah membuka satu pun jurus
Dalam
pertempuran hanya menghidar diri
50. Berkoak-koak di televisi bagaikan bermusik
TIdakkah sadar
diri ucapan tak orang sukai
Sekilas Kik
Cuan mendengar suara membisik
Suara membisik
urak nye kik lum ikam pakai
51. Janji bohong belaka sehari-hari diucapkan
Lebih-lebih di
kala masa pemilu menjelang
Diatas pusatnye
mate urak ikam tunjamkan
Pertempuran
terus saling silang menyilang
52. Mau jadi anggota parlemen mereka berebut
Segala muslihat
mencapai tujuan dihalalkan
Dengan sigap
mata urak secepatnya dicabut
Manakala
bersilang mata urak dibunjamkan
53. Di ladang tempat petani bercocok tanam
Sesekali ke
hutan mencari hewan buruan
Tepat di pusar
limpai mata urak tertanam
Limpai jatuh ke
bumi darah berhamburan
54. Manakala sebuah kapal badai melanggar
Kadang karam ke
dasar laut hilang lenyap
Bumi Genting
Apit bagai hempas begegar
Tetapi seketika
suasana jadi sunyi senyap
55. Burung kakatua terbang ke atas jendela
Nenek tua
nampak ompong saat tertawa
Bulan
menyelinap bumi kembali sedia kala
Bagai tak
pernah terjadi sesuartu peristiwa
56. Mendaki tebing tinggi tentulah tak mudah
Merayap paut
berpautan berikatkan tali
Sekarang ini
limpai jahat musnahlah sudah
Penduduk hidup
aman tenteram kembali
57. Bila tuan membeli maggis di Simpang Rusa
Janganlah lupa
membeli pula buah delima
Kik dan nek
Cuan melakukan kegiatan biasa
Menolong sesama
pekerjaan paling utama
58. Kereta kencana ditumpangi baginda raja
Berjalan
pelan ditarik delapan ekor kuda
Kisah Kik Cuan
pendekar ditutup disini saja
Apapun cerita
terkisah hanya suatu legenda
59. Kuda balap berlari deras manakala dipacu
Berlomba di
arena balap berlari berkejaran
Cerita dari
datuk nenek sampai ke anak cucu
Menjadi nasehat
dalam membela kebenaran
60. Sangatlah
merdu nian suara burung kenari
Bersiul menyanyi menyambut udara pagi
Akhir kata kami
mohon permisi undur diri
Pada pantun lain
semoga kita bertemu lagi
Bogor, 28
Januari 2012
No comments:
Post a Comment