Friday, May 11, 2012

CATATAN PENUNAIAN IBADAH HAJI TAHUN 1428 H / 2007 M (Bagian 1)





MENGERJAKAN HAJI ADALAH KEWAJIBAN MANUSIA TERHADAP ALLAH, YAITU (BAGI) ORANG YANG SANGGUP MENGADAKAN PERJALANAN KE BAITULLAH
(QS Ali Imran 97)
SEMPURNAKANLAH HAJI DAN UMRAH KARENA ALLAH
(QS Al Baqarah 196)
IKUTKANLAH ANTARA HAJI DAN UMRAH, KARENA SESUNGGUHNYA KEDUANYA ITU, MENGUSIR KEMISKINAN DAN DOSA, SEBAGAIMANA DAPUR TUKANG BESI, MENGUSIR KOTORAN BESI, EMAS DAN PERAK. TIADA PAHALA HAJI MABRUR KECUALI SURGA.
(Hadits diriwayatkan oleh Nasai dan Turmudzi)
Alhamdulillah aku beserta istri dan anak serta menantu-ku, jadi kami ber-empat  memenuhi undangan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menunaikan ibadah haji ke Makkah Al Mukarramah tahun 1428 H/2007 M, walaupun pada masa itu aku sudah berusia lanjut, 70 tahun, sesungguhnya segala sesuatu terlaksana atas izin-Nya juga.
Agar dapat mengenang kembali pelaksanaan perjalanan menunaikan ibadah haji 1428 H/ 2007 M tersebut, maka kutuangkan dalam catatan dibawah ini.
Mohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala bila dalam catatan ini terdapat kesalahan ataupun kekeliruan, hal semacam itu terjadi semata-mata kesalahan hamba. Amin Ya Rabbal Alamin.
Catatan ini ditulis dalam beberapa bagian sebagai berikut :
BAGIAN KESATU
MANASIK HAJI
Manasik artinya bimbingan tata cara beribadah, jadi Manasik Haji adalah bimbingan tentang tata cara mengerjakan ibadah haji.
Kami bergabung didalam rombongan KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) Daarut Tuahiid Bandung dibawah pimpinan KH Abdullah Gymastiar (Aa Gym), dengan nomor porsi  :
1.       Endah Kania Hidayat (1000095852) -  Menantu
2.       Fajar Surya                   (1000095912) -  Anak
3.       Abdullah Hamid          (1000095918) -  Aku
4.       Siti Aminah                  (1000095923) -  Istri (Umak)
Adapun manasik haji diselenggarakan pra menunaikan ibadah haji, selagi masih berada di Indonesia. Di KBIH Daarut Tauhid diadakan pada jadwal yang ditetapkan di Jakarta dan Bandung, dengan mengambil tempat antara lain di Auditorium Gedung F Departemen Pertanian Jakarta (7 kali pertemuan), Gedung Pertemuan Bank Indonesia ( 1 kali pertemuan), Gedung Departemen Pekerjaan Umum (4 kali pertemuan), semuanya di Jakarta dan di Pasentren Daarut Tauhiid Bandung (Manasik Qubro, 2 kali pertemuan). Semua  rangkaian kegiatan manasik dilakukan sebanyal 14 kali secara bertahap mulai tanggal 21 Juli 2007 (di Auditorium Depertemen Pertanian) dan diakhiri di Pesantren Daarut Tanhud Bandung tanggal 10 dan 11 Nopember 2007.
Catatan : Rombongan Jamaah Haji KBIH Daarut Tauhiid tahun 2007 sebanyak 607 orang, berkurang dibanding dengan tahun 2006, sebanyak 1.006 orang.

Jamaah haji KBIH Daarut Tauhiid dipecah ikut dalam dua kloter yaitu kloter 82 dan 83, masing-masing bergabung dengan jamaah dari KBIH lainnya. Kami tergabung dalam kolter 83, dari KBIH Daarut Tauhaiid rombongan V. Setiap kloter terdiri dari 450 jamaah, dipimpin seorang ketua kloter dibantu beberapa orang petugas yang ditetapkan oleh pemerintah (Departemen Agama).
Kami jamaah di KBIH Daarut Tauhiid dibagi dalam 6 rombongan yang masing-masing dipimpin seorang ketua rombongan (karom) yang dibagi pula dalam regu-regu yang dipimpin seorang ketua regu(karu), kami termasuk dalam rombungan V (lima). Adapun ketua rombongan ditentukan oleh KBIH, sedangkan ketua regu dipilih/ditetapkan sendiri oleh masing-masing regu, semua karom dan karu masih berusia muda.

***
Kondisi fisik-ku sebenarnya dalam keadaan tidak begitu prima. Sehabis melaksanakan ibadah puasa Ramadhan 1428 H, aku sempat melaksanakan shalat Idul Fitri di Lapangan Sempur Bogor pada hari Jum’at tanggal 12 Oktober 2007, dilanjutkan dengan melakukan rangkaian kegiatan keluarga. Dua minggu kemudian tanggal 27 Oktober 2007 saat diadakan silaturrahmi rombongan V jamaah haji Daarut Tauhiid di Bintaro (Jakarta) Fajar, Endah dan Umak hadir, sedangkan aku tak dapat hadir karena kurang sehat.
Tanggal 06 Nopember 2007, hari Selasa ketika sedang berada di rumah Fajar di Depok aku jatuh sakit, dan dirawat di RS Bakti Yudha Depok selama 4 hari sampai Jum’at tanggal 09 Nopember 2007, padahal hari Sabtu tanggal 10 Nopember harus mengikuti Manasik Qubro di Bandung. Dokter kemudian mengizinkan pulang, dengan catatan jangan beraktivitas terlalu aktif, karena kondisi fisik masih lemah.
Memang hari-hari belakangan ini kesehatan-ku sering terganggu, beberapa bulan sebelumnya operasi batu ginjal di RS Ongkomulyo Jakarta dan beberapa hari dirawat di RS Azra Bogor. Sampai hari-hari menjelang keberangktan ke Makkah pun masih harus konsultasi ke dokter RS Azra dan kebetulan dokter tempat berkonsultasi seorang haji, sehingga aku dapat banyak petunjuk dan didoa’kan oleh beliau. Kemudian hari dokter rombongan haji pun, menasehatkan agar selama melakukan ibadah haji aku harus diawasi terus oleh Fajar. Bagi kami alhamduliilah tak mendapat kesulitan karena kami berangkat haji berempat.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pelindung dan Maha Penolong, kelak ternyata pada saat-saat melaksanakan rangkaian ibadah haji Alhamdulillah kondisi badanku dalam keadaan sehat tanpa gangguan yang berarti, walaupun sehabis sakit dan memang usia sudah lanjut, sesungguhnya Dia telah melimpahkan barokah dan rahmat-Nya. Amin Ya Rabbal Alamin.
***
Tanggal 10 dan 11 Nopember 2007, hari Sabtu dan Ahad, melakukan manasik Qubro di Bandung. Pagi Sabtu kami berkumpul di Gedung Departemen Pertanian Jakarta dan sekitar pukul 08.00 diberangkatkan dengan rombongan bus ke Bandung, dan langsung menuju komplek Pesantren Daarut Tauhiid yang terletak di daerah Geger Kalong Girang. Suatu komplek pesantren yang menempati tanah luas lengkap dengan masjid, gedung tempat belajar, gedung pertemuan, swalayan, toko buku dan sebagainya. Belum lagi masyarakat yang membuka warung makanan dan segala macam kebutuhan disekitarnya. Ada pula rumah-rumah yang kamarnya dapat disewa sebagai penginapan, khususnya bagi orang berkunjung ke pesantren Daarut Tauhiid.
Kami ditempatkan dalam tenda-tenda yang dibangun menyerupai kemah-kemah di Padang Arafah dan Mina. Agak sore hujan mengguyur kota Bandung dengan lebatnya, hingga aku menggigil kedinginan. Fajar mengambil inisiatif menyewa sebuah rumah/kamar  dan menempatkan aku disana, karena tak mungkin bertahan di tenda dalam kondisi seperti itu, apalagi sehari sebelumnya aku baru keluar dari perawatan di rumah sakit.
Hari Ahad kami diberangkatakan ke sebuah lapangan yang terletak sekitar 3 Km dari pesantren dengan berjalan kaki, tentu dengan maksud melatih jamaah dalam menghadapi rangkaian pelaksanaan ibadah haji di Makkah, Arafah dan Mina nanti. Disana telah didirikan miniatur dari Ka’bah dan Jamrah. Kami berlatih tawaf, sa’i dan melontar jamrah ditempat ini. Siangnya kami pulang kembali ke Jakarta.
Pada tanggal 17 Nopember 2007 hari Sabtu, bertempat di  Masjid Al Rohmah Bantar Jati Bogor diadakan Walimatus Safari bersama jamaah setempat yang akan menunaikan ibadah haji 1428 H, yaitu  ibu Uci (Y.Nurhayati), ibu Jumain (Supriyati), ibu Baharudin (Sumirah) serta kami suami istri, semuanya 5 orang. Hadir sekitar 200 undangan.
Ibu-ibu yang 3 orang akan berangkat lebih dahulu bersama rombongan jamaah haji Bogor, pada gelombang I (satu) menuju Madinah, sedangkan kami masih menunggu lama, karena diberangkatkan dalam gelombang II (dua) menuju Makkah, kloter 83, kloter terakhir beberapa hari menjelang pelaksanaan wukuf. Waktu menunggu masih panjang, masih sekitar satu bulan lagi (kami berangkat tanngal 14 Desember 2007).
Tanggal 09 Desember 2007 hari Ahad, di rumah Bantar Jati diselenggarakan selamatan beserta keluarga. Hadir antara lain adik-adikku seperti Hj. Hamidah (Ida Rani Hamid), Hj. Latifah Hamid beserta suaminya H. Amsar Turmudi, Hj. Wardah Hamid (suaminya H. Hasan tak dapat hadir karena sedang sakit, belakangan ketika kami sedang di Makkah mendapat kabar bahwa beliau wafat), H. Abdul Hadi Hamid berserta  istrinya Hj. Neneng, Kokom Komariah Hamid, Abdul Gani Hamid dan lain-lain. Hadir pula anak-anak beserta cucu-cucu kami beserta menantu kami H. Monang Hasibuan dan Firmansyah. Tausiyah haji dan do’a disampaikan oleh H. Amsar Turmudi.
***

BAGIAN KEDUA
SELINTAS KENANGAN PERJALANAN HAJI INDONESIA
Masyarakat Nusantara telah melakukan perjalanan haji ke Makkah sejak pada zaman dahulu, setidaknya sejak agama Islam masuk ke Nusantara yang diperkirakan mulai abad ke-7 Masehi. Perjalanan pada ketika itu tentu sangatlah berat. Sebelum ada hubungan laut “langsung” ke tanah Arab, orang melakukan perjalanan ke Makkah melalui jalur darat setelah menyeberang ke tanah Semenanjung atau ke tanah Hindustan (India), dari sana mengikuti kafilah berjalan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun baru tiba ke tanah Arab, dengan tantangan banyak resiko sepanjang perjalananan. Akan tetapi minat masyarakat Islam untuk menunaikan ibadah haji sangatlah tinggi hingga sampai pada zaman sekarang perjalananan ibadah haji telah dapat dilaksanakan melalui jalur udara.
Pada masa selanjutnya masyarakat telah dapat melakukan perjalanan (pelayaran) dengan perahu layar lansung ke pelabuhan Jeddah dan dilanjutkan dengan kafilah ke Makkah, kemudian ke Arafah dan Mina, selanjutnya ke Madinah. Dari Madinah balik lagi ke Jeddah, baru pulang ke Nusantara, perjalanan masih juga memakan waktu berbulan-bulan.
Para wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa tentulah pergi menunaikan ibadah haji ke Makkah dengan caranya sendiri-sendiri dan mempergunakan sarana yang ada pada masa masing-masing. Konon Sunan Gunungjati menunaikan ibadah haji pada tahun 1521 dengan mempergunakan perahu layar yang memakan waktu perjalanan sampai dua tahun.
Menurut sebuah tulisan pemeluk agama Islam yang pertama kali di tanah Sunda adalah Bratalegawa putra kedua Prabu Guru Pangandiparamarta Jayadewabrata atau Sang Bunisora penguasa kerajaan Galuh. Beliau adalah seorang saudagar yang sering melakukan pelayaran ke Sumatra, Cina, India, Srilanka, Iran sampai ke tanah Arab. Beliau menikah dengan seorang muslimah dari Gujarat dan melalui pernikahan ini Bratalegawa memeluk agama Islam. Sebagai orang pertama kali menunaikan ibadah haji di kerajaan Galuh, beliau dikenal dengan sebutan Haji Purwa.
Dr. Haji Abdul Malik Karim Amarullah yang lebih terkenal dengan panggilan Buya Hamka menunaikan ibadah haji pada tahun 1927 dengan kapal laut melalui pelabuhan Belawan (Medan), memakan waktu 16 hari baru tiba di pelabuhan Jeddah. Hal ini sangat mungkin dilakukan mengingat pelabuhan Belawan sudah sejak zaman dahulu dimanfaatkan, seperti halnya pelabuhan Sunda Kelapa dan Tanjung Periuk di Jakarta. Begitu pula dengan pelabuhan lainnya di kawasan Aceh yang kemudian terkenal dengan sebutan Serambi Makkah.
Dr. Ir. H. Soekarno (Bung Karno) presiden pertama Repubik Indonesia menunaikan ibadah haji pada tahun 1955 dengan pesawat udara, dan seperti yang dituturkannya kepada Cindy Adams dalam bukunya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, beliau berhaji tepat pada hari Jum’at, maka beliau mendapat gelar Haji Akbar.
Jamaah haji Indonesia diberangkatkan dengan pesawat udara mulai tahun 1952, disamping masih ada yang diberangkatkan dengan kapal laut, dan mulai tahun 1975 semuanya telah diberangkatkan dengan pesawat udara.
Pada awalnya dahulu perjalanan haji dilakukan sendiri-sendiri dengan cara masing-masing atau dilakukan secara berkelompok melalui pesanteren dan kelompok-kelompok pengajian yang ada di daerah-daerah dan pemberangktan pun langsung dari daerah masing-masing atau kota pelabuhan yang terdekat.
Melihat keadaan itu pemerintah Hindia Belanda kemudian memfasilitasi perjalanan haji dengan kapal laut. Disamping untuk mengambil hati ummat Islam di Nusantara, pemerintah kolonial Belanda menjaga atau mencegah jangan sampai terjadinya intrik ekstrem atau radikal yang memasuki jamaah haji khususnya selama berada di Makkah yang bergaul dengan masyarakat internsional dari berbagai negeri pada masa itu. Dengan fasilitas yang dikoordinir oleh pemerintah (Hindia Belanda) semuanya itu dengan sendirinya dapat di kontrol. Kemudian dibuatlah berbagai peraturan perjalanan haji antara lain melalui ordonansi 1825, dimana perjalanan haji diawasi secara ketat dengan bermacam cara.
Kecurigaan Belanda terhadap ummat Islam di Nusantara memang sudah berlangsung sejak lama, paling tidak sejak Sultan Agung Mataram menyerang Batavia pada tahun 1628 yang mengakibatkan terbunuhnya Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen, disusul oleh perlawanan pada abad-abad berikutya seperti terjadinya Perang Aceh, Perang Padri, Perang Diponegoro dan sebagainya, yang semuanya dipelopori oleh umat Islam.
Pada tahun 1912 KH Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah, dan melalui organisasi ini beliau mendirikan Badan Penolong Haji yang di ketuai KH Muhammad Sujak. Badan inilah yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya badan pengurusan haji yang diselenggarakan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu.
***
Menurut penuturan almarhum kekekku dari pihak ibu, Haji Abdul Gani, yang menunaikan ibadah haji pada sekitar awal abad ke-20 (aku kurang tahu tahun berapa tepatnya), sekitar awal-awal Ibnu Saud merebut kekuasaan tanah Arab dari dinasti Rashidi, atas bantuan kaum Wahabi. Pada saat itu unta masih berperan sebagai transport bagi jamaah haji selama berada di tanah Arab. Pergi naik haji bermula naik kapal laut dari Tanjung Pandan (Belitung) ke Batavia (Jakarta), lalu naik kapal laut ke Singapura, dan dari sana naik kapal laut ke Jeddah. Didalam pelayaran ibunda beliau (beliau naik haji bersama ibunya) wafat dan dimakamkan di Laut Sakotra.
Para jamaah haji pada ketika itu ditempatkan di pemondokan para Syekh (semacam maktab sekarang ini). Kota Makkah sebagian masih merupakan gurun pasir, Safa dan Marwah masih terpisah dari Masjidil Haram, sehingga pelaksanaan sa’i masih dilakukan diatas lapangan. Air di pemondokan para Syekh di suplai didalam semacam tong yang diangkut oleh himar (keledai). Sumur zamzam masih berada ditempat terbuka dan cara mengambil airnya diciduk dengan timba. Peran orang Badwi sangat diperlukan sekali dalam kegiatan ini dan segala kegiatan lainnya. Pada saat pelaksanaan tawaf dan sa’i bagi jamaah lansia dan uzur dapat disewa tandu yang dipikul oleh dua orang didepan dan belakang, bahkan ada yang digendong (istilah kakekku diambin). Kini kegiatan semacam ini dilakukan dengan korsi roda yang banyak dapat disewa di Masjidil Haram.
Yang menarik perjalanan dari Makkah, ke Arafah, Muzdalifah, Mina, pergi pulang dilakukan oleh jamaah haji dengan naik unta, terutama untuk jamaah haji usia lanjut dan uzur, dan banyak pula yang berjalan kaki. Lebih mengesankan lagi perjalanan dari Makkah ke Madinah yang jaraknya hampir 500 Km, pun dilakukan dengan naik unta yang tergabung dalam barisan kafilah yang panjang. Penumpang naik diatas sekedup, semacam pelana, tempat duduk yang dibuat dari kayu yang dipasang di punggung unta. Dapat dibayangkan jika setiap unta ditumpangi dua orang, berapa ekor unta yang diperlukan dan berapa panjang pula barisan kafilahnya. Semua jamaah haji ketika itu berangkat langsung ke Makkah, melalui pelabuhan Jeddah, tidak ada yang ke Madinah dulu, begitu pula pulang dari Madinah, khususnya jamaah haji Indonesia (Hindia Belanda masa itu) naik kapal lewat pelabuhan Jeddah.
Lain lagi cerita almarhumah embahku (dari pihak ayah) Nyi Hajjah Rukoyah dari Cibarusah (Jawa Barat), beliau naik haji sekitar awal abad ke-20 juga, sekeluarga belasan orang mengikuti ayahanda beliau H. Muhammad Hussain. Beliau anak yang paling kecil dan belum menikah, maksud keluarga besar tersebut ingin mukim di Makkah untuk beberapa musim haji (pada masa itu jamaah boleh mukim). Di Makkah keluarga H. Muhammad Hussain berkenalan dengan seorang pemuda dari Betawi bernama H. Abdul Majid, yang telah beberapa tahun lebih dahulu mukim di Makkah untuk menuntut ilmu. Singkat cerita setelah selesai ibadah haji, embah Nyi Hajjah Rukoyah dinikahkan dengan pemuda H. Abdul Majid. Tetapi sayang pernikahan ini tidak bertahan lama, konon ayahanda dari H. Abdul Majid yaitu H. Abdul Somad di Betawi tidak merestui pernikahan itu, alasannya anaknya dikirim ke Makkah untuk menuntut ilmu, bukan untuk mencari istri. Pasangan muda ini akhirnya berpisah (cerai) setelah Nyi Hajjah Rukoyah melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Abdul Hamid (ayahku).
Selang beberapa musim haji setelah itu, kekuasaan kerajaan Arab beralih dari dinasti Rashidi kepada dinasti Saud, jamaah haji asal Jawi (maksudnya Jawa) dan beberapa negeri lainnya yang bermukim diperintahakan meninggalkan Makkah. Keluarga H. Muhammad Hussain memilih meninggalkan Makkah melalui jalur darat, membawa antara lain ayahku Abdul Hamid yang ketika itu masih berusia balita. Entah beberapa negara mereka lalui, pakaian pun sudah compang camping, kehabisan uang, kadang hidup dari belas kasihan orang sepanjang perjalanan. Akhirnya mereka sampai ke sebuah kota pelabuhan yang terletak di pantai selatan India. Disini H. Muhammad Hussain berkenalan dengan seorang saudagar asal Borneo (sekarang Kalimantan) yang berkenan mengongkosi rombongan keluarga tersebut naik kapal laut sampai ke Pulau Jawa. Menurut cerita embahku, semua ongkos tersebut diganti oleh H. Muhammad Hussain setiba di kampung halaman.
Pamanku H. Abdul Halim Majid dari Jakarta yang naik haji pada dekade 1960-an masih mengalami haji laut (dengan kapal laut), tetapi dua orang saudara-nya yang lain yaitu H. Abdul Syukur Majid yang naik haji pada dekade 1970-an dan H. Abdul Munif Majid  dekade 1980-an sudah haji udara. Ibu Masturah, istri H. Abdul Syukur pada ketika itu tidak dapat diberangkatkan karena selama ditampung di asrama haji mendadak jatuh sakit.
Pemeriksaan kesehatan bagi jamaah haji sejak dulu memang cukup ketat, yang sebelum pemberangkatan kedapatan sakit atau wanita yang sedang hamil, dibatalkan keberangkatannya. Pasal masih banyak yang wafat waktu menunaikan ibadah haji, baik karena sakit setelah tiba di Tanah Suci, atau diakibatkan kelelahan, pengaruh cuaca atau akibat dari kecelakaan, semuanya atas ketentuan dari Allah SWT. Sesungguhnya hanya Dia-lah Yang Maha Mengetahui dan Maha Menentukan.
Begitu pula manakala Allah SWT berkenan mengundang seseorang untuk berkunjung ke Tanah Suci menunaikan ibadah haji berbagai cara atau jalan dilimpahkan-Nya atas hamba-Nya. Dahulu di kampungku hidup seorang janda tua yang setiap hari berjualan kueh titipan orang keliling kampung, dari kehidupannya yang miskin tidak mungkinlah beliau dapat melaksanakan ibadah haji. Beliau mempunyai keterampilan lain yaitu pandai memijat badan orang, semua penduduk kampung mengetahui akan hal ini. Alkisah pada suatu waktu datang ke kampung kami seorang muballigh Arab yang tinggal di Makkah dan sempat berada dikampung kami beberapa lama untuk berdakwah. Suatu ketika sang muballigh merasakan seluruh tubuhnya ngilu dan penat, orang menganjurkan agar dipijat oleh ibu tua tadi, tetapi sang muballigh menolak karena tubuh lelaki diraba-raba seorang perempuan yang bukan muhrim adalah terlarang walaupun dia sudah tua. Ketika rasa ngilu dan penat tak tertahan akhirnya sang muballigh mau dipijat sang nenek, dengan syarat janda tua itu dinikahinya lebih dahulu. Alhasil nenek dinikahkan dengan sang muballigh, dan jadilah nenek seorang istri yang dengan bebas memijat muballigh kapan saja dikehendaki.
Selang beberapa waktu kemudian sang muballigh pulang ke Makkah, dan sang nenek sebagai seorang istri dibawa serta. Sempat beberapa musim haji berada disana dan ikut menunaikan ibadah haji bersama sang muballigh, sampai pada suatu saat sang nenek merasa rindu kampung dan ingin pulang. Hal itu disampaikan pada suaminya dan sang muballigh yang baik hati pun tidak berkeberatan bahkan mengongkosinya untuk pulang sampai ke kampung. Setibanya di kampung tentu dengan status hajjah beliau sangat dihormati orang dan menjalani hayat beberapa tahun lagi sebelum wafat.
Cerita-cerita diatas adalah beberapa contoh apabila Allah SWT menghendaki semuanya bisa terjadi. H. Muhammad Hussain yang pergi melakukan ibadah haji dengan rombongan keluarga besar tentulah bukan orang miskin, tetapi Allah SWT berkehendak lain, situasi di Makkah menyebabkan mereka harus meninggalkan kota suci itu lewat jalur darat, hidup merana sepanjang perjalanan, kehabisan belanja dan dalam keadaan compang camping hidup dari belas kasihan di negeri orang, katakanlah sebagai peminta-minta, kontras sekali dengan keadaan mereka sesungguhnya yang di negerinya hidup dalam kondisi berkecukupan. Allah SWT telah menyadarkan mereka bahwa beginilah rasanya hidup orang miskin, hidup dari belas kasihan orang lain.
Sebaliknya nenek janda tua miskin penjual kueh mendapat anugerah dari Allah SWT, dalam usianya yang sudah tua, dinikahi muballigh Arab, dibawa ke Makkah dan diajak menunaikan ibadah haji, sesuatu hal yang tidak mungkin dan tidak direncanakan.
Begitu pula dengan ibu Masturah yang telah direncanakan dan telah siap untuk berangakat haji, tiba-tiba jatuh sakit ketika berada di asrama haji, maka keberangktannya dibatalkan.
Direncanakan atau tidak direncanakan, kaya ataupun miskin, sehat wal’afiat ataupun uzur, tua ataupun muda, segala perjalanan hidup berada dalam genggaman Allah SWT, apa yang dikendaki oleh-Nya pasti terjadi, sesungguhnya Dia Yang Maha Mengetahui, Maha Mengatur, Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha Penolong.
Contoh lebih nyata terjadi pada diriku, aku dapat undangan dalam usia yang telah lanjut, sebaliknya dalam rombongan kami terdapat sejumlah anak-anak muda yang dalam kondisi prima, kami bergabung bersama menunaikan ibadah haji karena pada waktu yang bersamaan kami mendapat undangan dari Allah SWT untuk mengunjungi tanah suci, tiada perbedaan antara yang tua dengan yang muda, semunya sama dihadapan-Nya, manakala Dia menghendaki sesuatu semuanya pasti terjadi. Alhamdulillah.
Almarhum H. Abdul Said Manan (dari Belitung) yang naik haji dekade ujung 1970-an, tidak mengikuti rombongan haji Indonsia, tetapi mengurus sendiri via Singapura dengan pesawat udara, beliau bercerita masih ditampung di pemondokan seorang Syekh yang baik bernama Damanhuri.
Dekade 1960-an pemberangkatan haji dengan cara diundi, seorang kenalan-ku Pak Hadis asal Madura yang berminat naik haji suami istri beberapa kali gagal, akhirnya ketika dapat awal 1970-an ongkos  naik haji (ONH) telah melambung tinggi, hingga cukup untuk naik haji seorang dan berangkatlah ibu Hadis sendirian.
***
Pada zaman penjajahan Jepang dan masa pergolakan peberangkatan jamaah haji terhalang, konon banyak jamaah Indonesia yang pergi haji dengan cara sembunyi-sembunyi dengan perahu layar.
Kesimpulannya pada kurun waktu apapun, dalam situasi bagaimana pun, perang apalagi damai, semangat ummat Islam untuk menunaikan ibadah haji ke Makkah tetap selalu menggebu-gebu, tidak luntur walaupun menghadapi segala resiko, tantangan, rintangan dan halangan.
Setelah masa kemerdekaan, pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama (kemudian berobah jadi Departemen) memfasilitasi pemberangkatan haji dengan berbagai cara sejak dari pembentukan Yayasan Penyelenggara Haji Indonesia (YPHI) hingga sistem KBIH seperti sekarang ini.
Pasal terjadi banyak kekurangan, kita dapat memaklumi bahwa mengurus hal yang cukup rumit bukanlah sesuatu yang mudah, tetapi waktu demi waktu kita harapkan adanya perbaikan-perbaikan, buktinya pada pelaksanaan haji tahun 1428 M/2007 H dinilai cukup memuaskan bahkan sebuah pemberitaan media melansir yang terbaik sejak 16 tahun terakhir.
Telah terjadi perbaikan yang cukup drastis bila dibandingkan dengan penyelenggaraan haji tahun sebelumnya (2006) yang mendapat banyak sorotan negatif terutama sekali dalam bidang katering. Sebaiknya pelayanan katering diserahkan pada pemerintah Saudi Arabia saja, karena mereka tentu sangat memahami situasi lokal terutama harga bahan makanan untuk konsumsi para jamaah. Pemerintah Indonesia selaku tamu cukup melayani ketertiban adiministrasi dan dokumen saja.
Entah pada tahun 2007 ini katering ditangani oleh siapa, tetapi kami menyaksikan sendiri situasi dapur umum di Mina yang dikerjakan oleh pekerja yang berbahasa Arab, dimana didirikan tungku-tungku masak besar dan panci-panci berdiameter besar pula dengan bahan bakar kayu bahkan sebagiannya akar-akar pohon besar entah dari mana mereka peroleh. Pelayanan pembagian makananan pun cukup teratur dilayani anak-anak muda lelaki Arab usia belasan tahun. Pelaksanaan haji tahun 2007 ini patut dijadikan contoh penyelenggaran haji pada tahun-tahun berikutnya, paling tidak dalam hal urusan kateringnya.
Pemberangkatan jamaah haji Indonesia dewasa ini diatur lewat embarkasi-embarkasi, semula hanya lewat embarkasi, bandara internsional Kemayoran (Jakarta, sebelum ada Bandara Soekarno-Hatta), kemudian lewat Soekarno-Hatta. Pada dewasa ini di beberapa kota di Indonesia telah terdapat bandara dengan status internasional, maka untuk praktis dan menampung minat membeludaknya niat umat Islam Indonesia untuk menunaikan ibadah haji khususnya daerah, maka oleh pemernitah ditetapkan beberapa bandara untuk embarksi (pemberangkatan) jamaah haji. Pada tahun 2000 terdapat 7 embarkasi, 2001 s/d 2003 ada 8 embarkai, 2004 s/d 2005 ada 9 embarkasi, dan mulai tahun 2006 hingga sekarang terdapat 11 embarkasi yang meliputi bandara Soekarno-Hatta (Jakarta), Juanda (Surabaya), Hassanuddin (Makassar), Polonia (Medan), Sepinggan (Balikpapan), Adi Sumarmo (Solo), Sultan Iskadar Muda (Aceh), Hang Nadim (Batam),Syamsuddin Noor (Banjarmasin), Minangkabau (Padang) dan Sultan Mahmud Badaruddin II (Palembang).
Pemberangkatan dari Indonesia semula menyinggahi beberapa bandara/kota, untuk menambah bahan bakar pesawat seperi Kolombo (Srilanka), New Delhi (India), Muskat (Oman) dan lain-lain, tetapi kini langsung dari Indonesia ke Jeddah atau Madinah.
Jumlah jamaah yang menunaikan ibadah haji dari seluruh dunia diwasa ini konon telah mencapai lebih dari 3 juta orang. Indonesia sendiri mendapat jatah yang disebut kwota sekitar 220.000 orang atau kira-kira satu permil dari jumlah penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Bayangkan betapa padatnya kota Makkah pada saat-saat orang menunaikan ibadah haji. Pemerintah Saudi Arabia terus menerus berusaha memperluas Masjidil Haram dan arealnya untuk dapat menampung semuanya itu.
Jamaah haji Indonesia pun terus menerus berlimpah, konon yang sekarang telah terdaftar di Departemen Agama untuk masa haji sampai 10 tahun mendatang. Kita do’akan supaya perluasan  Masjidil Haram maupun arealnya oleh pemerintah Saudi Arabia berhasil dengan baik, kwota haji Indonesia akan bertambah serta perbaikan sistem pengelolaan oleh pemerintah Indonsia sendiri, sehingga orang telah mendaftar untuk menunaikan ibadah haji tak usah menunggu berpuluh tahun lagi untuk dapat diberangkatkan. Insya Allah.
Walaupun obyek dan pelaksanaan ritualnya tetap sama, tetapi situasi kondisi dari zaman ke zaman bahkan dari tahun ke tahun berbeda, apalagi akhir-akhir ini pemerintahan Kerajaan Saudi Arabia giat melakukan pembangunan fisik diseluruh negeri, terutama tempat-tempat yang ada hubunganannya dengan pelaksanaan ibadah haji dan tempat-tempat yang banyak dikunjungi orang dalam rangka  melaksanakan ibadah haji. Hal ini mendukung perbedaan situasi dan kondisi yang di dilihat dan dialami para jamaah, hingga cerita masing-masing akan berbeda pula.
Misalnya cerita dari jamaah haji tahun 2006 akan berbeda dengan jamaah tahun 2007 dan seterusnya, apalagi beda dekade dan beda zaman. Cerita jamaah haji ketika masih zaman kapal laut tentu berbeda dengan jamaah zaman pesawat udara. Cerita orang menunaikan ibadah haji dalam usia yang telah lanjut seperti aku, akan berbeda dengan cerita anak-anak muda yang fisik-nya masih kuat, begitu pula cerita jamaah yang ikut gelomang I (satu) yang ke Madinah lebih dulu, akan beda dengan cerita jamaah yang ikut gelombang II (dua) ke Makkah lebih dulu, sesuai dengan apa yang dialami oleh masing-masing. Tetapi apapun situasinya, tetapi obyek dan pelaksanaan ritualnya tetap sama, karena sudah merupakan ketentuan tetap dan pasti berlaku sepanjang zaman, menurut tatacara dan pedoman yang ditetapkan dalam Al Qur’an dan Hadist.
***
BAGIAN KETIGA
BERANGKAT KE TANAH SUCI
Tanggal 12 Desember 2007, hari Rabu, bakda Isya’ sekitar pukul 20.00 WIB, aku dan Umak dijemput oleh Fajar untuk berkumpul di rumahnya di Depok (Fajar dan keluarga tinggal di Depok dan kami suami istri di Bogor), karena keesokan harinya, kami akan bersama-sama berangkat ke Asrama Haji Bekasi bergabung bersama jamaah haji Indonesia embarkasi bandara Soekrno-Hatta kloter 83.
Di rumah Perumnas Bantar Jati Bogor dengan diiringi sholawat dan do’a kami dilepas oleh ibu-ibu pengajian dibawah pimpinan Ibu Hajjah Nur Yuli (ibu Hambali ) yang antara lain dihadiri oleh ibu Eman Sulaiman, ibu Saptadi, bapak Jumain (istrinya telah berangkat duluan ke Makkah ikut gelombang satu) dan beberapa tetangga kami lainnya. Tiba di Depok sekitar pukul 22.00 dan kami bermalam disana.




Tanggal 13 Desmber 2007, hari Kamis pulul 05.30 kami berempat berangkat dari rumah Fajar naik taksi ke Masjid At Tin TMII Jakarta tempat jamaah Daarut Tauhiid kloter 83 berkumpul, dengan dilepas oleh besan kami ibu Hajjah Titi Hidayat dan cucu-cucu kami Fakhri dan Fahmi.
Tiba di Masjid At Tin sekitar pukul 06.30, disana telah menunggu tiga orang anak kami Cahya Surya, Tanti Surya dan Vista Surya berama suaminya H. Monang Hasibuan, untuk melepas kami. Di masjid At Tin kami menunggu sampai pukul 09.30 dan dari sini diberangaktkan dengan dengan bus ke Asrama Haji Bekasi.
Tiba di Asrama haji Bekasi (Jawa Barat) pukul 10.30 menempati kamar A1/102. Pemeriksaan kesehatan tidak ada problem, disertai oleh nasehat dokter seperti dimuat dalam buku kesehatan haji. Kemudian bagi living cost masing-masing Rs. 1.500,- (seribu lima ratus real).
Sorenya di Asrama Haji kami dikunjungi adik-adik yaitu Hj. Hamidah beserta anaknya Ira, Hj. Latifah, Hj. Wardah,  H.Abdul Hadi beserta istrinya Hj. Neneng, Hj. Nenah Hasanah, Abdul Muis dan Kokom Komariah.
Di Asrama haji banyak digelar dagangan seperti oleh-oleh Makkah yang dapat dibeli disini dan penukaran uang rupiah ke real, atau sebaliknya.

Tanggal 14 Desember 2007, hari Jum’at, pukul 06.30, diberangkatkan dengan bus dari Arama Haji ke Bandara Soekarno-Hatta, tiba pukul 08.15. Semua koper milik jamaah telah dibawa dan dimasukkan ke pesawat lebih dahulu, yang dibawa jamaah hanyalah tas tentengan yang berisi barang-barang kebutuhan seperlunya.
Rombongan mengambil pelaksanaan HAJI TAMATTU’ , jadi mengerjakan umrah lebih dahulu, baru mengerjakan haji. Ihram umrah dan shalat dua rakaat dilakukan di bandara Soekarno-Hatta. Sebelum naik pesawat kami harus antri cukup lama untuk penyelesaian dokumen, kemudian baru naik ke pesawat.
Pukul 09.45 tinggal landas dari bandara Soekarno-Hatta dengan pesawat Saudi Air Lines menuju Jeddah, Saudi Arabia. Penerbangan haji ini adalah gelombang II (dua), kloter 83, Nomor Flight SV.5021.
Negeriku Indonesia tercinta untuk sementara waktu ditinggalkan dulu dan kita mulai mengayunkan langkah dengan diiringi ucapan BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM.
***

BAGIAN KEEMPAT
TIBA DI TANAH SUCI
 Aku dan Fajar  dapat tempat duduk di kursi bagian kiri pesawat, deretan paling belakang disudut (pojok) dekat jendela dengan kaca yang terang, sehingga dapat bebas dan nyaman melihat pemandangan alam dari atas pesawat, tempat dudukku bernomor 371. Umak dan Endah dapat tempat duduk dideretan tengah. Karena terbang kearah barat, pesawat berada di udara pada waktu siang hari terus sampai ke Jeddah.
Di pesawat dibagikan beberapa kali makanan terdiri dari nasi dan lauk pauk yang cukup baik, dan tentu saja minuman. Dari layar televisi dapat dipantau keadaan cuaca dan informasi sekarang kita berada dimana, diatas udara negara apa. Di-informasi-kan pula setiap tiba waktu shalat, hingga jamaah dapat melakukan shalat ditempat duduk masing-masing setelah tayamum.



Pesawat mendarat di King Abdul Aziz International Airport (KAAIA) sekitar pukul 16.00 waktu setempat (sekitar pukul 20.00 WIB) setelah lebih kurang 9-10 jam terbang. Karena agak lelah aku tak sempat lagi membandingkan dengan bandara Soekarno-Hatta, yang jelas pesawat baik yang mendarat maupun yang parkir di landasan banyak sekali dengan identitas  dan bendera dari berbagai negara, walaupun pada saat itu sudah mendekati penutupan bandara menjelang pelaksanaan ibadah haji. Konon kloter 83 merupakan pesawat haji terakhir yang terbang dari Indonesia (tak ada kloter lain lagi dibelakangnya). Terkesan petugas keamanan maupun petugas pelayanan bandara (mungkin bea cukai, aku tak bisa membedakannya) bersikap cukup ramah, berbeda dari kesan angker seperti sering diceritakan orang, atau mungkin karena kami tiba pada saat-saat  jelang penutupan bandara hingga pemeriksaan tidak begitu ketat lagi, demikian pula pengurusan barang bawaan (koper) relatif tidak sulit kendati agak berebutan (dimana-mana pun lazimnya begitu). Alhasil prosedur di bandara cukup cepat dan lancar. Alhamdulillah.
Yang terasa lama adalah menunggu pemberangkatan dari bandara KAAIA ke Makkah, semua jamaah nampak tidak sabar. Sambil menunggu banyak diantara rekan-rekan jamaah yang menawarkan makanan yang mereka bawa, tetapi selain di pesawat telah mendapat makan, perut pun tak merasa lapar, yang terpikir hanya ingin cepat-cepat melihat kota Makkah, Kota Suci yang menjadi tujuan.
Akhirnya setelah menunggu selama hampir tiga jam di bandara KAAIA (setelah shalat maghrib berjamaah) sekitar pukul 19.00 kami diberangkatkan menuju Makkah dengan kendaraan bus (rombongan/konvoi). Perjalanan terasa lamban (sholat isya’ di kendaraan/bus), selain karena padatnya lalu lintas kendaraan, juga bus sering berhenti di tempat yang ramai.  Yang menarik pada setiap perhentian, berloncatan orang (tidak jelas orang Arab atau bukan, apa lagi banyak diantaranya yang berkulit agak gelap) yang umumnya berbahasa Arab, dan ada pula yang sepatah-sepatah berucap dalam bahasa Indonesia atau Melayu atau Inggris. Tetapi jangan kaget mereka bukan ingin ngamen seperi di banyak kota di Indonesia, tetapi mereka membagikan kurma dalam kemasan plastik atau kotak dan air mineral, sambil berucap  Assamualaikum Andunisi (mungkin maksudnya Indonesia, karena melihat penampilan fisik kami), selamat haji,….mabrur, …. mabrur, ….gratis, … syukron, …. syukron, …. dan seterusnya tidak jelas, campur-campur bahasa Arab, kadang bahasa Inggris dan Indonesia. Kalau kita mau, mereka memberikan dua tiga paket atau lebih dari sebotol air mineral, tapi mana tahan gimana bawanya. Buktinya banyak jamaah yang meninggalkannya di bus waktu turun di maktab, terkesan mubazir.
Memasuki kota Makkah banyak jamaah menangis tersedu-sedu, tak terkecuali aku, berlinang air mata, rasanya bagaikan mimpi hadir di Kota Suci, kota tempat lahirnya Rasulullah SAW, dan wahyu Illahi pertama diterima oleh beliau. Terima kasih Ya Allah, Engkau telah mengundang kami berkunjung ke Kota Suci Makkah Al Mukarramah untuk menunaikan Ibadah Haji dan memberikan ridha-Mu, tibanya kami di Kota Suci Makkah Al Mukarramah ini berkat izin-Mu pula. Segala puji bagi-Mu Ya Allah, dan salam serta shalawat bagi junjungan kami Nabi Besar Muhammad SAW. Amin,….Amin,…. Amin,…. Ya Rabbal Alamin.  Alhamdulillah.
***
Agak membingungkan, bus putar-putar kota Makkah cukup lama, tetapi maktab yang dituju tak ketemu. Tertulis di buku pedoman yang diterbitkan Daarut Tauhiid alamat maktab adalah Sib ‘Amir – Maktab 7 Nomor 130 dan 133, tetapi pengemudi bus yang ditugaskan dan seharusnya sudah diberi tahu sebelumnya seperti tidak mengetahui alamat itu. Kami semua gelisah apalagi hari kian bertambah larut, yang menjadi kesulitan karena diantara kami tidak ada yang bisa berbahasa Arab, sehingga tidak dapat bertanya kepada penemudi, apakah gerangan yang telah terjadi. Entah bagaimana gerangan awalnya, salah seorang jamaah (atau beberapa orang) berinisiatif mengumpulkan sejumlah uang (real) dari para jamaah, dan setelah terkumpul dengan khidmat dipersembahkan kepada sang pengemudi. Sehabis terima real, sang pengemudi bangkit dari tempat duduknya dan mengangkat kedua belah tangannya, mengacungkan kedua jempolnya sambil berkata,….. Indonesia bagus, …. syukron,… (aku terhenyak, dan tak dapat berucap apa-apa, hamya terpikir didalam hati, o, begini rupanya….). Bus kemudian dihentikan dan pengemudi turun sejenak (entah untuk apa), kemudian naik kembali dan kendaraan bergerak, dalam waktu yang tak begitu lama maktab yang dicari pun ketemu. Ternyata alamatnya di kawasan Maabdah (teman-teman ada yang berseloroh maaf deh), Ya Allah ampuni kami, kata itu terucap hanya karena kami (bukan orang  seorang) dalam keadaan kelelahan dan spontan, mudah-mudahan tidak disengaja, dan apabila disengaja sekali lagi ampunilah kami. Tempat ini memang maktab 7 dengan nomor 130 dan 133, namun bukan di Sib Amir seperti tertulis didalam buku pedoman tetapi di kawasan Maabdah. Mungkin karena kesalahan koordinasi dari panitia penyelenggara ataupun keliru tulis, semuanya bisa terjadi, manusia tidak sempurna, tidak lepas dari sifat khilaf. Ya Allah ampunilah mereka dan ampunilah kami semua. Kawasan Maabdah terletak sekitar 3 Km dari Masjidil Haram, sedangkan Sib Amir terletak lebih dekat sekitar sepertiganya, hal ini kami ketahui belakangan setelah beberapa hari berada di kota Makkah.
Saat tiba di maktab hari telah menjelang tengah malam dan kami ditempatkan di maktab 7/133, tidak begitu jauh letaknya dari maktab 7/130. Tempatnya lebih kecil hanya 4 lantai jauh lebih kecil dari maktab 7/130 yang berlantai belasan, tetapi belakang hari ternyata tempat ini banyak hikmahnya buat kami.  Alhamdulillah.
***
BAGIANN KELIMA
UMRAH
Ada banyak Buku Bimbingan Manasik Haji yang diterbitkan oleh berbagai pihak yang pada umumnya isi, tujuan dan hakikatnya sama, akan tetapi karena Penyelengaraan Ibadah Haji di Indonesia dikoordinir oleh Departemen Agama Republik Indonesia, maka Buku Bimbingan Manasik Haji yang diterbitkan oleh Departemen Agama lah yang kita pakai sebagai pedoman.
Didalam Buku Bimbingan Manasik Haji tahun 2007 yang diterbitkan oleh Departemen Agama Republik Indonsia, buku A.2  halaman 11 tentang pengertian dari pada UMRAH disebutkan :
UMRAH :
Pengertian Umrah :  Umrah ialah berkunjung ke Baitullah, dengan melakukan tawaf, sa’i dan bercukur demi mengharap ridha Allah.
Hukum Umrah :  Hukum umrah wajib sekali seumur hidup. Umrah dilakukan dengan berihram dari miqat, kemudian tawaf, sa’i dan diakhiri dengan memotong rambut/bercukur (tahallul umrah) dan dilaksanakan dengan berurutan (tertib). Umrah terbagi menjadi 2 (dua) umrah wajib dan umrah sunat.
1.       Umrah Wajib.
a. Umrah yang pertama kali dilaksanakan disebut juga Umratul Islam.
b. Umrah yang dilaksanakan karena nazar.
2.       Umrah sunat ialah umrah yang dilaksanakan setelah umrah wajib baik yang kedua kali dan seterusnya dan bukan karena nazar.
Waktu mengerjakan Umrah :  Umrah dapat dilaksanakan kapan saja. Hanya ada beberapa waktu yang dimakruhkan melaksanakan umrah, yaitu pada saat jamaah haji wukuf di Arafah, hari Nahar (10 Dzulhijjah) dan hari Tasyriq.
Rukun Umrah :
1.       Ihram (niat)
2.       Tawaf
3.       Sa’i
4.       Cukur
5.       Tertib (melaksanakan ketentuan manasik sesuai aturan yang ada).
Rukun umrah tidak dapat ditinggalkan. Bila tidak terpenuhi, maka umrahnya tidak sah.
Wajib Umrah :  Ialah berihram dari miqat apabila dilanggar maka ibadah umrah-nya tetap sah tetapi harus bayar dam.
Setelah mengemasi kamar masing-masing, sekitar pukul 00.00 kami berngkat menuju Masjidil Haram untuk melakukan tawaf dan sa’i. Yang tidak sabar menunggu angkutan pergi berjalan kaki, terutama anak-anak muda yang memang masih kuat (catatan rombongan kami didominasi  sekitar 60 persen anak muda bahkan ada diantara mereka yang belum berkelurga).
Sampai di Masjidil Haram kami langsung melakukan tawaf keliling Ka’bah 7 kali, di lantai dasar dekat Ka’bah,  walaupun tidak terlalu dekat karena ratusan ribu manusia saling berdesak-desakan (dewasa ini Masjidil Haram telah dibangun dalam beberapa lantai, dan kita bisa melakukan tawaf di lantai berapa saja sesuai dengan kemampuan fisik kita). Dengan susah payah dan dibantu oleh anakku Fajar (aku sendiri merupakan manusia lansia  yang pada saat itu sudah berusia 70 tahun) Alhamdulillah berhasil menyelesaikan tawaf dan dilanjutkan dengan sa’i berjalan kadang berlari kecil/perlahan dari bukit Safa ke bukit Marwah bolak balik sebanyak 7 kali (masa kini bukit Safa dan Marwah telah menyatu dengan lingkungan Masjidil Haram dan ditata dengan begitu apik dan indah).
Pada waktu kami sedang melakukan sa’i pada putaran ke-5 dan berada persis di bukit Marwah terdengar kumandang azan subuh, semua jamaah yang sedang melakukan tawaf maupun sa’i harus berhenti dulu untuk mengikuti shalat subuh, sesuai ketentuan sisanya yaitu putaran ke-6 dan ke-7 dapat dilakukan setelah shalat, harus disambung kembali mulai dari tempat terakhir berhenti. Karena kami berhenti persis di bukit Marwah, maka putaran ke-6 harus dimulai kembali dari tempat tersebut.

Menanti shalat shubuh dilaksanakan kami masuk ke ruangan dalam Masjidil Haram yang sudah sangat padat, dikarenakan pada waktu itu jamaah dari seluruh penjuru dunia tumplek di Makkah menjelang pelaksanaan wukuf di Arafah. Jamaah yang baru tiba di Makkah, termasuk kami, dan yang datang dari Madinah semuanya kumpul disana. Kami dapat tempat dibawah sebuah tangga. Nah, ditempat inilah kami bersua, bersalaman, berkenalan dan sempat berbincang dengan seorang jamaah Afrika asal Somalia. Dia berbahasa Inggris cukup lancar dan bercerita bahwa dia sekarang tinggal di Inggris, bekerja sebagai sopir taksi di kota London, telah beristri dan mempunyai beberapa orang anak lelaki dan perempuan. Naik haji sendirian langsung dari London, membawa beberapa bulletin yang nampaknya dikeluarkan oleh kelompok Islam yang berada di Inggris berisi antara lain pedoman melasanakan ibadah haji. Dia juga bercerita bahwa di negerinya (Somalia) bagi mereka yang beragama Islam, aturan berlaku keras terutama kepada mereka yang beralih (pindah) agama (murtad), sehingga orang jangan coba-coba pindah agama, dan ceritanya pula pemeluk agama Islam disana mencapai seratus persen. Aku jadi ingat kepada berita yang sering dilansir  media bahwa Somalia negeri yang kurang aman, sering dilanda kerusuhan dan belakangan konon banyak perompak laut yang sering mengganggu pelayaran internasional. Sedang asyik berbincang, terdengar kumandang iqomah dan kami pun mengikuti shalat shubuh bersama jamaah lainnya.
Selesai shalat shubuh kami melanjutkan sa’i putaran ke-6 Marwah-Safa dan putaran ke-7 Safa-Marwah, dan sa’i pun dapat kami selesaikan, ditutup dengan menggunting rambut. Berarti pula ibadah Umroh telah selesai, karena kami telah melaksanakan semua rukun yaitu niat ihram, tawaf umroh, sa’i, cukur (gunting rambut) dan tertib (melaksanakan ketentuan manasik sesuai aturan yang ada). Adapun rukun umrah tidak dapat ditinggalkan. Bila tidak terpenuhi, maka umrahnya tidak sah.
***
Selesai menggunting rambut hari telah siang, sudah termasuk hari Sabtu tanggal 15 Desember 2007, berarti hari ke-2 kami berada di Makkah. Keluar dari Masjidil Haram melalui pintu dekat Marwah, badanku terasa letih yang amat sangat, berjalan sempoyongan dibimbing oleh Fajar (selama tawaf dan sa’i kami selalu berbimbingan), kepala pusing.  Aku tak tahan lagi dan merebahkan badan diatas lantai  dekat sebuah tong sampah, kata Fajar dan Umak (istriku), aku tak sadarakan diri (pingsan) beberapa saat. Setelah sadar dan diberi minum air zamzam, aku duduk termangu sambil menenangkan diri. Aku sempat berfikir betapa kecilnya seorang manusia dihadapan khaliknya, tergeletak tiada berdaya, disamping tong sampah pula. Akan tetapi apapun yang terjadi, aku adalah milik-Nya, dan semua yang terjadi, atas siapa  pun juga adalah atas kehendak-Nya, andaikata pada saat itu aku dipanggil untuk menghadap-Nya, aku ikhlas dan rela. Insya Allah.
Sehabis itu kami berempat (Fajar, Endah, Umak dan aku) pergi mencari sarapan karena perut memang sudah keroncongan. Kami bersua dengan deretan penjual makanan disekitar belakang Pasar Seng (nama Pasar Seng telah sering aku dengar dari orang-orang yang pernah melaksanakan ibadah haji), ternyata disana banyak penjual makanan orang Indonesia, yang umumnya saudara-saudara kita berasal dari Madura yang telah berbahasa Indonesia campur Arab. Ada nasi uduk, mie dan bihun goreng yang dikemas dalam kotak plastik, ayam goreng, telur rebus, pergedel kentang dan jagung, serta masakan daging dan ayam yang tentunya telah dimasak ala Indonesia. Yang menarik begiku, ada sejenis kue mangkok yang kalau tak salah cara membuatnya adonan dikukus dalam nampan (loyang) dan setelah matang dipotong-potong belah ketupat dan dimakan dengan kelapa parut. Jenis jajanan ini dulu banyak ditemui ketika aku tinnggal di Belitung lebih dari setengah abad yang lalu (aku lahir di daerah ini, tepatnya di kota Tanjung Pandan), hampir setiap hari aku cari karena aku menyukainya, di Belitung orang menyebutnya kueh apam. Kami berempat semuanya memilih nasi uduk dan ayam goreng, khususnya aku tentunya plus kueh apam. Bayangkan aku bernostalgia makam kueh apam lebih dari setengah abad silam, di kota Makkah pula. Masya Allah.
Selesai sarapan kami bergerak hendak pulang ke maktab, akan tetapi bingung tak tahu jalan, hanya kira-kira tadi malam kami datang dari arah mana, sedangkan rombongan kami sudah terpisah dan terpencar sendiri-sendiri. Aku berjalan tertatah-titih dibimbing oleh Fajar, setiap sekitar 100 meter berhenti untuk menurunkan nafas yang terengah-engah, kadang aku berbaring dipinggir jalan, untungnya jalanan ketika itu sepi (belakangan kami ketahui pada ketika itu kami berjalan di jalan yang salah/keliru, padahal jalan ke arah Maabdah adalah jalan yang ramai, terletak membentang dari Masjidil Haram kearah utara, melalui jalan Al Masjid Al Haram dan Jalan Rea Zakir, dimana terletak Balai Kota Makkah). Mau bertanya kepada orang Arab kami tak tahu bahasanya, bertanya dalam bahasa Inggris mereka hanya geleng kepala, bertanya kepada orang Indonesia yang kami jumpai mereka hanya menjawab “mungkin” kearah itu (tentunya mereka hanya jamaah haji seperti kami, yang juga tidak mengetahui seluk beluk kota Makkah). Sebenarnya kami telah berjalan kearah yang benar, hanya jalannya (rute) yang keliru (kami masuk dari sekitar kawasan Abu Dawud melintasi Sib Amir yang jalannya tidak begitu ramai, tetapi memang menuju kearah Maabdah), seharusnya kami berjalan dari depan Pasar Seng melalui Jalan Al Gudaria terus ke Jalan Al Masjid Al Haram, jalan padat kendaraan menuju kawasan Maabdah (belakang baru kami ketahui ada rute angkot segala). Endah dan Umak kemudian terpisah dari kami bertemu rombongan ibu-ibu yang juga kesasar, tetapi lebih dulu sampai ke maktab. Aku dan Fajar tak dapat ikut rombongan karena aku berjalan lambat sekali, sempat aku ditinggalkan didepan sebuah toko yang masih tutup, sementara Fajar pergi sendiri memantau kawasan, ternyata kami tak jauh lagi dari Maabdah, hanya sekitar beberapa ratus meter. Fajar balik menjemput aku dan kami tiba di makab dengan selamat, bertemu dengan anggota rombongan yang telah tiba lebih dahulu termasuk Endah dan Umak. Alhamdulillah.
Di maktab kami bertukar pakaian dari seragam ihram ke pakaian biasa karena sudah selesai mengerjakan umroh. Shalat dhuhur, ashar, maghrib dan isya’ hari itu kami laksanakan di Masjid Al Ijabah yang terletak dekat maktab.
Hari Ahad tanggal tanggal 16 Desember 2007 atau hari ke-3 kami di Makkah, keadaan badan masih lelah, dipergunakan untuk istirahat di maktab sambil baca-baca buku pedoman haji dalam  rangka menghadapi wukuf di Arafah. Shalat shubuh di Masjidil Haram (bersama rombongan naik bus yang telah disediakan). Bakda shubuh seperti kemaren mampir sarapan di belakang Pasar Seng dan pulang ke maktab naik taksi. Shalat dhuhur, asyar dan naghrib di Masjid Al Ijabah, sedangkan shalat isya’ di Masjid Malik Abdul Aziz.
***
BAGIAN KEENAM
HAJI
Didalam buku Bimbingan Mansik Haji tahun 2007 yang dikeluarkan Departemen Agama Republik Indonesia, buku A.2 halaman 13 tentang pengertian dari pada HAJI  disebutkan :
HAJI :
Pengertian dan Ketentuan Tentang Ibadah Haji : Pengertian Haji ialah berkunjung ke Baitullah (Ka’bah) untuk melakukan beberapa amalan antara lain : Wukuf, mabit, tawaf, sa’i dan amalan lainnya pada masa tertentu, demi memenuhi panngilan Allah SWT dan mengharapkan ridha-Nya.
Hukum Ibadah Haji : Ibadah Haji diwajibkan Allah kepada kaum muslimin yang telah mencukupi syarat-syaratnya. Ibadah haji diwajibkan hanya sekali seumur hidup. Selanjutnya baik yang kedua atau seterusnya hukumnya sunat. Akan tetapi bagi mereka yang bernazar (berkaul) haji menjadi wajib melaksakannya.
Rukun Haji :  Ialah rangkaian amalan yang harus dilakukan dalam ibadah haji  dan tidak dapat diganti dengan yang lain, walaupun dengan dam. Jika ditinggalkan tidak sah hajinya.
Rukun Haji adalah :
1.       Ihram (niat)
2.       Wukuf di Arafah
3.       Tawaf ifadah
4.       Sa’i
5.       Cukur
6.       Tertib
Wajib  Haji :  Ialah rangkaian amalan yang harus dikerjakan dalam ibadah haji, bila tidak dikerjakan sah hajinya akan tetapi harus membayar dam : berdosa jika sengaja meninggalkan dengan tidak ada uzur syar’i.
Wajib Haji adalah :
1.       Ihram, yakni niat berhaji dari Miqat
2.       Mabit di Muzdalifah
3.       Mabit di Mina
4.       Melontar Jamrah Ula, Wustha dan Aqabah
5.       Tawaf Wada’ (bagi yang akan meninggalkan Makkah)
Wukuf :  Ialah keberadaan seseorang di Arafah walaupun sejenak dalam waktu antara tegelincir matahari tanggal 9 Zulhijjah (hari Arafah)  sampai terbitnya fajar tanggal 10 Zulhijjah (hari nahar).
Wukuf di Arafah termasuk salah satu rukun haji yang paling utama. Jamaah haji yang tidak melaksanakan wukuf di Arafah berarti tidak mengerjakan haji.
Nabi bersabda :
Haji itu hadir di Arafah. Barangsiapa yang datang pada malam hari jama’ (10 Zulhijjah sebelum terbit fajar) maka sesungguhnya ia nasih mendapatkan Haji (riwayat lima ahli hadits).
***
Tanggal 17 Desember 2007, hari Senin, adalah hari yang ke-4 kami berada di Makkah bertepatan bertepatan dengan tanggal 8 Zulhijjah 1428 H, waktu yang dinantikan tiba, kami akan diberangkatkan ke Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf.
Shalat shubuh dilaksanakan berjamaah di maktab. Seusai berihram haji, mengenakan pakaian ihram, sekitar pukul 10.00 kami diberangkatkan dengan bus menuju Padang Arafah. Shalat dhuhur dan ashar di kendaraan.


Jalanan sangat padat, kendaraan berjalan lambat walaupun maju terus, tidak macet. Selain berkendaraan bus, banyak jamaah yang berjalan kaki, naik pick up dan naik diatas atap bus. Semuanya menuju satu arah ke Padang Arafah dalam pakian ihram untuk wukuf. Di maktab telah dikumpulkan sejumlah uang (real) untuk diserakan kepada bapak sopir (pengemudi bus) menjaga supaya kejadian pada perjalanan dari bandara Jeddah ke maktab beberapa hari yang lalu tidak terulang lagi. Gema talbiyah berkumandang sepanjang perjalanan, syahdu sekali. Shalat maghrib di kendaraan dan isya’ setelah sampai di Arafah.
Dari KBIH Daarut Tauhiid selain yang ikut program biasa, naik kendaraan ke Padang Arafah, sebagian ada yang ikut program TANAZUL.
Menurut  Baku Panduan Manasik Haji yang dikeluarkan Daarut Tauhiid, Tanazul artinya turun atau keluar dari program Haji yang diselenggarakan oleh Pemrerintah RI dan Saudi Arabia. Yang dimaksud dengan program pemerintah yaitu program pemberangkatan ke Arafah tanggal 8 Dzulhijjah (hari tarwiyah) menggunakan bus yang disediakan pemerintah dari Makkah langsung  menuju Arafah. Jadi yang dimaksud dengan keluar, ialah tidak menggunakan program tersebut diatas, tetapi jamaah dengan resiko masing-masing dengan tetap di koordinir pada tanggal 8 Dzulhijjah  berangkat menuju Mina baik jalan kaki maupun naik kendaraan untuk bermabit di Mina (sholat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh). Setelah shubuh langsung menujuu Arafah untuk melaksanakan Wukuf bergabung dengan seluruh jamaah yang berhaji. Dengan kata lain Tanazul artinya sebelum ke Arafah transit terlebih dahulu sehari semalam di Mina. (Hukumnya Sunnat).
Endah mengikuti program Tanazul ini, sedangkan Fajar tetap mengikuti program biasa, naik bus untuk mengawasi aku dan Umak (terutama aku) yang takut bermasalah dalam perjalanan.
Padang Arafah luas sekali, bertebaran tenda (kemah)  memutih seantero lapangan, manusia dari segala macam bangsa didunia berkumpul disana. Entah disengaja atau tidak (mudah-mudahan tidak, karena memang sulit menuju lokasi ditengah hamparan tenda yang banyaknya tak terhitung) bus yang kami tumpangi  berputar-putar keliling lapangan (padang) berkali-kali hingga sekitar pukul 20.00 baru  ketemu kemah yang dicari. Kami pun memasuki kemah dan berlaku sesuai petunjuk yang diberikan, terutama tehadap segala larangan. Di Padang Arafah kini sudah banyak ditanam pohon, bahkan yang masih kecil atau tunas banyak yang berada dalam lingkungan kemah. Para jamaah banyak yang berusaha untuk tidak menggelar tikar didekat pohon/tunas tersebut, khawatir kalau ranting dari pohon tersebut patah tersenggol oleh mereka, karena memotong tumbuhan sesuatu larangan selama ihram.

LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK, LABBAIK KALAA  SYARIKALAKA LABBAIK, INNAL HAMDA WAL NI’MATA LAKAWAL MULKA LAA SYARIIKALAKA
AKU DATANG MEMENUHI PANGGILAN-MU YA ALLAH, AKU DATANG MEMENUHI PANGGILAN-MU, AKU DATANG MEMENUHI PANGGILANMU,  TIDAK ADA SEKUTU BAGIMU YA ALLAH AKU PENUHI PANGGILANMU. SESUNGGUNYA SEGALA PUJI, NI’MAT DAN SEGENAP KEKUASAAN ADALAH MILIK-MU, TIDAK ADA SEKUTU BAGI-MU

Tanggal 18 Desember 2007, hari Selasa, hari yang ke-5 kami berada di kota Makkah, bertepatan dengan tanggal 9 Zulhijjah 1428 H, WUKUF DI ARAFAH. Shalat shubuh di kemah. Siangnya mendengarkan Khutbah Arafah dari Aa Gym yang disampaikan di kemah rombongan jamaah haji Daarut Tauhiid . Shalat dhuhur dan ashar jamak taqdim qashar di kemah. Banyak membaca Al Qur’an dan berdo’a.


Aku dan Fajar menyempatkan diri keluar dari kemah untuk melihat-lihat suasana Padang Arafah. Di luar kemah banyak jamaah dari berbagai negara yang juga melihat-lihat suasana seperti kami. Kami sempat berkenalan dan berfoto dengan beberapa orang antaranya dari negara-negara Afrika Utara yang berperawakan besar tinggi dan berkulit putih seperti Mesir, Aljazair, Tunisia, Maroko, Libya dan lain-lain, jamaah dari Afrika yang berkulit gelap, jamaah dari negara-negara  Asia Tengah,  jamaah dari Turki, Iran, India, China, Malaysia, Thailand dan sebagainya, pokoknya dari segala pelosok dunia, beragam etnis dan warna kulit, semuanya bersatu melaksanakan wukuf di Arafah, tanpa merasakan adanya perbedaan diantaranya. Mereka senang sekali diajak foto bersama, ditutup dengan ucapan syukron atau thank you, bersalaman dan assamualaikum. Ucapan syukron dan thank you memang populer sekali diantara jamaah antar bangsa. Salah seorang jamaah dari Afrika berkulit gelap, ketika kami mengatakan dari Indonesia, berkali dia mengatakan O, Aceh..Aceh…, barangkali dia mengenal Indonesia itu sebagai Aceh, atau akibat dari Aceh yang dijuluki sebagai Serambi Makkah. Wallahu alam bissawab.
Kemudian pada kesempatan lain di Makkah dan Mina kami juga melihat jamaah dari Jerman, Perancis, Rusia dan negera-negara Eropah lainnya, juga dari Ausralia. Asal negara para jamaah mudah dikenali karena umumnya ada lambang (gambar bendera kecil) pada kartu atau tas yang dikalungkan di leher masing-masing, termasuk jamaah Indonesia.  Jamaah Thailand dan China umpamanya dengan jelas mereka menunjuk lambang benderanya, jika kita bertanya negara asalnya. Dengan jamaah Thailand (umumnya Thailad Selatan) kita berdialog bebas dalam bahasa Melayu dan mereka senang sekali diajak berbincang sambil menunjuk gambar bendera negaranya dan berucap Thailand, Tahiland. Apalagi dengan jamaah negara jiran Malaysia, kita bebas bebas berdialog layaknya dengan bangsa sendiri, apalagi diantara mereka banyak yang keturunan Indonesia, atau paling tidak bangsa serumpun, terasa sekali persaudaraannya.



Fasilitas dan akomodasi yang tersedia selama wukuf di Arafah cukup baik, apalagi karena waktunya relatif singkat kami tidak banyak mempergunakannya.
Sesudah melaksanakan shalat meghrib dan isya’ jamak takdim qashar di kemah, dengan bus kami diangkut meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah. Sebagian dari jamaah berjalan kaki, mungkin lebih cepat tiba ketimbang pakai kendaraan yang berjalan lamban di jalan yang padat. Sekitar pukul 10.00 tiba di Muzdalifah, turun dari bus disebuah tempat untuk mencari kerikil kecil, ternyata kami turun ditempat yang kerilnya besar-besar dan jarang. Baru kemudian seseorang memberi tahu agar kami berpindah ke tempat yang kerikilnya kecil, ternyata benar dan kami mengumpulkannya dengan mudah masing-masing orang 70 buah kerikil dan ditempatkan dalam kantong kain yang telah disediakan. Waktu itu telah lewat tengah malam, banyak anggota rombongan yang lelah dan mengantuk. Walaupun mampir hanya sekitar 2-3 jam berarti kami telah mabit di Muzdalifah.



Naik kembali keatas bus, kendaraan bergerak, namun sekitar setengah jam kemudian bus berhenti disatu tempat yang sudah banyak kemah, kami kira kami sudah sampai di Mina. Kami turun dari bus dibimbing ke sebuah kemah yang telah banyak ditempati orang yang telah tiba lebih dulu dari kami. Disebuah sudut terlihat sekelompok orang berkumpul seperti sedang berunding. Aku tidak tahu dan merasa tidak perlu tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Belakangan dari informasi teman-teman barulah aku ketahui bahwa mereka sedang membicarakan tempat (kemah) yang pada waktu itu kami tempati. Tempat berdiri kemah yang kami masuki berada Mina Jadid (Mina Baru), Mina yang dimekarkan, memang masih berada di kawasan Muzdalifah, tetapi karena kawasan Mina sudah padat, maka oleh pemerintah Saudi Arabia kawasan perbatasan Mina dimekarkan, hingga daerah itu menjadi wilayah Mina, dengan nama Mina Jadid. Seorang kiai sepuh yang memimpin rombongan lain (bukan Daarut Tauhiid) tetapi tergabung dalam kloter 83 berpendapat bahwa daerah tersebut masih tetap wilayah Muzdalifah (bukan Mina), jadi tak boleh melakukan mabit Mina di tempat itu, jadi harus diteruskan ke kawasan Mina yang sebenarnya. Pimpinan rombongan kami sesuai petunjuk yang ada berpendapat telah di Mina, karena peluasan atau pemekaran oleh pemerintah Saudi Arabia sudah sepengetahuan pemerintah Indonesia dan negara Islam lainnya. Karena tak sependapat Pak Kiai beserta rombongannya (tidak begitu besar, sekitar 20 orang) meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki ke Mina, sedangkan rombongan kami tetap mabit di tempat itu (Mina Jadid).



Belakangan kami (khususnya aku, Fajar dan Umak) jadi ragu-ragu mengingat Pak Kiai sudah sepuh dan sudah berkali-kali memimipin Jamaah Haji, akhirnya kami putuskan untuk membayar dam, karena kami tidak bermalam (mabit) di Mina, sedangkan Endah mengikuti rombongan tanazul memang telah berjalan kaki lebih dahulu ke Mina dan bermalam disana. Pembayaran dam (penyembihan kambing) dilakukan oleh Fajar di Jabal Nur sekembalinya kami ke Makkah. Apapun perbedaannya, kami ini orang awam, dengan membayar dam hati sudah plong, tidak ada sesuatu keraguan lagi.
Malam itu sudah itu sudah masuk tanggal 10 Zulhijjah 1428 M. Fajar, Umak dan Endah bergabung besama-sama rombongan melontar jamrah Aqabah sendiri-sendiri, sedangkan aku karena kondisi fisik tidak  memungkinkan, maka melontarnya dibadalkan kepada Fajar. Melontar untuk masing-masing orang sebanyak 7 buah kerikil (7x lontar). Sepulangnya Fajar dan Umak ke kemah (Umak di kemah ibu-ibu), kami menggunting rambut (cukur). Kami telah dalam keadaan tahallul awal dan boleh beganti pakaian biasa
Dalam hubungan dengan mabit di Mina buku Pedoman Bimbingan Manasik Haji 2007 Departemen Agama (buku A.2) pada halaman 34 menuliskan :
Mabit di Mina :
1.       Hukum mabit di Mina menurut jumhur Ulama adalah wajib. Sebagian Ulama mengatakan sunat. Bagi jamaah yang meninggalkan mabit wajib membayar dam/fidiyah.
2.       Waktu mabit yaitu malam tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah bagi nafar awal dengan meninggalkan  Mina sebelum terbenam matahari dan tangal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah bagi nafar tsani.
3.       Tempat mabit bagi sebahagian besar jamaah haji Indonesia adalah di Harratul Lisan. Harratul Lisan merupakan wilayah pengembangan Mina yang secara hukum dianggap sah sebagai tempat Mabit. Pengembangan wilayah Mina adalah keharusan yang dianngap sama dengan pengembangan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Sejak tahun 1984 pemerintah Arab Saudi telah menetapkan Harratul Lisan sebagai tempat mabit. Tahun 2001 pengembangan wilayah mabit hingga sampai Muzdalifah yang dikenal dengan nama Mina Jadid (Mina Baru). Hukum Mabit di Mina Jadid sah karena kemahnya bersambung, sesuai dengan fatwa Mufti Makkah dan Hasil Keputusan Mudzakarah UlamaTentang Mabit diluar Kawasan Mina, tanggal 10 Januari 2001.
Tentang melontar jamrah buku tersebut antara lain menulis dalam tanya jawab nomor 6 di halaman 125 sebagai berikut :
Apakah melontar jamrah boleh diwakilkan kepada orang lain?
Melontar jamrah tidak boleh diwakilkan kecuali karena uzur, baik karena sakit atau karena masyaqqah (kesulitan yang berat).
H. Sulaiman Rasjid dalam bukunya FIQH ISALAM menuliskan :
Orang yang berhalangan tidak dapat melontar, sedangkan halangannya itu tidak ada harapan akan hilang dalam masa yang ditentukan untuk melontar, maka orang tersebut hendaklah mencari wakilnya sekalipun dengan cara mengupah. Orang yang tidak melontar sehari atau dua hari harus menggantinya pada hari lain asal masih dalam masa yang ditentukan untuk melontar, yaitu tanggal 10-13.
Tentang tahallul buku Bimbingan Manasik Haji 2007 Departemen Agama (buku A.2) pada halaman 39 menuliskan :
TAHALLUL :
Tahallul adalah keadaan seseorang yang telah dihalalkan (dibolehkan) melakukan perbuatan yang sebelumnya dilarang pada waktu berihram haji.
Tahallul ada 2 (dua) macam :
1.       Tahallul Awal ialah keadaan seseorang yang telah melakukan dua diantara tiga perbuatan yaitu :
(a). Melontar jamrah Aqabah kemudian memotong rambut/bercukur, atau
(b). Tawaf ifadah dan sa’i kemudian memotong rambut/bercukur.
Sesudah tahallul awal seseorang boleh beganti pakaian biasa dan memakai wangi-wangian, dan boleh mengerjakan semua yang dilarang selama ihram, akan tetapi masih dilarang bersetubuh dan bercumbu rayu dengan istri/suami.
2.       Tahallul Tsani ialah keadaan seseorang yang telah melakukan tiga perbuatan yaitu : melontar jamrah Aqabah, memotong rambut/bercukur dan tawaf ifadah serta sa’i. Sesudah tahallul tsani seorang jamaah boleh bersetubuh dengan suami/istri.
Tanggal 19 Desember 2007, hari Rabu, hari ke-6 kami di Makkah bertepatan dengan tanggal 10 Zulhijjah 1428 H. Bakda shubuh udara sangat cerah, badanku agak segaran. Sekitar pukul 09.00 aku dan Fajar keluar kemah, lag-lagi seperti di Arafah kemaren kami ingin melihat situasi di lapangan. Ramai dan sibuk, ramai penjual berbagai cindera mata dan ada pula penyewaan unta, untanya dihiasi aneka bunga-bungaan warna-warni, boleh duduk diatas pundaknya dan difoto. Di lapangan kami bertemu jamaah haji pria dari China (RRT), orangnya besar tinggi tipe Mandarin, menunjukkn identitas yang dibawanya berupa bendera RRT yang tegambar pada kartu pengenal yang dikalungkan pada lehernya. Usianya mungkin sebaya atau mungkin sedikit lebih muda dariku karena sudah agak uzur sepertiku. Aku sempat berbincang dengan dia dalam bahasa tarzan dan difoto oleh Fajar.  Dia menunjuk lutut dan mengeluh sakit dan mau duduk saja, tak kuat berjalan, mungkin rematik.



Semua pelaksanaan shalat selama di Mina dilaksanakan di kemah masing-masing baik berjamaah ataupun sendiri-sendiri. Kemah yang kami tempati ternyata terletak disamping salah satu meja tempat pelayanan makanan persis disebelah tempat aku tidur, karena aku tidur dipinggir sekali. Pelayanan makanan katanya dengan sistem prasmanan tapi tidak mengambil sendiri, jamaah antri membawa piring dan diisi oleh petugas dengan nasi dan lauk pauk lebih dari cukup dan ditambah sambal, dilayani oleh anak-anak Arab belasan tahun. Antriannya cukup terbib, tidak berebutan, malah santai sambil ngobrol diantara masing-masing jamaah. Konon ini adalah servis katering Armina yang diterapkan mulai musim haji 2007 karena terjadinya musibah karering tahun sebelumnya (2006). Menjelang waktu makan siang aku menyingkapkan kain kemah untuk melihat keadaan diluar. Tiba-tiba salah seorang petugas pembagi makanan meminta piringku dan mengisi nasi dan lauk pauknya, Alhamdulillah aku tak usah antri. Tetapi untuk selanjutnya aku tetap ikut antri, malu sama teman-teman. Lemari kaca berisi buah-buahan terutama sekali apel dan jeruk terdia dimana-mana, tersedia pula jus dan minuman kotak, kita boleh mengambil sebanyaknya jika kuat. Pelayanan makanan memang memuaskan, tetapi sayang pelayanan kamar mandi dan toilet sangat menyedihkan. Tetapi semuanya dapat dimaklumi melayani orang begitu banyak.
Malamnya telah masuk tanggal 11 Zulhijjah, waktu untuk melontar jumrah Ula, Wutha dan Aqabah. Fajar, Endah dan Umak melontar sendiri-sendiri pergi bersama rombongan agak awal, sekitar bakda isya’, sedangkan aku tak mungkin kuat berdesakan, apalagi berjalan cukup jauh, jadi menunggu dulu di kemah sampai suasana agak sepi. Pulang ke kemah, Fajar kembali membawa aku untuk melontar, waktu sudah lepas tengah malam, jalanan sudah agak sepi. Tetapi karena cukup jauh (bagiku) dan aku tak kuat, hampir setiap seratus meter aku berhenti dipinggir jalan untuk melepas lelah, akhirnya sampai ke kawasan jamarah Ula, Wustha dan Aqabah, dan aku melontar sendiri satu demi satu jamrah, 3x7 kerikil = 21 kerikil. Alhamdulillah.
Pulangnya kami bersamaan dengan dua orang jamaah haji lelaki dari Malaysia yang masih muda-muda, mereka membawa seorang jamaah wanita yang sudah berusia lanjut didorong dengan korsi roda. Kepada kami kedua anak muda tersebut menceritakan bahwa mereka ditugaskan oleh pemerintah Malaysia untuk mengawal/menjaga nenek tersebut selama melaksanakan ibadah haji sampai selesai dan selamat. Demikian juga jamaah lainnya yang sudah tua dan uzur mendapat pengawalan seperti itu.
Tanggal 20 Desembar 2007, hari Kamis, hari ke-7 kami di Makkah, bertepatan dengan 11 Zulhijjah 1428 M, malamnya sudah masuk 12 Zulhijjah. Karena sudah hampir dapat dipastikan jamaah akan lebih banyak lagi melontar, khususnya bagi yang mengambil Nafar Awal, maka disepakati melontar jamrah Ula, Wustha da Aqabah untuk aku dibadalkan pada Fajar lagi, sedangkan Endah dan Umak melontar sendiri.
Jumlah kerikil yang dilontarkan untuk setiap orang mengambil Nafar Awal adalah tanggal 10 Zulhijjah (7), 11 Zulhijjah (21), 12 Zulhijjah (21), total semua 7+21+21 = 49 buah kerikil.
Mengikuti rombongan, kami mengambil Nafar Awal dan besoknya akan kembali ke Makkah, dan malam itu semua anggota rombongan bersiap-siap.


Tanggal 21 Desember 2007, hari Jum’at, hari ke-8 kami di Makkah, bertepatan dengan 12 Zulhijjah 1428 M. Sekitar pukul 10.00 dengan bus kami berangkat dari Mina memuju Makkah, kendaraan bergerak lambat sekali, jalanan sangat padat. Aku sama sekali tak tahu jalan apa itu (jamaah lain juga mungkin begitu), hampir semua penumpang pulas karena kelelahan. Sepi. Hening.
Shalat dhuhur dan ashar di kendaraan. Bakda ashar, anggota rombongan satu persatu turun dari kendaraan tanpa alasan, kalaupun ada alasan pamit cari makan, mau pipis, atau capek duduk di kendararaan dan sebagainya ternasuk Fajar, Endah dan Umak. Umumnya yang turun yang muda-muda, bahkan yang disebut Karom dan Karu menghilang entah kemana. Yang tersisa di bus adalah yang tua-tua (termasuk aku), beberapa orang jamaah wanita dan yang kurang sehat, jumlahnya pun sudah tak lengkap sepuluh. Mungkin pada saat itu telah memasuki kota Makkah, hari sudah mulai remang-remang, bus jalannya makin lambat, dan tiba-tiba berhenti di sebuah tempat. Mungkin katanya sudah sampai, demikian ucapan pengemudi dalam bahasa Arab (mungkin, karena aku sendiri tak mengerti) dengan nada seperti orang marah-marah. Barang-barang diturunkan dan ditumpuk begitu saja di pinggir jalan, masih untung jalannya sepi. Karena lelah dan lemas aku sampai tak ngeh (memperhatikan) siapa yang menurunkan barang-barang tersebut. Kami sisa-sisa laskar yang ketinggalan jadi bingung, tidak saling berucap karena sudah sangat lelah, kami hanya duduk saja menjaga barang-barang sambil menunggu kalau-kalau anggota rombongan yang telah tiba lebih dahulu datang menjemput.
Dalam keadaan kebingungan tiba-tiba muncul ustadz Wahab (salah seorang pengurus Daarut Tauhiid) dan membereskan barang-barang yang tertumpuk dipinggir jalan dengan bantuan orang-orang (mungkin kuli angkut, karena tak seorang pun pernah aku lihat di maktab). Dugaanku ustadz Wahab telah memonitor konvoi bus yang belum tiba. Tempat bus berhenti ternyata masih cukup jauh dari maktab, semua barang-barang ditumpuk di ruang depan maktab. Aku sendiri yang sudah lemas dibimbing ustadz yang baik hati ke maktab, disuruh duduk di korsi tamu dan diberi air mineral, kemudian beliau pergi, mungkin masih ada urusan lain , apalagi azan maghrib telah mengumandang. Tidak lama kemudian rombongan tiba satu persatu termasuk Fajar, Endah dan Umak. Shalat maghrib dan isya sendiri-sendiri di maktab.

Inilah pengalaman terburuk bagiku selama delapan hari di Makkah. Dugaanku peristiwa ini terjadi karena waktu berangkat dari Mina rombongan lupa mengumpulkan real untuk upeti bapak sopir. Mudah-mudahan dugaanku ini tidak benar. Ya Allah ampuni aku.
Sekitar pukul 23.00 aku, Fajar, Endah dan Umak pergi ke Masjidil Haram untuk tawaf ifadah dan sa’i. Selesai tawaf ifadah dan sa’i terdengar kumandang azan shubuh dan kamipun ikut shalat dengan hati yang lapang karena rangkaian ibadah haji yang kami tunaikan telah selesai.
Alhamdulillah, semoga menjadi HAJI YANG MABRUR, haji yang diridhai dan diterima pahalanya oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Amin, Ya Rabbal Alamin.

Karena rangkaian pelaksanaan ibadah haji seluruhnya sudah selesai, sebenarnya kalau mau kami sudah boleh pulang kampung tentunya setelah melakukan tawaf wada’, akan tetapi mengikuti program yang dilakukan jamaah haji Indonesia dan  negara lain, pada umumnya, masih ada acara lanjutan yaitu berkunjung ke Madinah untuk melaksanakan shalat arbain.
Pagi itu sudah hari Sabtu 22 Desember 2007, berdasarkan perhitungan kalender kamariah sejak tadi malam mulai waktu maghrib telah masuk tanggal 13 Zulhijjah 1428 M. Berbeda dengan kalender syamsiah yang menghitung peralihan hari sejak tengah malam pukul 00.00.
Selesai shalat shubuh kami cari sarapan di belakang Pasar Seng seperti pada hari-hari sebelumnya selama kami berada di Makkah. Sudah itu pulang naik taksi dan tiba di maktab sekitar pukul 10.00.


***





1 comment: