MENGERJAKAN HAJI ADALAH KEWAJIBAN MANUSIA TERHADAP ALLAH,
YAITU (BAGI) ORANG YANG
SANGGUP MENGADAKAN PERJALANAN KE BAITULLAH
(QS Ali Imran 97)
SEMPURNAKANLAH HAJI DAN UMRAH KARENA ALLAH
(QS Al Baqarah 196)
IKUTKANLAH ANTARA HAJI DAN UMRAH, KARENA SESUNGGUHNYA
KEDUANYA ITU, MENGUSIR KEMISKINAN DAN DOSA, SEBAGAIMANA DAPUR TUKANG BESI,
MENGUSIR KOTORAN BESI, EMAS DAN PERAK. TIADA PAHALA HAJI MABRUR KECUALI SURGA.
(Hadits diriwayatkan
oleh Nasai dan Turmudzi)
Alhamdulillah
aku beserta istri dan anak serta menantu-ku, jadi kami ber-empat memenuhi undangan dari Allah Subhanahu Wa
Ta’ala untuk menunaikan ibadah haji ke Makkah Al Mukarramah tahun 1428 H/2007
M, walaupun pada masa itu aku sudah berusia lanjut, 70 tahun, sesungguhnya
segala sesuatu terlaksana atas izin-Nya juga.
Agar dapat mengenang kembali pelaksanaan perjalanan menunaikan ibadah
haji 1428 H/ 2007 M tersebut, maka kutuangkan dalam catatan dibawah ini.
Mohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala bila dalam catatan ini
terdapat kesalahan ataupun kekeliruan, hal semacam itu terjadi semata-mata
kesalahan hamba. Amin Ya Rabbal Alamin.
Catatan ini ditulis dalam beberapa bagian
sebagai berikut :
BAGIAN KESATU
MANASIK HAJI
Manasik artinya
bimbingan tata cara beribadah, jadi Manasik Haji adalah bimbingan tentang tata
cara mengerjakan ibadah haji.
Kami bergabung didalam rombongan KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji)
Daarut Tuahiid Bandung dibawah pimpinan KH Abdullah Gymastiar (Aa Gym), dengan
nomor porsi :
1.
Endah
Kania Hidayat (1000095852) - Menantu
2.
Fajar
Surya (1000095912)
- Anak
3.
Abdullah
Hamid (1000095918) - Aku
4.
Siti
Aminah (1000095923)
- Istri (Umak)
Adapun manasik haji diselenggarakan pra menunaikan ibadah haji, selagi
masih berada di Indonesia. Di KBIH Daarut Tauhid diadakan pada jadwal yang ditetapkan
di Jakarta dan Bandung, dengan mengambil tempat antara lain di Auditorium
Gedung F Departemen Pertanian Jakarta (7 kali pertemuan), Gedung Pertemuan Bank
Indonesia ( 1 kali pertemuan), Gedung Departemen Pekerjaan Umum (4 kali
pertemuan), semuanya di Jakarta dan di Pasentren Daarut Tauhiid Bandung
(Manasik Qubro, 2 kali pertemuan). Semua
rangkaian kegiatan manasik dilakukan sebanyal 14 kali secara bertahap
mulai tanggal 21 Juli 2007 (di Auditorium Depertemen Pertanian) dan diakhiri di
Pesantren Daarut Tanhud Bandung tanggal 10 dan 11 Nopember 2007.
Catatan : Rombongan Jamaah Haji KBIH Daarut Tauhiid tahun 2007 sebanyak
607 orang, berkurang dibanding dengan tahun 2006, sebanyak 1.006 orang.
Jamaah haji KBIH Daarut Tauhiid dipecah ikut dalam dua kloter yaitu
kloter 82 dan 83, masing-masing bergabung dengan jamaah dari KBIH lainnya. Kami
tergabung dalam kolter 83, dari KBIH Daarut Tauhaiid rombongan V. Setiap kloter
terdiri dari 450 jamaah, dipimpin seorang ketua kloter dibantu beberapa orang
petugas yang ditetapkan oleh pemerintah (Departemen Agama).
Kami jamaah di KBIH Daarut Tauhiid dibagi dalam 6 rombongan yang masing-masing
dipimpin seorang ketua rombongan (karom) yang dibagi pula dalam regu-regu yang
dipimpin seorang ketua regu(karu), kami termasuk dalam rombungan V (lima). Adapun
ketua rombongan ditentukan oleh KBIH, sedangkan ketua regu dipilih/ditetapkan
sendiri oleh masing-masing regu, semua karom dan karu masih berusia muda.
***
Kondisi fisik-ku
sebenarnya dalam keadaan tidak begitu prima. Sehabis melaksanakan ibadah puasa
Ramadhan 1428 H, aku sempat melaksanakan shalat Idul Fitri di Lapangan Sempur
Bogor pada hari Jum’at tanggal 12 Oktober 2007, dilanjutkan dengan melakukan
rangkaian kegiatan keluarga. Dua minggu kemudian tanggal 27 Oktober 2007 saat
diadakan silaturrahmi rombongan V jamaah haji Daarut Tauhiid di Bintaro
(Jakarta) Fajar, Endah dan Umak hadir, sedangkan aku tak dapat hadir karena
kurang sehat.
Tanggal 06 Nopember 2007, hari Selasa ketika sedang berada di rumah
Fajar di Depok aku jatuh sakit, dan dirawat di RS Bakti Yudha Depok selama 4
hari sampai Jum’at tanggal 09 Nopember 2007, padahal hari Sabtu tanggal 10
Nopember harus mengikuti Manasik Qubro di Bandung. Dokter kemudian mengizinkan
pulang, dengan catatan jangan beraktivitas terlalu aktif, karena kondisi fisik
masih lemah.
Memang hari-hari belakangan ini kesehatan-ku sering terganggu, beberapa
bulan sebelumnya operasi batu ginjal di RS Ongkomulyo Jakarta dan beberapa hari
dirawat di RS Azra Bogor. Sampai hari-hari menjelang keberangktan ke Makkah pun
masih harus konsultasi ke dokter RS Azra dan kebetulan dokter tempat
berkonsultasi seorang haji, sehingga aku dapat banyak petunjuk dan didoa’kan
oleh beliau. Kemudian hari dokter rombongan haji pun, menasehatkan agar selama
melakukan ibadah haji aku harus diawasi terus oleh Fajar. Bagi kami
alhamduliilah tak mendapat kesulitan karena kami berangkat haji berempat.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha
Pelindung dan Maha Penolong, kelak ternyata pada saat-saat melaksanakan
rangkaian ibadah haji Alhamdulillah kondisi badanku dalam keadaan sehat tanpa
gangguan yang berarti, walaupun sehabis sakit dan memang usia sudah lanjut,
sesungguhnya Dia telah melimpahkan barokah dan rahmat-Nya. Amin Ya Rabbal
Alamin.
***
Tanggal 10 dan
11 Nopember 2007, hari Sabtu dan Ahad, melakukan manasik Qubro di Bandung. Pagi
Sabtu kami berkumpul di Gedung Departemen Pertanian Jakarta dan sekitar pukul
08.00 diberangkatkan dengan rombongan bus ke Bandung, dan langsung menuju
komplek Pesantren Daarut Tauhiid yang terletak di daerah Geger Kalong Girang.
Suatu komplek pesantren yang menempati tanah luas lengkap dengan masjid, gedung
tempat belajar, gedung pertemuan, swalayan, toko buku dan sebagainya. Belum
lagi masyarakat yang membuka warung makanan dan segala macam kebutuhan
disekitarnya. Ada pula rumah-rumah yang kamarnya dapat disewa sebagai
penginapan, khususnya bagi orang berkunjung ke pesantren Daarut Tauhiid.
Kami ditempatkan dalam tenda-tenda yang dibangun menyerupai kemah-kemah
di Padang Arafah dan Mina. Agak sore hujan mengguyur kota Bandung dengan
lebatnya, hingga aku menggigil kedinginan. Fajar mengambil inisiatif menyewa
sebuah rumah/kamar dan menempatkan aku
disana, karena tak mungkin bertahan di tenda dalam kondisi seperti itu, apalagi
sehari sebelumnya aku baru keluar dari perawatan di rumah sakit.
Hari Ahad kami diberangkatakan ke sebuah lapangan yang terletak sekitar
3 Km dari pesantren dengan berjalan kaki, tentu dengan maksud melatih jamaah
dalam menghadapi rangkaian pelaksanaan ibadah haji di Makkah, Arafah dan Mina
nanti. Disana telah didirikan miniatur dari Ka’bah dan Jamrah. Kami berlatih
tawaf, sa’i dan melontar jamrah ditempat ini. Siangnya kami pulang kembali ke
Jakarta.
Pada tanggal 17 Nopember 2007 hari Sabtu, bertempat di Masjid Al Rohmah Bantar Jati Bogor diadakan
Walimatus Safari bersama jamaah setempat yang akan menunaikan ibadah haji 1428 H,
yaitu ibu Uci (Y.Nurhayati), ibu Jumain
(Supriyati), ibu Baharudin (Sumirah) serta kami suami istri, semuanya 5 orang.
Hadir sekitar 200 undangan.
Ibu-ibu yang 3 orang akan berangkat lebih dahulu bersama rombongan
jamaah haji Bogor, pada gelombang I (satu) menuju Madinah, sedangkan kami masih
menunggu lama, karena diberangkatkan dalam gelombang II (dua) menuju Makkah,
kloter 83, kloter terakhir beberapa hari menjelang pelaksanaan wukuf. Waktu
menunggu masih panjang, masih sekitar satu bulan lagi (kami berangkat tanngal
14 Desember 2007).
Tanggal 09 Desember 2007 hari Ahad, di rumah Bantar Jati
diselenggarakan selamatan beserta keluarga. Hadir antara lain adik-adikku
seperti Hj. Hamidah (Ida Rani Hamid), Hj. Latifah Hamid beserta suaminya H.
Amsar Turmudi, Hj. Wardah Hamid (suaminya H. Hasan tak dapat hadir karena
sedang sakit, belakangan ketika kami sedang di Makkah mendapat kabar bahwa
beliau wafat), H. Abdul Hadi Hamid berserta istrinya Hj. Neneng, Kokom Komariah Hamid,
Abdul Gani Hamid dan lain-lain. Hadir pula anak-anak beserta cucu-cucu kami
beserta menantu kami H. Monang Hasibuan dan Firmansyah. Tausiyah haji dan do’a
disampaikan oleh H. Amsar Turmudi.
***
BAGIAN KEDUA
SELINTAS KENANGAN
PERJALANAN HAJI INDONESIA
Masyarakat Nusantara telah melakukan perjalanan haji ke Makkah
sejak pada zaman dahulu, setidaknya sejak agama Islam masuk ke Nusantara yang diperkirakan
mulai abad ke-7 Masehi. Perjalanan pada ketika itu tentu sangatlah berat.
Sebelum ada hubungan laut “langsung” ke tanah Arab, orang melakukan perjalanan
ke Makkah melalui jalur darat setelah menyeberang ke tanah Semenanjung atau ke
tanah Hindustan (India), dari sana mengikuti kafilah berjalan berbulan-bulan,
bahkan bertahun-tahun baru tiba ke tanah Arab, dengan tantangan banyak resiko
sepanjang perjalananan. Akan tetapi minat masyarakat Islam untuk menunaikan
ibadah haji sangatlah tinggi hingga sampai pada zaman sekarang perjalananan
ibadah haji telah dapat dilaksanakan melalui jalur udara.
Pada masa selanjutnya masyarakat telah dapat melakukan perjalanan
(pelayaran) dengan perahu layar lansung ke pelabuhan Jeddah dan dilanjutkan
dengan kafilah ke Makkah, kemudian ke Arafah dan Mina, selanjutnya ke Madinah.
Dari Madinah balik lagi ke Jeddah, baru pulang ke Nusantara, perjalanan masih
juga memakan waktu berbulan-bulan.
Para wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa tentulah pergi
menunaikan ibadah haji ke Makkah dengan caranya sendiri-sendiri dan
mempergunakan sarana yang ada pada masa masing-masing. Konon Sunan Gunungjati
menunaikan ibadah haji pada tahun 1521 dengan mempergunakan perahu layar yang
memakan waktu perjalanan sampai dua tahun.
Menurut sebuah tulisan pemeluk agama Islam yang pertama kali di tanah
Sunda adalah Bratalegawa putra kedua Prabu Guru Pangandiparamarta Jayadewabrata
atau Sang Bunisora penguasa kerajaan Galuh. Beliau adalah seorang saudagar yang
sering melakukan pelayaran ke Sumatra, Cina, India, Srilanka, Iran sampai ke
tanah Arab. Beliau menikah dengan seorang muslimah dari Gujarat dan melalui
pernikahan ini Bratalegawa memeluk agama Islam. Sebagai orang pertama kali
menunaikan ibadah haji di kerajaan Galuh, beliau dikenal dengan sebutan Haji
Purwa.
Dr. Haji Abdul Malik Karim Amarullah yang lebih terkenal dengan
panggilan Buya Hamka menunaikan ibadah haji pada tahun 1927 dengan kapal laut
melalui pelabuhan Belawan (Medan), memakan waktu 16 hari baru tiba di pelabuhan
Jeddah. Hal ini sangat mungkin dilakukan mengingat pelabuhan Belawan sudah
sejak zaman dahulu dimanfaatkan, seperti halnya pelabuhan Sunda Kelapa dan
Tanjung Periuk di Jakarta. Begitu pula dengan pelabuhan lainnya di kawasan Aceh
yang kemudian terkenal dengan sebutan Serambi Makkah.
Dr. Ir. H. Soekarno (Bung Karno) presiden pertama Repubik Indonesia
menunaikan ibadah haji pada tahun 1955 dengan pesawat udara, dan seperti yang
dituturkannya kepada Cindy Adams dalam bukunya Bung Karno Penyambung Lidah
Rakyat Indonesia, beliau berhaji tepat pada hari Jum’at, maka beliau mendapat gelar
Haji Akbar.
Jamaah haji Indonesia diberangkatkan dengan pesawat udara mulai tahun 1952,
disamping masih ada yang diberangkatkan dengan kapal laut, dan mulai tahun 1975
semuanya telah diberangkatkan dengan pesawat udara.
Pada awalnya dahulu perjalanan haji dilakukan sendiri-sendiri dengan
cara masing-masing atau dilakukan secara berkelompok melalui pesanteren dan
kelompok-kelompok pengajian yang ada di daerah-daerah dan pemberangktan pun
langsung dari daerah masing-masing atau kota pelabuhan yang terdekat.
Melihat keadaan itu pemerintah Hindia Belanda kemudian memfasilitasi
perjalanan haji dengan kapal laut. Disamping untuk mengambil hati ummat Islam
di Nusantara, pemerintah kolonial Belanda menjaga atau mencegah jangan sampai
terjadinya intrik ekstrem atau radikal yang memasuki jamaah haji khususnya
selama berada di Makkah yang bergaul dengan masyarakat internsional dari
berbagai negeri pada masa itu. Dengan fasilitas yang dikoordinir oleh
pemerintah (Hindia Belanda) semuanya itu dengan sendirinya dapat di kontrol.
Kemudian dibuatlah berbagai peraturan perjalanan haji antara lain melalui
ordonansi 1825, dimana perjalanan haji diawasi secara ketat dengan bermacam
cara.
Kecurigaan Belanda terhadap ummat Islam di Nusantara memang sudah
berlangsung sejak lama, paling tidak sejak Sultan Agung Mataram menyerang
Batavia pada tahun 1628 yang mengakibatkan terbunuhnya Gubernur Jenderal Jan
Pieterzoon Coen, disusul oleh perlawanan pada abad-abad berikutya seperti
terjadinya Perang Aceh, Perang Padri, Perang Diponegoro dan sebagainya, yang
semuanya dipelopori oleh umat Islam.
Pada tahun 1912 KH Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah, dan
melalui organisasi ini beliau mendirikan Badan Penolong Haji yang di ketuai KH
Muhammad Sujak. Badan inilah yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya badan
pengurusan haji yang diselenggarakan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu.
***
Menurut
penuturan almarhum kekekku dari pihak ibu, Haji Abdul Gani, yang menunaikan
ibadah haji pada sekitar awal abad ke-20 (aku kurang tahu tahun berapa tepatnya),
sekitar awal-awal Ibnu Saud merebut kekuasaan tanah Arab dari dinasti Rashidi,
atas bantuan kaum Wahabi. Pada saat itu unta masih berperan sebagai transport
bagi jamaah haji selama berada di tanah Arab. Pergi naik haji bermula naik
kapal laut dari Tanjung Pandan (Belitung) ke Batavia (Jakarta), lalu naik kapal
laut ke Singapura, dan dari sana naik kapal laut ke Jeddah. Didalam pelayaran
ibunda beliau (beliau naik haji bersama ibunya) wafat dan dimakamkan di Laut
Sakotra.
Para jamaah haji pada ketika itu ditempatkan di pemondokan para Syekh
(semacam maktab sekarang ini). Kota Makkah sebagian masih merupakan gurun
pasir, Safa dan Marwah masih terpisah dari Masjidil Haram, sehingga pelaksanaan
sa’i masih dilakukan diatas lapangan. Air di pemondokan para Syekh di suplai didalam
semacam tong yang diangkut oleh himar (keledai). Sumur zamzam masih berada
ditempat terbuka dan cara mengambil airnya diciduk dengan timba. Peran orang
Badwi sangat diperlukan sekali dalam kegiatan ini dan segala kegiatan lainnya.
Pada saat pelaksanaan tawaf dan sa’i bagi jamaah lansia dan uzur dapat disewa
tandu yang dipikul oleh dua orang didepan dan belakang, bahkan ada yang
digendong (istilah kakekku diambin). Kini kegiatan semacam ini dilakukan dengan
korsi roda yang banyak dapat disewa di Masjidil Haram.
Yang menarik perjalanan dari Makkah, ke Arafah, Muzdalifah, Mina, pergi
pulang dilakukan oleh jamaah haji dengan naik unta, terutama untuk jamaah haji
usia lanjut dan uzur, dan banyak pula yang berjalan kaki. Lebih mengesankan
lagi perjalanan dari Makkah ke Madinah yang jaraknya hampir 500 Km, pun
dilakukan dengan naik unta yang tergabung dalam barisan kafilah yang panjang.
Penumpang naik diatas sekedup, semacam pelana, tempat duduk yang dibuat dari
kayu yang dipasang di punggung unta. Dapat dibayangkan jika setiap unta
ditumpangi dua orang, berapa ekor unta yang diperlukan dan berapa panjang pula
barisan kafilahnya. Semua jamaah haji ketika itu berangkat langsung ke Makkah,
melalui pelabuhan Jeddah, tidak ada yang ke Madinah dulu, begitu pula pulang
dari Madinah, khususnya jamaah haji Indonesia (Hindia Belanda masa itu) naik
kapal lewat pelabuhan Jeddah.
Lain lagi cerita almarhumah embahku (dari pihak ayah) Nyi Hajjah
Rukoyah dari Cibarusah (Jawa Barat), beliau naik haji sekitar awal abad ke-20
juga, sekeluarga belasan orang mengikuti ayahanda beliau H. Muhammad Hussain.
Beliau anak yang paling kecil dan belum menikah, maksud keluarga besar tersebut
ingin mukim di Makkah untuk beberapa musim haji (pada masa itu jamaah boleh
mukim). Di Makkah keluarga H. Muhammad Hussain berkenalan dengan seorang pemuda
dari Betawi bernama H. Abdul Majid, yang telah beberapa tahun lebih dahulu
mukim di Makkah untuk menuntut ilmu. Singkat cerita setelah selesai ibadah
haji, embah Nyi Hajjah Rukoyah dinikahkan dengan pemuda H. Abdul Majid. Tetapi
sayang pernikahan ini tidak bertahan lama, konon ayahanda dari H. Abdul Majid
yaitu H. Abdul Somad di Betawi tidak merestui pernikahan itu, alasannya anaknya
dikirim ke Makkah untuk menuntut ilmu, bukan untuk mencari istri. Pasangan muda
ini akhirnya berpisah (cerai) setelah Nyi Hajjah Rukoyah melahirkan seorang
bayi laki-laki yang diberi nama Abdul Hamid (ayahku).
Selang beberapa musim haji setelah itu, kekuasaan kerajaan Arab beralih
dari dinasti Rashidi kepada dinasti Saud, jamaah haji asal Jawi (maksudnya
Jawa) dan beberapa negeri lainnya yang bermukim diperintahakan meninggalkan
Makkah. Keluarga H. Muhammad Hussain memilih meninggalkan Makkah melalui jalur
darat, membawa antara lain ayahku Abdul Hamid yang ketika itu masih berusia balita.
Entah beberapa negara mereka lalui, pakaian pun sudah compang camping,
kehabisan uang, kadang hidup dari belas kasihan orang sepanjang perjalanan. Akhirnya
mereka sampai ke sebuah kota pelabuhan yang terletak di pantai selatan India. Disini
H. Muhammad Hussain berkenalan dengan seorang saudagar asal Borneo (sekarang
Kalimantan) yang berkenan mengongkosi rombongan keluarga tersebut naik kapal
laut sampai ke Pulau Jawa. Menurut cerita embahku, semua ongkos tersebut
diganti oleh H. Muhammad Hussain setiba di kampung halaman.
Pamanku H. Abdul Halim Majid dari Jakarta yang naik haji pada dekade
1960-an masih mengalami haji laut (dengan kapal laut), tetapi dua orang
saudara-nya yang lain yaitu H. Abdul Syukur Majid yang naik haji pada dekade 1970-an
dan H. Abdul Munif Majid dekade 1980-an
sudah haji udara. Ibu Masturah, istri H. Abdul Syukur pada ketika itu tidak
dapat diberangkatkan karena selama ditampung di asrama haji mendadak jatuh
sakit.
Pemeriksaan kesehatan bagi jamaah haji sejak dulu memang cukup ketat,
yang sebelum pemberangkatan kedapatan sakit atau wanita yang sedang hamil,
dibatalkan keberangkatannya. Pasal masih banyak yang wafat waktu menunaikan
ibadah haji, baik karena sakit setelah tiba di Tanah Suci, atau diakibatkan
kelelahan, pengaruh cuaca atau akibat dari kecelakaan, semuanya atas ketentuan
dari Allah SWT. Sesungguhnya hanya Dia-lah Yang Maha Mengetahui dan Maha
Menentukan.
Begitu pula manakala Allah SWT berkenan mengundang seseorang untuk
berkunjung ke Tanah Suci menunaikan ibadah haji berbagai cara atau jalan
dilimpahkan-Nya atas hamba-Nya. Dahulu di kampungku hidup seorang janda tua
yang setiap hari berjualan kueh titipan orang keliling kampung, dari
kehidupannya yang miskin tidak mungkinlah beliau dapat melaksanakan ibadah
haji. Beliau mempunyai keterampilan lain yaitu pandai memijat badan orang,
semua penduduk kampung mengetahui akan hal ini. Alkisah pada suatu waktu datang
ke kampung kami seorang muballigh Arab yang tinggal di Makkah dan sempat berada
dikampung kami beberapa lama untuk berdakwah. Suatu ketika sang muballigh
merasakan seluruh tubuhnya ngilu dan penat, orang menganjurkan agar dipijat
oleh ibu tua tadi, tetapi sang muballigh menolak karena tubuh lelaki
diraba-raba seorang perempuan yang bukan muhrim adalah terlarang walaupun dia
sudah tua. Ketika rasa ngilu dan penat tak tertahan akhirnya sang muballigh mau
dipijat sang nenek, dengan syarat janda tua itu dinikahinya lebih dahulu.
Alhasil nenek dinikahkan dengan sang muballigh, dan jadilah nenek seorang istri
yang dengan bebas memijat muballigh kapan saja dikehendaki.
Selang beberapa waktu kemudian sang muballigh pulang ke Makkah, dan
sang nenek sebagai seorang istri dibawa serta. Sempat beberapa musim haji
berada disana dan ikut menunaikan ibadah haji bersama sang muballigh, sampai
pada suatu saat sang nenek merasa rindu kampung dan ingin pulang. Hal itu
disampaikan pada suaminya dan sang muballigh yang baik hati pun tidak berkeberatan
bahkan mengongkosinya untuk pulang sampai ke kampung. Setibanya di kampung
tentu dengan status hajjah beliau sangat dihormati orang dan menjalani hayat
beberapa tahun lagi sebelum wafat.
Cerita-cerita diatas adalah beberapa contoh apabila Allah SWT
menghendaki semuanya bisa terjadi. H. Muhammad Hussain yang pergi melakukan ibadah
haji dengan rombongan keluarga besar tentulah bukan orang miskin, tetapi Allah
SWT berkehendak lain, situasi di Makkah menyebabkan mereka harus meninggalkan
kota suci itu lewat jalur darat, hidup merana sepanjang perjalanan, kehabisan
belanja dan dalam keadaan compang camping hidup dari belas kasihan di negeri
orang, katakanlah sebagai peminta-minta, kontras sekali dengan keadaan mereka
sesungguhnya yang di negerinya hidup dalam kondisi berkecukupan. Allah SWT
telah menyadarkan mereka bahwa beginilah rasanya hidup orang miskin, hidup dari
belas kasihan orang lain.
Sebaliknya nenek janda tua miskin penjual kueh mendapat anugerah dari
Allah SWT, dalam usianya yang sudah tua, dinikahi muballigh Arab, dibawa ke
Makkah dan diajak menunaikan ibadah haji, sesuatu hal yang tidak mungkin dan
tidak direncanakan.
Begitu pula dengan ibu Masturah yang telah direncanakan dan telah siap
untuk berangakat haji, tiba-tiba jatuh sakit ketika berada di asrama haji, maka
keberangktannya dibatalkan.
Direncanakan atau tidak direncanakan, kaya ataupun miskin, sehat
wal’afiat ataupun uzur, tua ataupun muda, segala perjalanan hidup berada dalam
genggaman Allah SWT, apa yang dikendaki oleh-Nya pasti terjadi, sesungguhnya
Dia Yang Maha Mengetahui, Maha Mengatur, Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha
Penolong.
Contoh lebih nyata terjadi pada diriku, aku dapat undangan dalam usia
yang telah lanjut, sebaliknya dalam rombongan kami terdapat sejumlah anak-anak
muda yang dalam kondisi prima, kami bergabung bersama menunaikan ibadah haji
karena pada waktu yang bersamaan kami mendapat undangan dari Allah SWT untuk
mengunjungi tanah suci, tiada perbedaan antara yang tua dengan yang muda,
semunya sama dihadapan-Nya, manakala Dia menghendaki sesuatu semuanya pasti
terjadi. Alhamdulillah.
Almarhum H. Abdul Said Manan (dari Belitung) yang naik haji dekade
ujung 1970-an, tidak mengikuti rombongan haji Indonsia, tetapi mengurus sendiri
via Singapura dengan pesawat udara, beliau bercerita masih ditampung di
pemondokan seorang Syekh yang baik bernama Damanhuri.
Dekade 1960-an pemberangkatan haji dengan cara diundi, seorang
kenalan-ku Pak Hadis asal Madura yang berminat naik haji suami istri beberapa
kali gagal, akhirnya ketika dapat awal 1970-an ongkos naik haji (ONH) telah melambung tinggi, hingga
cukup untuk naik haji seorang dan berangkatlah ibu Hadis sendirian.
***
Pada zaman penjajahan Jepang
dan masa pergolakan peberangkatan jamaah haji terhalang, konon banyak jamaah Indonesia
yang pergi haji dengan cara sembunyi-sembunyi dengan perahu layar.
Kesimpulannya pada kurun waktu apapun, dalam situasi bagaimana pun,
perang apalagi damai, semangat ummat Islam untuk menunaikan ibadah haji ke
Makkah tetap selalu menggebu-gebu, tidak luntur walaupun menghadapi segala
resiko, tantangan, rintangan dan halangan.
Setelah masa kemerdekaan, pemerintah Republik Indonesia melalui
Kementerian Agama (kemudian berobah jadi Departemen) memfasilitasi
pemberangkatan haji dengan berbagai cara sejak dari pembentukan Yayasan
Penyelenggara Haji Indonesia (YPHI) hingga sistem KBIH seperti sekarang ini.
Pasal terjadi banyak kekurangan, kita dapat memaklumi bahwa mengurus
hal yang cukup rumit bukanlah sesuatu yang mudah, tetapi waktu demi waktu kita
harapkan adanya perbaikan-perbaikan, buktinya pada pelaksanaan haji tahun 1428
M/2007 H dinilai cukup memuaskan bahkan sebuah pemberitaan media melansir yang
terbaik sejak 16 tahun terakhir.
Telah terjadi perbaikan yang cukup drastis bila
dibandingkan dengan penyelenggaraan haji tahun sebelumnya (2006) yang mendapat
banyak sorotan negatif terutama sekali dalam bidang katering. Sebaiknya
pelayanan katering diserahkan pada pemerintah Saudi Arabia saja, karena mereka
tentu sangat memahami situasi lokal terutama harga bahan makanan untuk konsumsi
para jamaah. Pemerintah Indonesia selaku tamu cukup melayani ketertiban
adiministrasi dan dokumen saja.
Entah pada tahun 2007 ini katering
ditangani oleh siapa, tetapi kami menyaksikan sendiri situasi dapur umum di
Mina yang dikerjakan oleh pekerja yang berbahasa Arab, dimana didirikan
tungku-tungku masak besar dan panci-panci berdiameter besar pula dengan bahan
bakar kayu bahkan sebagiannya akar-akar pohon besar entah dari mana mereka
peroleh. Pelayanan pembagian makananan pun cukup teratur dilayani anak-anak
muda lelaki Arab usia belasan tahun. Pelaksanaan haji tahun 2007 ini patut
dijadikan contoh penyelenggaran haji pada tahun-tahun berikutnya, paling tidak
dalam hal urusan kateringnya.
Pemberangkatan jamaah haji Indonesia dewasa ini diatur lewat
embarkasi-embarkasi, semula hanya lewat embarkasi, bandara internsional
Kemayoran (Jakarta, sebelum ada Bandara Soekarno-Hatta), kemudian lewat Soekarno-Hatta.
Pada dewasa ini di beberapa kota di Indonesia telah terdapat bandara dengan
status internasional, maka untuk praktis dan menampung minat membeludaknya niat
umat Islam Indonesia untuk menunaikan ibadah haji khususnya daerah, maka oleh
pemernitah ditetapkan beberapa bandara untuk embarksi (pemberangkatan) jamaah
haji. Pada tahun 2000 terdapat 7 embarkasi, 2001 s/d 2003 ada 8 embarkai, 2004
s/d 2005 ada 9 embarkasi, dan mulai tahun 2006 hingga sekarang terdapat 11
embarkasi yang meliputi bandara Soekarno-Hatta (Jakarta), Juanda (Surabaya),
Hassanuddin (Makassar), Polonia (Medan), Sepinggan (Balikpapan), Adi Sumarmo
(Solo), Sultan Iskadar Muda (Aceh), Hang Nadim (Batam),Syamsuddin Noor
(Banjarmasin), Minangkabau (Padang) dan Sultan Mahmud Badaruddin II
(Palembang).
Pemberangkatan dari Indonesia semula menyinggahi beberapa bandara/kota,
untuk menambah bahan bakar pesawat seperi Kolombo (Srilanka), New Delhi (India),
Muskat (Oman) dan lain-lain, tetapi kini langsung dari Indonesia ke Jeddah atau
Madinah.
Jumlah jamaah yang menunaikan ibadah haji dari seluruh dunia diwasa ini
konon telah mencapai lebih dari 3 juta orang. Indonesia sendiri mendapat jatah
yang disebut kwota sekitar 220.000 orang atau kira-kira satu permil dari jumlah
penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Bayangkan betapa padatnya
kota Makkah pada saat-saat orang menunaikan ibadah haji. Pemerintah Saudi
Arabia terus menerus berusaha memperluas Masjidil Haram dan arealnya untuk dapat
menampung semuanya itu.
Jamaah haji Indonesia pun terus menerus berlimpah, konon yang sekarang
telah terdaftar di Departemen Agama untuk masa haji sampai 10 tahun mendatang.
Kita do’akan supaya perluasan Masjidil
Haram maupun arealnya oleh pemerintah Saudi Arabia berhasil dengan baik, kwota
haji Indonesia akan bertambah serta perbaikan sistem pengelolaan oleh pemerintah
Indonsia sendiri, sehingga orang telah mendaftar untuk menunaikan ibadah haji tak
usah menunggu berpuluh tahun lagi untuk dapat diberangkatkan. Insya Allah.
Walaupun obyek dan pelaksanaan ritualnya tetap sama, tetapi situasi
kondisi dari zaman ke zaman bahkan dari tahun ke tahun berbeda, apalagi akhir-akhir
ini pemerintahan Kerajaan Saudi Arabia giat melakukan pembangunan fisik
diseluruh negeri, terutama tempat-tempat yang ada hubunganannya dengan
pelaksanaan ibadah haji dan tempat-tempat yang banyak dikunjungi orang dalam
rangka melaksanakan ibadah haji. Hal ini
mendukung perbedaan situasi dan kondisi yang di dilihat dan dialami para
jamaah, hingga cerita masing-masing akan berbeda pula.
Misalnya cerita dari jamaah haji tahun 2006 akan berbeda dengan jamaah
tahun 2007 dan seterusnya, apalagi beda dekade dan beda zaman. Cerita jamaah
haji ketika masih zaman kapal laut tentu berbeda dengan jamaah zaman pesawat
udara. Cerita orang menunaikan ibadah haji dalam usia yang telah lanjut seperti
aku, akan berbeda dengan cerita anak-anak muda yang fisik-nya masih kuat, begitu
pula cerita jamaah yang ikut gelomang I (satu) yang ke Madinah lebih dulu, akan
beda dengan cerita jamaah yang ikut gelombang II (dua) ke Makkah lebih dulu,
sesuai dengan apa yang dialami oleh masing-masing. Tetapi apapun situasinya,
tetapi obyek dan pelaksanaan ritualnya tetap sama, karena sudah merupakan
ketentuan tetap dan pasti berlaku sepanjang zaman, menurut tatacara dan pedoman
yang ditetapkan dalam Al Qur’an dan Hadist.
***
BAGIAN KETIGA
BERANGKAT KE TANAH SUCI
Tanggal 12
Desember 2007, hari Rabu, bakda Isya’ sekitar pukul 20.00 WIB, aku dan Umak
dijemput oleh Fajar untuk berkumpul di rumahnya di Depok (Fajar dan keluarga
tinggal di Depok dan kami suami istri di Bogor), karena keesokan harinya, kami akan
bersama-sama berangkat ke Asrama Haji Bekasi bergabung bersama jamaah haji
Indonesia embarkasi bandara Soekrno-Hatta kloter 83.
Di rumah Perumnas Bantar Jati Bogor dengan diiringi sholawat dan do’a
kami dilepas oleh ibu-ibu pengajian dibawah pimpinan Ibu Hajjah Nur Yuli (ibu
Hambali ) yang antara lain dihadiri oleh ibu Eman Sulaiman, ibu Saptadi, bapak
Jumain (istrinya telah berangkat duluan ke Makkah ikut gelombang satu) dan
beberapa tetangga kami lainnya. Tiba di Depok sekitar pukul 22.00 dan kami
bermalam disana.
Tanggal 13 Desmber 2007, hari Kamis pulul 05.30 kami berempat berangkat
dari rumah Fajar naik taksi ke Masjid At Tin TMII Jakarta tempat jamaah Daarut
Tauhiid kloter 83 berkumpul, dengan dilepas oleh besan kami ibu Hajjah Titi
Hidayat dan cucu-cucu kami Fakhri dan Fahmi.
Tiba di Masjid At Tin sekitar pukul 06.30, disana telah menunggu tiga
orang anak kami Cahya Surya, Tanti Surya dan Vista Surya berama suaminya H.
Monang Hasibuan, untuk melepas kami. Di masjid At Tin kami menunggu sampai
pukul 09.30 dan dari sini diberangaktkan dengan dengan bus ke Asrama Haji Bekasi.
Tiba di Asrama haji Bekasi (Jawa Barat) pukul 10.30 menempati kamar
A1/102. Pemeriksaan kesehatan tidak ada problem, disertai oleh nasehat dokter
seperti dimuat dalam buku kesehatan haji. Kemudian bagi living cost
masing-masing Rs. 1.500,- (seribu lima ratus real).
Sorenya di Asrama Haji kami dikunjungi adik-adik yaitu Hj. Hamidah
beserta anaknya Ira, Hj. Latifah, Hj. Wardah,
H.Abdul Hadi beserta istrinya Hj. Neneng, Hj. Nenah Hasanah, Abdul Muis
dan Kokom Komariah.
Di Asrama haji banyak digelar dagangan seperti oleh-oleh Makkah yang
dapat dibeli disini dan penukaran uang rupiah ke real, atau sebaliknya.
Tanggal 14 Desember 2007, hari Jum’at, pukul 06.30, diberangkatkan
dengan bus dari Arama Haji ke Bandara Soekarno-Hatta, tiba pukul 08.15. Semua
koper milik jamaah telah dibawa dan dimasukkan ke pesawat lebih dahulu, yang
dibawa jamaah hanyalah tas tentengan yang berisi barang-barang kebutuhan
seperlunya.
Rombongan mengambil pelaksanaan HAJI TAMATTU’ , jadi mengerjakan umrah
lebih dahulu, baru mengerjakan haji. Ihram umrah dan shalat dua rakaat
dilakukan di bandara Soekarno-Hatta. Sebelum naik pesawat kami harus antri
cukup lama untuk penyelesaian dokumen, kemudian baru naik ke pesawat.
Pukul 09.45 tinggal landas dari bandara Soekarno-Hatta dengan pesawat
Saudi Air Lines menuju Jeddah, Saudi Arabia. Penerbangan haji ini adalah
gelombang II (dua), kloter 83, Nomor Flight SV.5021.
Negeriku Indonesia tercinta untuk sementara waktu ditinggalkan dulu dan
kita mulai mengayunkan langkah dengan diiringi ucapan BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM.
***
BAGIAN KEEMPAT
TIBA DI TANAH SUCI
Aku dan Fajar dapat tempat duduk di kursi bagian kiri
pesawat, deretan paling belakang disudut (pojok) dekat jendela dengan kaca yang
terang, sehingga dapat bebas dan nyaman melihat pemandangan alam dari atas
pesawat, tempat dudukku bernomor 371. Umak dan Endah dapat tempat duduk
dideretan tengah. Karena terbang kearah barat, pesawat berada di udara pada
waktu siang hari terus sampai ke Jeddah.
Di pesawat dibagikan beberapa kali makanan terdiri dari nasi dan lauk
pauk yang cukup baik, dan tentu saja minuman. Dari layar televisi dapat
dipantau keadaan cuaca dan informasi sekarang kita berada dimana, diatas udara
negara apa. Di-informasi-kan pula setiap tiba waktu shalat, hingga jamaah dapat
melakukan shalat ditempat duduk masing-masing setelah tayamum.
Pesawat mendarat di King Abdul Aziz International Airport (KAAIA)
sekitar pukul 16.00 waktu setempat (sekitar pukul 20.00 WIB) setelah lebih
kurang 9-10 jam terbang. Karena agak lelah aku tak sempat lagi membandingkan
dengan bandara Soekarno-Hatta, yang jelas pesawat baik yang mendarat maupun
yang parkir di landasan banyak sekali dengan identitas dan bendera dari berbagai negara, walaupun
pada saat itu sudah mendekati penutupan bandara menjelang pelaksanaan ibadah
haji. Konon kloter 83 merupakan pesawat haji terakhir yang terbang dari
Indonesia (tak ada kloter lain lagi dibelakangnya). Terkesan petugas keamanan
maupun petugas pelayanan bandara (mungkin bea cukai, aku tak bisa membedakannya)
bersikap cukup ramah, berbeda dari kesan angker seperti sering diceritakan
orang, atau mungkin karena kami tiba pada saat-saat jelang penutupan bandara hingga pemeriksaan
tidak begitu ketat lagi, demikian pula pengurusan barang bawaan (koper) relatif
tidak sulit kendati agak berebutan (dimana-mana pun lazimnya begitu). Alhasil
prosedur di bandara cukup cepat dan lancar. Alhamdulillah.
Yang terasa lama adalah menunggu pemberangkatan dari bandara KAAIA ke
Makkah, semua jamaah nampak tidak sabar. Sambil menunggu banyak diantara
rekan-rekan jamaah yang menawarkan makanan yang mereka bawa, tetapi selain di
pesawat telah mendapat makan, perut pun tak merasa lapar, yang terpikir hanya
ingin cepat-cepat melihat kota Makkah, Kota Suci yang menjadi tujuan.
Akhirnya setelah menunggu selama hampir tiga jam di bandara KAAIA
(setelah shalat maghrib berjamaah) sekitar pukul 19.00 kami diberangkatkan
menuju Makkah dengan kendaraan bus (rombongan/konvoi). Perjalanan terasa lamban
(sholat isya’ di kendaraan/bus), selain karena padatnya lalu lintas kendaraan,
juga bus sering berhenti di tempat yang ramai. Yang menarik pada setiap perhentian,
berloncatan orang (tidak jelas orang Arab atau bukan, apa lagi banyak
diantaranya yang berkulit agak gelap) yang umumnya berbahasa Arab, dan ada pula
yang sepatah-sepatah berucap dalam bahasa Indonesia atau Melayu atau Inggris.
Tetapi jangan kaget mereka bukan ingin ngamen seperi di banyak kota di
Indonesia, tetapi mereka membagikan kurma dalam kemasan plastik atau kotak dan
air mineral, sambil berucap
Assamualaikum Andunisi (mungkin maksudnya Indonesia, karena melihat
penampilan fisik kami), selamat haji,….mabrur, …. mabrur, ….gratis, … syukron,
…. syukron, …. dan seterusnya tidak jelas, campur-campur bahasa Arab, kadang
bahasa Inggris dan Indonesia. Kalau kita mau, mereka memberikan dua tiga paket
atau lebih dari sebotol air mineral, tapi mana tahan gimana bawanya. Buktinya
banyak jamaah yang meninggalkannya di bus waktu turun di maktab, terkesan
mubazir.
Memasuki kota Makkah banyak jamaah menangis tersedu-sedu, tak
terkecuali aku, berlinang air mata, rasanya bagaikan mimpi hadir di Kota Suci,
kota tempat lahirnya Rasulullah SAW, dan wahyu Illahi pertama diterima oleh
beliau. Terima kasih Ya Allah, Engkau telah mengundang kami berkunjung ke Kota
Suci Makkah Al Mukarramah untuk menunaikan Ibadah Haji dan memberikan ridha-Mu,
tibanya kami di Kota Suci Makkah Al Mukarramah ini berkat izin-Mu pula. Segala
puji bagi-Mu Ya Allah, dan salam serta shalawat bagi junjungan kami Nabi Besar
Muhammad SAW. Amin,….Amin,…. Amin,…. Ya Rabbal Alamin. Alhamdulillah.
***
Agak
membingungkan, bus putar-putar kota Makkah cukup lama, tetapi maktab yang
dituju tak ketemu. Tertulis di buku pedoman yang diterbitkan Daarut Tauhiid
alamat maktab adalah Sib ‘Amir – Maktab 7 Nomor 130 dan 133, tetapi pengemudi
bus yang ditugaskan dan seharusnya sudah diberi tahu sebelumnya seperti tidak mengetahui alamat itu. Kami semua
gelisah apalagi hari kian bertambah larut, yang menjadi kesulitan karena
diantara kami tidak ada yang bisa berbahasa Arab, sehingga tidak dapat bertanya
kepada penemudi, apakah gerangan yang telah terjadi. Entah bagaimana gerangan
awalnya, salah seorang jamaah (atau beberapa orang) berinisiatif mengumpulkan
sejumlah uang (real) dari para jamaah, dan setelah terkumpul dengan khidmat
dipersembahkan kepada sang pengemudi. Sehabis terima real, sang pengemudi
bangkit dari tempat duduknya dan mengangkat kedua belah tangannya, mengacungkan
kedua jempolnya sambil berkata,….. Indonesia bagus, …. syukron,… (aku
terhenyak, dan tak dapat berucap apa-apa, hamya terpikir didalam hati, o,
begini rupanya….). Bus kemudian dihentikan dan pengemudi turun sejenak (entah
untuk apa), kemudian naik kembali dan kendaraan bergerak, dalam waktu yang tak
begitu lama maktab yang dicari pun ketemu. Ternyata alamatnya di kawasan
Maabdah (teman-teman ada yang berseloroh maaf deh), Ya Allah ampuni kami, kata
itu terucap hanya karena kami (bukan orang
seorang) dalam keadaan kelelahan dan spontan, mudah-mudahan tidak
disengaja, dan apabila disengaja sekali lagi ampunilah kami. Tempat ini memang
maktab 7 dengan nomor 130 dan 133, namun bukan di Sib Amir seperti tertulis
didalam buku pedoman tetapi di kawasan Maabdah. Mungkin karena kesalahan
koordinasi dari panitia penyelenggara ataupun keliru tulis, semuanya bisa
terjadi, manusia tidak sempurna, tidak lepas dari sifat khilaf. Ya Allah
ampunilah mereka dan ampunilah kami semua. Kawasan Maabdah terletak sekitar 3
Km dari Masjidil Haram, sedangkan Sib Amir terletak lebih dekat sekitar
sepertiganya, hal ini kami ketahui belakangan setelah beberapa hari berada di
kota Makkah.
Saat tiba di maktab hari telah menjelang tengah malam dan kami
ditempatkan di maktab 7/133, tidak begitu jauh letaknya dari maktab 7/130.
Tempatnya lebih kecil hanya 4 lantai jauh lebih kecil dari maktab 7/130 yang
berlantai belasan, tetapi belakang hari ternyata tempat ini banyak hikmahnya
buat kami. Alhamdulillah.
***
BAGIANN KELIMA
UMRAH
Ada banyak Buku
Bimbingan Manasik Haji yang diterbitkan oleh berbagai pihak yang pada umumnya
isi, tujuan dan hakikatnya sama, akan tetapi karena Penyelengaraan Ibadah Haji
di Indonesia dikoordinir oleh Departemen Agama Republik Indonesia, maka Buku
Bimbingan Manasik Haji yang diterbitkan oleh Departemen Agama lah yang kita
pakai sebagai pedoman.
Didalam Buku Bimbingan Manasik Haji tahun 2007 yang diterbitkan oleh
Departemen Agama Republik Indonsia, buku A.2
halaman 11 tentang pengertian dari pada UMRAH disebutkan :
UMRAH :
Pengertian Umrah : Umrah ialah berkunjung ke Baitullah, dengan
melakukan tawaf, sa’i dan bercukur demi mengharap ridha Allah.
Hukum Umrah : Hukum umrah wajib sekali seumur hidup. Umrah
dilakukan dengan berihram dari miqat, kemudian tawaf, sa’i dan diakhiri dengan
memotong rambut/bercukur (tahallul umrah) dan dilaksanakan dengan berurutan
(tertib). Umrah terbagi menjadi 2 (dua) umrah wajib dan umrah sunat.
1. Umrah
Wajib.
a.
Umrah yang pertama kali dilaksanakan disebut juga Umratul Islam.
b.
Umrah yang dilaksanakan karena nazar.
2. Umrah
sunat ialah umrah yang dilaksanakan setelah umrah wajib baik yang kedua kali
dan seterusnya dan bukan karena nazar.
Waktu mengerjakan Umrah : Umrah dapat dilaksanakan kapan saja. Hanya
ada beberapa waktu yang dimakruhkan melaksanakan umrah, yaitu pada saat jamaah
haji wukuf di Arafah, hari Nahar (10 Dzulhijjah) dan hari Tasyriq.
Rukun Umrah :
1.
Ihram (niat)
2.
Tawaf
3.
Sa’i
4.
Cukur
5.
Tertib (melaksanakan ketentuan manasik
sesuai aturan yang ada).
Rukun umrah tidak dapat ditinggalkan. Bila tidak terpenuhi, maka
umrahnya tidak sah.
Wajib Umrah : Ialah
berihram dari miqat apabila dilanggar maka ibadah umrah-nya tetap sah tetapi
harus bayar dam.
Setelah mengemasi kamar masing-masing, sekitar pukul 00.00 kami
berngkat menuju Masjidil Haram untuk melakukan tawaf dan sa’i. Yang tidak sabar
menunggu angkutan pergi berjalan kaki, terutama anak-anak muda yang memang
masih kuat (catatan rombongan kami didominasi
sekitar 60 persen anak muda bahkan ada diantara mereka yang belum berkelurga).
Sampai di Masjidil Haram kami langsung melakukan tawaf keliling Ka’bah
7 kali, di lantai dasar dekat Ka’bah,
walaupun tidak terlalu dekat karena ratusan ribu manusia saling
berdesak-desakan (dewasa ini Masjidil Haram telah dibangun dalam beberapa
lantai, dan kita bisa melakukan tawaf di lantai berapa saja sesuai dengan
kemampuan fisik kita). Dengan susah payah dan dibantu oleh anakku Fajar (aku
sendiri merupakan manusia lansia yang
pada saat itu sudah berusia 70 tahun) Alhamdulillah berhasil menyelesaikan
tawaf dan dilanjutkan dengan sa’i berjalan kadang berlari kecil/perlahan dari
bukit Safa ke bukit Marwah bolak balik sebanyak 7 kali (masa kini bukit Safa
dan Marwah telah menyatu dengan lingkungan Masjidil Haram dan ditata dengan
begitu apik dan indah).
Pada waktu kami sedang melakukan sa’i pada
putaran ke-5 dan berada persis di bukit Marwah terdengar kumandang azan subuh,
semua jamaah yang sedang melakukan tawaf maupun sa’i harus berhenti dulu untuk
mengikuti shalat subuh, sesuai ketentuan sisanya yaitu putaran ke-6 dan ke-7
dapat dilakukan setelah shalat, harus disambung kembali mulai dari tempat
terakhir berhenti. Karena kami berhenti persis di bukit Marwah, maka putaran
ke-6 harus dimulai kembali dari tempat tersebut.
Menanti shalat shubuh dilaksanakan kami
masuk ke ruangan dalam Masjidil Haram yang sudah sangat padat, dikarenakan pada
waktu itu jamaah dari seluruh penjuru dunia tumplek di Makkah menjelang
pelaksanaan wukuf di Arafah. Jamaah yang baru tiba di Makkah, termasuk kami,
dan yang datang dari Madinah semuanya kumpul disana. Kami dapat tempat dibawah
sebuah tangga. Nah, ditempat inilah kami bersua, bersalaman, berkenalan dan
sempat berbincang dengan seorang jamaah Afrika asal Somalia. Dia berbahasa
Inggris cukup lancar dan bercerita bahwa dia sekarang tinggal di Inggris,
bekerja sebagai sopir taksi di kota London, telah beristri dan mempunyai beberapa
orang anak lelaki dan perempuan. Naik haji sendirian langsung dari London,
membawa beberapa bulletin yang nampaknya dikeluarkan oleh kelompok Islam yang
berada di Inggris berisi antara lain pedoman melasanakan ibadah haji. Dia juga
bercerita bahwa di negerinya (Somalia) bagi mereka yang beragama Islam, aturan
berlaku keras terutama kepada mereka yang beralih (pindah) agama (murtad), sehingga
orang jangan coba-coba pindah agama, dan ceritanya pula pemeluk agama Islam disana
mencapai seratus persen. Aku jadi ingat kepada berita yang sering dilansir media bahwa Somalia negeri yang kurang aman,
sering dilanda kerusuhan dan belakangan konon banyak perompak laut yang sering
mengganggu pelayaran internasional. Sedang asyik berbincang, terdengar
kumandang iqomah dan kami pun mengikuti shalat shubuh bersama jamaah lainnya.
Selesai shalat shubuh kami melanjutkan sa’i
putaran ke-6 Marwah-Safa dan putaran ke-7 Safa-Marwah, dan sa’i pun dapat kami
selesaikan, ditutup dengan menggunting rambut. Berarti pula ibadah Umroh telah
selesai, karena kami telah melaksanakan semua rukun yaitu niat ihram, tawaf
umroh, sa’i, cukur (gunting rambut) dan tertib (melaksanakan ketentuan manasik
sesuai aturan yang ada). Adapun rukun umrah tidak dapat ditinggalkan. Bila
tidak terpenuhi, maka umrahnya tidak sah.
***
Selesai menggunting rambut hari telah siang, sudah termasuk hari
Sabtu tanggal 15 Desember 2007, berarti hari ke-2 kami berada di Makkah. Keluar
dari Masjidil Haram melalui pintu dekat Marwah, badanku terasa letih yang amat
sangat, berjalan sempoyongan dibimbing oleh Fajar (selama tawaf dan sa’i kami
selalu berbimbingan), kepala pusing. Aku
tak tahan lagi dan merebahkan badan diatas lantai dekat sebuah tong sampah, kata Fajar dan Umak
(istriku), aku tak sadarakan diri (pingsan) beberapa saat. Setelah sadar dan
diberi minum air zamzam, aku duduk termangu sambil menenangkan diri. Aku sempat
berfikir betapa kecilnya seorang manusia dihadapan khaliknya, tergeletak tiada
berdaya, disamping tong sampah pula. Akan tetapi apapun yang terjadi, aku
adalah milik-Nya, dan semua yang terjadi, atas siapa pun juga adalah atas kehendak-Nya, andaikata
pada saat itu aku dipanggil untuk menghadap-Nya, aku ikhlas dan rela. Insya
Allah.
Sehabis itu kami berempat (Fajar, Endah,
Umak dan aku) pergi mencari sarapan karena perut memang sudah keroncongan. Kami
bersua dengan deretan penjual makanan disekitar belakang Pasar Seng (nama Pasar
Seng telah sering aku dengar dari orang-orang yang pernah melaksanakan ibadah
haji), ternyata disana banyak penjual makanan orang Indonesia, yang umumnya
saudara-saudara kita berasal dari Madura yang telah berbahasa Indonesia campur
Arab. Ada nasi uduk, mie dan bihun goreng yang dikemas dalam kotak plastik, ayam
goreng, telur rebus, pergedel kentang dan jagung, serta masakan daging dan ayam
yang tentunya telah dimasak ala Indonesia. Yang menarik begiku, ada sejenis kue
mangkok yang kalau tak salah cara membuatnya adonan dikukus dalam nampan (loyang)
dan setelah matang dipotong-potong belah ketupat dan dimakan dengan kelapa
parut. Jenis jajanan ini dulu banyak ditemui ketika aku tinnggal di Belitung
lebih dari setengah abad yang lalu (aku lahir di daerah ini, tepatnya di kota
Tanjung Pandan), hampir setiap hari aku cari karena aku menyukainya, di
Belitung orang menyebutnya kueh apam. Kami berempat semuanya memilih nasi uduk
dan ayam goreng, khususnya aku tentunya plus kueh apam. Bayangkan aku
bernostalgia makam kueh apam lebih dari setengah abad silam, di kota Makkah
pula. Masya Allah.
Selesai sarapan kami bergerak hendak pulang
ke maktab, akan tetapi bingung tak tahu jalan, hanya kira-kira tadi malam kami
datang dari arah mana, sedangkan rombongan kami sudah terpisah dan terpencar
sendiri-sendiri. Aku berjalan tertatah-titih dibimbing oleh Fajar, setiap
sekitar 100 meter berhenti untuk menurunkan nafas yang terengah-engah, kadang
aku berbaring dipinggir jalan, untungnya jalanan ketika itu sepi (belakangan
kami ketahui pada ketika itu kami berjalan di jalan yang salah/keliru, padahal
jalan ke arah Maabdah adalah jalan yang ramai, terletak membentang dari
Masjidil Haram kearah utara, melalui jalan Al Masjid Al Haram dan Jalan Rea
Zakir, dimana terletak Balai Kota Makkah). Mau bertanya kepada orang Arab kami
tak tahu bahasanya, bertanya dalam bahasa Inggris mereka hanya geleng kepala,
bertanya kepada orang Indonesia yang kami jumpai mereka hanya menjawab
“mungkin” kearah itu (tentunya mereka hanya jamaah haji seperti kami, yang juga
tidak mengetahui seluk beluk kota Makkah). Sebenarnya kami telah berjalan
kearah yang benar, hanya jalannya (rute) yang keliru (kami masuk dari sekitar
kawasan Abu Dawud melintasi Sib Amir yang jalannya tidak begitu ramai, tetapi memang
menuju kearah Maabdah), seharusnya kami berjalan dari depan Pasar Seng melalui
Jalan Al Gudaria terus ke Jalan Al Masjid Al Haram, jalan padat kendaraan
menuju kawasan Maabdah (belakang baru kami ketahui ada rute angkot segala).
Endah dan Umak kemudian terpisah dari kami bertemu rombongan ibu-ibu yang juga
kesasar, tetapi lebih dulu sampai ke maktab. Aku dan Fajar tak dapat ikut
rombongan karena aku berjalan lambat sekali, sempat aku ditinggalkan didepan
sebuah toko yang masih tutup, sementara Fajar pergi sendiri memantau kawasan,
ternyata kami tak jauh lagi dari Maabdah, hanya sekitar beberapa ratus meter.
Fajar balik menjemput aku dan kami tiba di makab dengan selamat, bertemu dengan
anggota rombongan yang telah tiba lebih dahulu termasuk Endah dan Umak.
Alhamdulillah.
Di maktab kami bertukar pakaian dari
seragam ihram ke pakaian biasa karena sudah selesai mengerjakan umroh. Shalat
dhuhur, ashar, maghrib dan isya’ hari itu kami laksanakan di Masjid Al Ijabah
yang terletak dekat maktab.
Hari Ahad tanggal tanggal 16 Desember 2007
atau hari ke-3 kami di Makkah, keadaan badan masih lelah, dipergunakan untuk
istirahat di maktab sambil baca-baca buku pedoman haji dalam rangka menghadapi wukuf di Arafah. Shalat shubuh
di Masjidil Haram (bersama rombongan naik bus yang telah disediakan). Bakda
shubuh seperti kemaren mampir sarapan di belakang Pasar Seng dan pulang ke
maktab naik taksi. Shalat dhuhur, asyar dan naghrib di Masjid Al Ijabah,
sedangkan shalat isya’ di Masjid Malik Abdul Aziz.
***
BAGIAN KEENAM
HAJI
Didalam buku Bimbingan Mansik Haji tahun 2007 yang dikeluarkan
Departemen Agama Republik Indonesia, buku A.2 halaman 13 tentang pengertian
dari pada HAJI disebutkan :
HAJI
:
Pengertian
dan Ketentuan Tentang Ibadah Haji : Pengertian Haji ialah berkunjung ke
Baitullah (Ka’bah) untuk melakukan beberapa amalan antara lain : Wukuf, mabit,
tawaf, sa’i dan amalan lainnya pada masa tertentu, demi memenuhi panngilan
Allah SWT dan mengharapkan ridha-Nya.
Hukum
Ibadah Haji : Ibadah Haji diwajibkan Allah kepada kaum muslimin yang telah
mencukupi syarat-syaratnya. Ibadah haji diwajibkan hanya sekali seumur hidup.
Selanjutnya baik yang kedua atau seterusnya hukumnya sunat. Akan tetapi bagi
mereka yang bernazar (berkaul) haji menjadi wajib melaksakannya.
Rukun
Haji : Ialah rangkaian amalan yang
harus dilakukan dalam ibadah haji dan
tidak dapat diganti dengan yang lain, walaupun dengan dam. Jika ditinggalkan
tidak sah hajinya.
Rukun
Haji adalah :
1.
Ihram (niat)
2.
Wukuf di Arafah
3.
Tawaf ifadah
4.
Sa’i
5.
Cukur
6.
Tertib
Wajib
Haji : Ialah rangkaian amalan yang harus dikerjakan
dalam ibadah haji, bila tidak dikerjakan sah hajinya akan tetapi harus membayar
dam : berdosa jika sengaja meninggalkan dengan tidak ada uzur syar’i.
Wajib
Haji adalah :
1.
Ihram, yakni niat berhaji dari Miqat
2.
Mabit di Muzdalifah
3.
Mabit di Mina
4.
Melontar Jamrah Ula, Wustha dan Aqabah
5.
Tawaf Wada’ (bagi yang akan meninggalkan
Makkah)
Wukuf
: Ialah keberadaan seseorang di
Arafah walaupun sejenak dalam waktu antara tegelincir matahari tanggal 9
Zulhijjah (hari Arafah) sampai terbitnya
fajar tanggal 10 Zulhijjah (hari nahar).
Wukuf
di Arafah termasuk salah satu rukun haji yang paling utama. Jamaah haji yang
tidak melaksanakan wukuf di Arafah berarti tidak mengerjakan haji.
Nabi
bersabda :
Haji
itu hadir di Arafah. Barangsiapa yang datang pada malam hari jama’ (10
Zulhijjah sebelum terbit fajar) maka sesungguhnya ia nasih mendapatkan Haji
(riwayat lima ahli hadits).
***
Tanggal 17 Desember 2007, hari Senin, adalah hari yang ke-4 kami
berada di Makkah bertepatan bertepatan dengan tanggal 8 Zulhijjah 1428 H, waktu
yang dinantikan tiba, kami akan diberangkatkan ke Padang Arafah untuk
melaksanakan wukuf.
Shalat shubuh dilaksanakan berjamaah di
maktab. Seusai berihram haji, mengenakan pakaian ihram, sekitar pukul 10.00
kami diberangkatkan dengan bus menuju Padang Arafah. Shalat dhuhur dan ashar di
kendaraan.
Jalanan sangat padat, kendaraan berjalan
lambat walaupun maju terus, tidak macet. Selain berkendaraan bus, banyak jamaah
yang berjalan kaki, naik pick up dan naik diatas atap bus. Semuanya menuju satu
arah ke Padang Arafah dalam pakian ihram untuk wukuf. Di maktab telah
dikumpulkan sejumlah uang (real) untuk diserakan kepada bapak sopir (pengemudi
bus) menjaga supaya kejadian pada perjalanan dari bandara Jeddah ke maktab beberapa
hari yang lalu tidak terulang lagi. Gema talbiyah berkumandang sepanjang
perjalanan, syahdu sekali. Shalat maghrib di kendaraan dan isya’ setelah sampai
di Arafah.
Dari KBIH Daarut Tauhiid selain yang ikut
program biasa, naik kendaraan ke Padang Arafah, sebagian ada yang ikut program
TANAZUL.
Menurut
Baku Panduan Manasik Haji yang dikeluarkan Daarut Tauhiid, Tanazul
artinya turun atau keluar dari program Haji yang diselenggarakan oleh
Pemrerintah RI dan Saudi Arabia. Yang dimaksud dengan program pemerintah yaitu
program pemberangkatan ke Arafah tanggal 8 Dzulhijjah (hari tarwiyah)
menggunakan bus yang disediakan pemerintah dari Makkah langsung menuju Arafah. Jadi yang dimaksud dengan
keluar, ialah tidak menggunakan program tersebut diatas, tetapi jamaah dengan
resiko masing-masing dengan tetap di koordinir pada tanggal 8 Dzulhijjah berangkat menuju Mina baik jalan kaki maupun
naik kendaraan untuk bermabit di Mina (sholat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan
Shubuh). Setelah shubuh langsung menujuu Arafah untuk melaksanakan Wukuf
bergabung dengan seluruh jamaah yang berhaji. Dengan kata lain Tanazul artinya sebelum
ke Arafah transit terlebih dahulu sehari semalam di Mina. (Hukumnya Sunnat).
Endah mengikuti program Tanazul ini,
sedangkan Fajar tetap mengikuti program biasa, naik bus untuk mengawasi aku dan
Umak (terutama aku) yang takut bermasalah dalam perjalanan.
Padang Arafah luas sekali, bertebaran tenda
(kemah) memutih seantero lapangan,
manusia dari segala macam bangsa didunia berkumpul disana. Entah disengaja atau
tidak (mudah-mudahan tidak, karena memang sulit menuju lokasi ditengah hamparan
tenda yang banyaknya tak terhitung) bus yang kami tumpangi berputar-putar keliling lapangan (padang)
berkali-kali hingga sekitar pukul 20.00 baru
ketemu kemah yang dicari. Kami pun memasuki kemah dan berlaku sesuai
petunjuk yang diberikan, terutama tehadap segala larangan. Di Padang Arafah
kini sudah banyak ditanam pohon, bahkan yang masih kecil atau tunas banyak yang
berada dalam lingkungan kemah. Para jamaah banyak yang berusaha untuk tidak
menggelar tikar didekat pohon/tunas tersebut, khawatir kalau ranting dari pohon
tersebut patah tersenggol oleh mereka, karena memotong tumbuhan sesuatu larangan
selama ihram.
LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK, LABBAIK
KALAA SYARIKALAKA LABBAIK, INNAL HAMDA
WAL NI’MATA LAKAWAL MULKA LAA SYARIIKALAKA
AKU DATANG MEMENUHI PANGGILAN-MU YA
ALLAH, AKU DATANG MEMENUHI PANGGILAN-MU, AKU DATANG MEMENUHI PANGGILANMU, TIDAK ADA SEKUTU BAGIMU YA ALLAH AKU PENUHI
PANGGILANMU. SESUNGGUNYA SEGALA PUJI, NI’MAT DAN SEGENAP KEKUASAAN ADALAH
MILIK-MU, TIDAK ADA SEKUTU BAGI-MU
Tanggal 18 Desember 2007, hari Selasa, hari
yang ke-5 kami berada di kota Makkah, bertepatan dengan tanggal 9 Zulhijjah
1428 H, WUKUF DI ARAFAH. Shalat shubuh di kemah. Siangnya mendengarkan Khutbah
Arafah dari Aa Gym yang disampaikan di kemah rombongan jamaah haji Daarut
Tauhiid . Shalat dhuhur dan ashar jamak taqdim qashar di kemah. Banyak membaca
Al Qur’an dan berdo’a.
Aku dan Fajar menyempatkan diri keluar dari
kemah untuk melihat-lihat suasana Padang Arafah. Di luar kemah banyak jamaah
dari berbagai negara yang juga melihat-lihat suasana seperti kami. Kami sempat
berkenalan dan berfoto dengan beberapa orang antaranya dari negara-negara
Afrika Utara yang berperawakan besar tinggi dan berkulit putih seperti Mesir,
Aljazair, Tunisia, Maroko, Libya dan lain-lain, jamaah dari Afrika yang
berkulit gelap, jamaah dari negara-negara
Asia Tengah, jamaah dari Turki,
Iran, India, China, Malaysia, Thailand dan sebagainya, pokoknya dari segala
pelosok dunia, beragam etnis dan warna kulit, semuanya bersatu melaksanakan
wukuf di Arafah, tanpa merasakan adanya perbedaan diantaranya. Mereka senang
sekali diajak foto bersama, ditutup dengan ucapan syukron atau thank you,
bersalaman dan assamualaikum. Ucapan syukron dan thank you memang populer
sekali diantara jamaah antar bangsa. Salah seorang jamaah dari Afrika berkulit
gelap, ketika kami mengatakan dari Indonesia, berkali dia mengatakan O,
Aceh..Aceh…, barangkali dia mengenal Indonesia itu sebagai Aceh, atau akibat
dari Aceh yang dijuluki sebagai Serambi Makkah. Wallahu alam bissawab.
Kemudian pada kesempatan lain di Makkah dan
Mina kami juga melihat jamaah dari Jerman, Perancis, Rusia dan negera-negara
Eropah lainnya, juga dari Ausralia. Asal negara para jamaah mudah dikenali
karena umumnya ada lambang (gambar bendera kecil) pada kartu atau tas yang dikalungkan
di leher masing-masing, termasuk jamaah Indonesia. Jamaah Thailand dan China umpamanya dengan
jelas mereka menunjuk lambang benderanya, jika kita bertanya negara asalnya.
Dengan jamaah Thailand (umumnya Thailad Selatan) kita berdialog bebas dalam
bahasa Melayu dan mereka senang sekali diajak berbincang sambil menunjuk gambar
bendera negaranya dan berucap Thailand, Tahiland. Apalagi dengan jamaah negara
jiran Malaysia, kita bebas bebas berdialog layaknya dengan bangsa sendiri,
apalagi diantara mereka banyak yang keturunan Indonesia, atau paling tidak
bangsa serumpun, terasa sekali persaudaraannya.
Fasilitas dan akomodasi yang tersedia
selama wukuf di Arafah cukup baik, apalagi karena waktunya relatif singkat kami
tidak banyak mempergunakannya.
Sesudah melaksanakan shalat meghrib dan
isya’ jamak takdim qashar di kemah, dengan bus kami diangkut meninggalkan
Arafah menuju Muzdalifah. Sebagian dari jamaah berjalan kaki, mungkin lebih
cepat tiba ketimbang pakai kendaraan yang berjalan lamban di jalan yang padat.
Sekitar pukul 10.00 tiba di Muzdalifah, turun dari bus disebuah tempat untuk
mencari kerikil kecil, ternyata kami turun ditempat yang kerilnya besar-besar
dan jarang. Baru kemudian seseorang memberi tahu agar kami berpindah ke tempat
yang kerikilnya kecil, ternyata benar dan kami mengumpulkannya dengan mudah
masing-masing orang 70 buah kerikil dan ditempatkan dalam kantong kain yang
telah disediakan. Waktu itu telah lewat tengah malam, banyak anggota rombongan
yang lelah dan mengantuk. Walaupun mampir hanya sekitar 2-3 jam berarti kami
telah mabit di Muzdalifah.
Naik kembali keatas bus, kendaraan
bergerak, namun sekitar setengah jam kemudian bus berhenti disatu tempat yang
sudah banyak kemah, kami kira kami sudah sampai di Mina. Kami turun dari bus
dibimbing ke sebuah kemah yang telah banyak ditempati orang yang telah tiba
lebih dulu dari kami. Disebuah sudut terlihat sekelompok orang berkumpul
seperti sedang berunding. Aku tidak tahu dan merasa tidak perlu tahu apa yang
sedang mereka bicarakan. Belakangan dari informasi teman-teman barulah aku
ketahui bahwa mereka sedang membicarakan tempat (kemah) yang pada waktu itu
kami tempati. Tempat berdiri kemah yang kami masuki berada Mina Jadid (Mina
Baru), Mina yang dimekarkan, memang masih berada di kawasan Muzdalifah, tetapi
karena kawasan Mina sudah padat, maka oleh pemerintah Saudi Arabia kawasan perbatasan
Mina dimekarkan, hingga daerah itu menjadi wilayah Mina, dengan nama Mina
Jadid. Seorang kiai sepuh yang memimpin rombongan lain (bukan Daarut Tauhiid)
tetapi tergabung dalam kloter 83 berpendapat bahwa daerah tersebut masih tetap
wilayah Muzdalifah (bukan Mina), jadi tak boleh melakukan mabit Mina di tempat
itu, jadi harus diteruskan ke kawasan Mina yang sebenarnya. Pimpinan rombongan
kami sesuai petunjuk yang ada berpendapat telah di Mina, karena peluasan atau
pemekaran oleh pemerintah Saudi Arabia sudah sepengetahuan pemerintah Indonesia
dan negara Islam lainnya. Karena tak sependapat Pak Kiai beserta rombongannya
(tidak begitu besar, sekitar 20 orang) meneruskan perjalanan dengan berjalan
kaki ke Mina, sedangkan rombongan kami tetap mabit di tempat itu (Mina Jadid).
Belakangan kami (khususnya aku, Fajar dan
Umak) jadi ragu-ragu mengingat Pak Kiai sudah sepuh dan sudah berkali-kali
memimipin Jamaah Haji, akhirnya kami putuskan untuk membayar dam, karena kami
tidak bermalam (mabit) di Mina, sedangkan Endah mengikuti rombongan tanazul
memang telah berjalan kaki lebih dahulu ke Mina dan bermalam disana. Pembayaran
dam (penyembihan kambing) dilakukan oleh Fajar di Jabal Nur sekembalinya kami
ke Makkah. Apapun perbedaannya, kami ini orang awam, dengan membayar dam hati
sudah plong, tidak ada sesuatu keraguan lagi.
Malam itu sudah itu sudah masuk tanggal 10
Zulhijjah 1428 M. Fajar, Umak dan Endah bergabung besama-sama rombongan melontar
jamrah Aqabah sendiri-sendiri, sedangkan aku karena kondisi fisik tidak memungkinkan, maka melontarnya dibadalkan
kepada Fajar. Melontar untuk masing-masing orang sebanyak 7 buah kerikil (7x
lontar). Sepulangnya Fajar dan Umak ke kemah (Umak di kemah ibu-ibu), kami
menggunting rambut (cukur). Kami telah dalam keadaan tahallul awal dan boleh
beganti pakaian biasa
Dalam hubungan dengan mabit di Mina buku
Pedoman Bimbingan Manasik Haji 2007 Departemen Agama (buku A.2) pada halaman 34
menuliskan :
Mabit
di Mina :
1.
Hukum mabit di Mina menurut jumhur Ulama
adalah wajib. Sebagian Ulama mengatakan sunat. Bagi jamaah yang meninggalkan
mabit wajib membayar dam/fidiyah.
2.
Waktu mabit yaitu malam tanggal 11 dan 12
Dzulhijjah bagi nafar awal dengan meninggalkan
Mina sebelum terbenam matahari dan tangal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah bagi
nafar tsani.
3.
Tempat mabit bagi sebahagian besar jamaah
haji Indonesia adalah di Harratul Lisan. Harratul Lisan merupakan wilayah
pengembangan Mina yang secara hukum dianggap sah sebagai tempat Mabit.
Pengembangan wilayah Mina adalah keharusan yang dianngap sama dengan
pengembangan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Sejak tahun 1984 pemerintah Arab
Saudi telah menetapkan Harratul Lisan sebagai tempat mabit. Tahun 2001
pengembangan wilayah mabit hingga sampai Muzdalifah yang dikenal dengan nama
Mina Jadid (Mina Baru). Hukum Mabit di Mina Jadid sah karena kemahnya
bersambung, sesuai dengan fatwa Mufti Makkah dan Hasil Keputusan Mudzakarah
UlamaTentang Mabit diluar Kawasan Mina, tanggal 10 Januari 2001.
Tentang melontar jamrah buku tersebut
antara lain menulis dalam tanya jawab nomor 6 di halaman 125 sebagai berikut :
Apakah
melontar jamrah boleh diwakilkan kepada orang lain?
Melontar
jamrah tidak boleh diwakilkan kecuali karena uzur, baik karena sakit atau
karena masyaqqah (kesulitan yang berat).
H. Sulaiman Rasjid dalam bukunya FIQH
ISALAM menuliskan :
Orang
yang berhalangan tidak dapat melontar, sedangkan halangannya itu tidak ada
harapan akan hilang dalam masa yang ditentukan untuk melontar, maka orang
tersebut hendaklah mencari wakilnya sekalipun dengan cara mengupah. Orang yang
tidak melontar sehari atau dua hari harus menggantinya pada hari lain asal
masih dalam masa yang ditentukan untuk melontar, yaitu tanggal 10-13.
Tentang tahallul buku Bimbingan Manasik
Haji 2007 Departemen Agama (buku A.2) pada halaman 39 menuliskan :
TAHALLUL
:
Tahallul
adalah keadaan seseorang yang telah dihalalkan (dibolehkan) melakukan perbuatan
yang sebelumnya dilarang pada waktu berihram haji.
Tahallul
ada 2 (dua) macam :
1.
Tahallul Awal ialah keadaan seseorang yang
telah melakukan dua diantara tiga perbuatan yaitu :
(a).
Melontar jamrah Aqabah kemudian memotong rambut/bercukur, atau
(b).
Tawaf ifadah dan sa’i kemudian memotong rambut/bercukur.
Sesudah
tahallul awal seseorang boleh beganti pakaian biasa dan memakai wangi-wangian,
dan boleh mengerjakan semua yang dilarang selama ihram, akan tetapi masih
dilarang bersetubuh dan bercumbu rayu dengan istri/suami.
2.
Tahallul Tsani ialah keadaan seseorang yang
telah melakukan tiga perbuatan yaitu : melontar jamrah Aqabah, memotong
rambut/bercukur dan tawaf ifadah serta sa’i. Sesudah tahallul tsani seorang
jamaah boleh bersetubuh dengan suami/istri.
Tanggal 19 Desember 2007, hari Rabu, hari
ke-6 kami di Makkah bertepatan dengan tanggal 10 Zulhijjah 1428 H. Bakda shubuh
udara sangat cerah, badanku agak segaran. Sekitar pukul 09.00 aku dan Fajar
keluar kemah, lag-lagi seperti di Arafah kemaren kami ingin melihat situasi di
lapangan. Ramai dan sibuk, ramai penjual berbagai cindera mata dan ada pula
penyewaan unta, untanya dihiasi aneka bunga-bungaan warna-warni, boleh duduk
diatas pundaknya dan difoto. Di lapangan kami bertemu jamaah haji pria dari
China (RRT), orangnya besar tinggi tipe Mandarin, menunjukkn identitas yang dibawanya
berupa bendera RRT yang tegambar pada kartu pengenal yang dikalungkan pada
lehernya. Usianya mungkin sebaya atau mungkin sedikit lebih muda dariku karena
sudah agak uzur sepertiku. Aku sempat berbincang dengan dia dalam bahasa tarzan
dan difoto oleh Fajar. Dia menunjuk
lutut dan mengeluh sakit dan mau duduk saja, tak kuat berjalan, mungkin
rematik.
Semua pelaksanaan shalat selama di Mina
dilaksanakan di kemah masing-masing baik berjamaah ataupun sendiri-sendiri.
Kemah yang kami tempati ternyata terletak disamping salah satu meja tempat pelayanan
makanan persis disebelah tempat aku tidur, karena aku tidur dipinggir sekali. Pelayanan
makanan katanya dengan sistem prasmanan tapi tidak mengambil sendiri, jamaah
antri membawa piring dan diisi oleh petugas dengan nasi dan lauk pauk lebih
dari cukup dan ditambah sambal, dilayani oleh anak-anak Arab belasan tahun.
Antriannya cukup terbib, tidak berebutan, malah santai sambil ngobrol diantara
masing-masing jamaah. Konon ini adalah servis katering Armina yang diterapkan
mulai musim haji 2007 karena terjadinya musibah karering tahun sebelumnya
(2006). Menjelang waktu makan siang aku menyingkapkan kain kemah untuk melihat
keadaan diluar. Tiba-tiba salah seorang petugas pembagi makanan meminta
piringku dan mengisi nasi dan lauk pauknya, Alhamdulillah aku tak usah antri. Tetapi
untuk selanjutnya aku tetap ikut antri, malu sama teman-teman. Lemari kaca berisi
buah-buahan terutama sekali apel dan jeruk terdia dimana-mana, tersedia pula
jus dan minuman kotak, kita boleh mengambil sebanyaknya jika kuat. Pelayanan
makanan memang memuaskan, tetapi sayang pelayanan kamar mandi dan toilet sangat
menyedihkan. Tetapi semuanya dapat dimaklumi melayani orang begitu banyak.
Malamnya telah masuk tanggal 11 Zulhijjah,
waktu untuk melontar jumrah Ula, Wutha dan Aqabah. Fajar, Endah dan Umak
melontar sendiri-sendiri pergi bersama rombongan agak awal, sekitar bakda
isya’, sedangkan aku tak mungkin kuat berdesakan, apalagi berjalan cukup jauh,
jadi menunggu dulu di kemah sampai suasana agak sepi. Pulang ke kemah, Fajar
kembali membawa aku untuk melontar, waktu sudah lepas tengah malam, jalanan
sudah agak sepi. Tetapi karena cukup jauh (bagiku) dan aku tak kuat, hampir
setiap seratus meter aku berhenti dipinggir jalan untuk melepas lelah, akhirnya
sampai ke kawasan jamarah Ula, Wustha dan Aqabah, dan aku melontar sendiri satu
demi satu jamrah, 3x7 kerikil = 21 kerikil. Alhamdulillah.
Pulangnya kami bersamaan dengan dua orang
jamaah haji lelaki dari Malaysia yang masih muda-muda, mereka membawa seorang
jamaah wanita yang sudah berusia lanjut didorong dengan korsi roda. Kepada kami
kedua anak muda tersebut menceritakan bahwa mereka ditugaskan oleh pemerintah
Malaysia untuk mengawal/menjaga nenek tersebut selama melaksanakan ibadah haji
sampai selesai dan selamat. Demikian juga jamaah lainnya yang sudah tua dan
uzur mendapat pengawalan seperti itu.
Tanggal 20 Desembar 2007, hari Kamis, hari
ke-7 kami di Makkah, bertepatan dengan 11 Zulhijjah 1428 M, malamnya sudah
masuk 12 Zulhijjah. Karena sudah hampir dapat dipastikan jamaah akan lebih
banyak lagi melontar, khususnya bagi yang mengambil Nafar Awal, maka disepakati
melontar jamrah Ula, Wustha da Aqabah untuk aku dibadalkan pada Fajar lagi,
sedangkan Endah dan Umak melontar sendiri.
Jumlah kerikil yang dilontarkan untuk
setiap orang mengambil Nafar Awal adalah tanggal 10 Zulhijjah (7), 11 Zulhijjah
(21), 12 Zulhijjah (21), total semua 7+21+21 = 49 buah kerikil.
Mengikuti rombongan, kami mengambil Nafar
Awal dan besoknya akan kembali ke Makkah, dan malam itu semua anggota rombongan
bersiap-siap.
Tanggal 21 Desember 2007, hari Jum’at, hari
ke-8 kami di Makkah, bertepatan dengan 12 Zulhijjah 1428 M. Sekitar pukul 10.00
dengan bus kami berangkat dari Mina memuju Makkah, kendaraan bergerak lambat
sekali, jalanan sangat padat. Aku sama sekali tak tahu jalan apa itu (jamaah
lain juga mungkin begitu), hampir semua penumpang pulas karena kelelahan. Sepi.
Hening.
Shalat dhuhur dan ashar di kendaraan. Bakda
ashar, anggota rombongan satu persatu turun dari kendaraan tanpa alasan,
kalaupun ada alasan pamit cari makan, mau pipis, atau capek duduk di
kendararaan dan sebagainya ternasuk Fajar, Endah dan Umak. Umumnya yang turun
yang muda-muda, bahkan yang disebut Karom dan Karu menghilang entah kemana.
Yang tersisa di bus adalah yang tua-tua (termasuk aku), beberapa orang jamaah
wanita dan yang kurang sehat, jumlahnya pun sudah tak lengkap sepuluh. Mungkin
pada saat itu telah memasuki kota Makkah, hari sudah mulai remang-remang, bus
jalannya makin lambat, dan tiba-tiba berhenti di sebuah tempat. Mungkin katanya
sudah sampai, demikian ucapan pengemudi dalam bahasa Arab (mungkin, karena aku
sendiri tak mengerti) dengan nada seperti orang marah-marah. Barang-barang
diturunkan dan ditumpuk begitu saja di pinggir jalan, masih untung jalannya
sepi. Karena lelah dan lemas aku sampai tak ngeh (memperhatikan) siapa yang
menurunkan barang-barang tersebut. Kami sisa-sisa laskar yang ketinggalan jadi
bingung, tidak saling berucap karena sudah sangat lelah, kami hanya duduk saja
menjaga barang-barang sambil menunggu kalau-kalau anggota rombongan yang telah
tiba lebih dahulu datang menjemput.
Dalam keadaan kebingungan tiba-tiba muncul
ustadz Wahab (salah seorang pengurus Daarut Tauhiid) dan membereskan
barang-barang yang tertumpuk dipinggir jalan dengan bantuan orang-orang
(mungkin kuli angkut, karena tak seorang pun pernah aku lihat di maktab).
Dugaanku ustadz Wahab telah memonitor konvoi bus yang belum tiba. Tempat bus
berhenti ternyata masih cukup jauh dari maktab, semua barang-barang ditumpuk di
ruang depan maktab. Aku sendiri yang sudah lemas dibimbing ustadz yang baik
hati ke maktab, disuruh duduk di korsi tamu dan diberi air mineral, kemudian
beliau pergi, mungkin masih ada urusan lain , apalagi azan maghrib telah
mengumandang. Tidak lama kemudian rombongan tiba satu persatu termasuk Fajar,
Endah dan Umak. Shalat maghrib dan isya sendiri-sendiri di maktab.
Inilah pengalaman terburuk bagiku selama
delapan hari di Makkah. Dugaanku peristiwa ini terjadi karena waktu berangkat
dari Mina rombongan lupa mengumpulkan real untuk upeti bapak sopir.
Mudah-mudahan dugaanku ini tidak benar. Ya Allah ampuni aku.
Sekitar pukul 23.00 aku, Fajar, Endah dan
Umak pergi ke Masjidil Haram untuk tawaf ifadah dan sa’i. Selesai tawaf ifadah
dan sa’i terdengar kumandang azan shubuh dan kamipun ikut shalat dengan hati
yang lapang karena rangkaian ibadah haji yang kami tunaikan telah selesai.
Alhamdulillah, semoga menjadi HAJI YANG
MABRUR, haji yang diridhai dan diterima pahalanya oleh Allah Subhanahu
Wata’ala. Amin, Ya Rabbal Alamin.
Karena rangkaian pelaksanaan ibadah haji
seluruhnya sudah selesai, sebenarnya kalau mau kami sudah boleh pulang kampung
tentunya setelah melakukan tawaf wada’, akan tetapi mengikuti program yang
dilakukan jamaah haji Indonesia dan negara lain, pada umumnya, masih ada acara
lanjutan yaitu berkunjung ke Madinah untuk melaksanakan shalat arbain.
Pagi itu sudah hari Sabtu 22 Desember 2007,
berdasarkan perhitungan kalender kamariah sejak tadi malam mulai waktu maghrib
telah masuk tanggal 13 Zulhijjah 1428 M. Berbeda dengan kalender syamsiah yang
menghitung peralihan hari sejak tengah malam pukul 00.00.
Selesai shalat shubuh kami cari sarapan di
belakang Pasar Seng seperti pada hari-hari sebelumnya selama kami berada di
Makkah. Sudah itu pulang naik taksi dan tiba di maktab sekitar pukul 10.00.
***











Alhamdulillah..Semoga mendapatkan haji yang Mabrur.
ReplyDelete