LEGENDA - TONGKAT EMAS (2)
1. Selamat bertemu lagi wahai rekan
Rangkaian pantun kita lanjutkan
Seperti terdahulu telah dkisahkan
Legenda tongkat emas kita teruskan
2. Berbenang emas kain madukara
Dikenakan ibusuri didalam istana
Diseberang sungai hutan belantara
Banyaklah bambu tumbuh disana
3. Raja duduk didampingi permaisuri
Dileher kalung berlian tegantung
Rumpun demi rumpun ditelusuri
Langkah demi langkah dihitung
4. Menumpuk harta janganlah loba
Berlaku sopan jagalah perangai
Berulang kali Pak Kantan mencoba
Sembilan langkah dari tepian sungai
5. Tiba dipelabuhan kapal ditepikan
Jangkar diturunkan kapal merapat
Entah beberapa langkah dilkakukan
Barulah menemukan hitungan tepat
6. Janganlah dihitung hari kehari
Bilamana dunia akan kiamat
Berbelok kekanan berbelok kekiri
Setiap langkah dihitung cermat
7. Tekunlah tuan melakukan peribadatan
Mohonkan hidup selamat sejahtera
Langkah kebarat kemudian keselatan
Berlanjut ketimur kemudian keutara
8. Menyunting bunga berhias malai
Malai dirangkai bunga menyatu
Cangkul diraih penggalian dimulai
Tanahnya lengket bercampur batu
9. Jauhkanlah hati berpikiran gelisah
Bilamana memutuskan bertekad bulat
Menancapkan cangkul amatlah susah
Berwarna keunguan tanahnya mengkilat
10. Kedondong terjuntai dipohon tinggi
Serombongan anak datang melempar
Bertambah siang matahari meninggi
Keringat berkucuran perutpun lapar
11. Kalajengking binatang sengat berbisa
Sewaktu disengat tentulah terkejut
Sekujur tubuh capek tidaklah terasa
Istirahat sebentar pekerjaan berlanjut
12. Hidupkan unggun apipun menyala
Api dinyalakan dengan daun kelapa
Cahaya matahari terik diatas kepala
Petanda tengah hari sudah menyapa
13. Senyum simpul remaja pemalu
Dari kekasih menerima surat
Cangkulan demi cangkulan berlalu
Matahari telah condong kebarat
14. Dikala mengantuk mulai terasa
Minumlah kopi barang secangkir
Pak Kantan hampirlah berputus asa
Siluman pembohong sempat terpikir
15. Sangatlah harum bunga melati
Tumbuh bermekaran diwaktu pagi
Penat dibadan terasa mulai meniti
Akan kucoba sepuluh cangkulan lagi
16. Selesai mengetam menumbuk padi
Setelah ditumbuk menjadi beras
Dicangkulan ketujuh sesuatu terjadi
Cangkul membentur sesuatu yang keras
17. Berbanjar rapi barisan hulubalang
Berkumis melintang semua bertopi
Pak Kantan terkejut tiada kepalang
Mengeluarkan sinar terpercik api
18. Dikurung penjahat dibalik terali
Bergerak dibatasi dalam kurungan
Semangat timbul bergelora kembali
Kiranya benda apakah ini gerangan
19. Penari campak rambut berjambul
Menari berlenggang berbalas kata
Dicangkul terus sampai tersembul
Benda bulat sepanjang tiga hasta
20. Bila tuan berwisata ke Jawa Barat
Mampir ke Sukamandi membeli peci
Benda diangkat cukuplah berat
Dibawa kepinggir sungai lalu dicuci
21. Berhati-hati tuan membeli bahan
Sekarang ini banyak bahan tiruan
Mengeluarkan sinar warna kemerahan
Sinar berbinar mengeluarkan kilauan
22. Janganlah sampai jadi petualang
Mengarungi nasib hidup melarat
Sampan dikayuh bergegas pulang
Matahari telah terbenam dikaki barat
23. Dilaut perahu mayang berserakan
Menangguk ikan bagan silih beganti
Kepada istri dan anak diperlihakan
Semua bingung tidaklah mengerti
24. Sahabat sejati tumpahan curhat
Kepedihan hati keluhan ditandai
Benda seperti ini tak pernah dilihat
Esok hari ditanyakan orang pandai
25. Kapal berlayar diterjang badai
Nahoda handal tidaklah kalap
Semalaman ketiganya duduk berandai
Sepicing matapun tidaklah terlelap
26. Sekoci penyelamat dilautan terapung
Kemana terdampar belumlah tahu
Keesokan ditanyakan kepala kampung
Dia hanya memggeleng angkat bahu
27. Peliharalah dengan baik semua alat
Segala alat disimpan didalam peti
Ditanyakan pula kepada guru silat
Tidaklah mendapat jawaban pasti
28. Kasih didalam hati tumbuh bersemi
Berarti cinta asmara tiba melanda
Seisi kampung tidaklah memahami
Hanya mengagumi keindahan benda
29. Ayam berkokok diwaktu subuh
Tibalah siang hari malam bertaut
Tunggulah nanti perahu berlabuh
Tanyakan saja kepada orang pelaut
30. Menari dipesta tidaklah dilarang
Naik kepentas boleh berpasangan
Pengalaman menjalani negeri orang
Mungkin tahu benda apa gerangan
31. Menyanyikan lagu merdu irama
Penyanyi cantik selendang dibahu
Limabelas hari bulan purnama
Merapat dikuala sebuah perahu
32. Tarian tradisinal ditarikan diistana
Rombongan penari memakai kemban
Nakhoda perahu orangnya bijaksana
Banyak pengalaman rambut beruban
33. Pameran perumahan penuh hiasan
Rumah dipulau Jawa beratap limas
Seraya terangguk berikan penjelasan
Benda adalah sebuah tongkat emas
34. Membuat lingking pisang disalai
Limgking yang baik berwarna ungu
Berharga mahal tidaklah ternilai
Seluruh pendengar hanya termangu
35. Dewasa ini musibah datang beruntun
Rakyat menderita tidak terbanding
Adapun Pak Kantan manusia santun
Bersama seisi kampung dia berunding
36. Jangan percayai ucapan pembual
Sembarang saja mengucapkan kata
Diputuskan tongkat supaya dijual
Untuk membangun kampung tercinta
37. Mendirikan pabrik dikota Cikarang
Pabrik membuat produk bermutu
Tongkat akan dijual dinegeri seberang
Nakhoda perahu bersedia membantu
38. Muang Jong upacra tahunan ritual
Acara suku Sawang tua dan muda
Disepakati Kantan berangakat menjual
Menumpang perahu bersama nakhoda
39. Membakar kemenyan asap mengepul
Dewa dewi berturunan dari kayangan
Dipelabuhan seisi kampung berkumpul
Melepas Kantan putra kesayangan
40. Upacara adat pengunjung berpesta
Menikmati segala macam penganan
Peluk dan tangis bercucuran air mata
Terutama semua sahabat sepermainan
41. Pembalap bertanding pacuan kuda
Kuda Timur Tengah tidak tersaingi
Sembah kepangkuan ayah dan bunda
Mohon restu mahadewa melindungi
42. Janganlah emas disangka loyang
Jangan pula belang disangka selang
Harapan kepada ananda tersayang
Setelah selesai segera kembali pulang
43. Manakala orang menbeli penganan
Tentu dicari penganan masih hangat
Bagaimana halnya kawan sepermainan
Kehilangan kawan terbaik amatlah sangat
44. Bila ada tembakan segeralah tiarap
Kebiasaan penduduk dikala perang
Mereka semua senantiasa mengharap
Semoga tidak lama dinegeri seberang
45. Ikan terbang berenang mengapung
Satu saat dapat terbang melayang
Tak kurang harapan orang sekampung
Masa depan pembangunan terbayang
46. Dikala malam angkasa perhatikan
Bertaburan bintang tidak terbilang
Dari purnama ke purnama dinantikan
Kantan ditunggu tak kunjung pulang
47. Matahari dan bulan terus beredar
Siang dan malam dapat ditentukan
Tak terhitung perahu tiba bersandar
Tiada yang mengetahui nasib Kantan
48. Pergunakan karir jangan sia-sia
Kembangkan terus ilmu serta bakat
Pak Kantan sudahlah tutup usia
Mak Kantan renta jalan bertongkat
49. Sang waktu berjalan terus berpacu
Laksanakan tugas sampai rampung
Para sahabat sudah beranak cucu
Tinggal menyebar diberbagai kampung
50. Kalau takut musibah ditemukan
Janganlah berumah ditepi jurang
Seisi kampung sudah melupakan
Bagaimana Kantan dinegeri orang
51. Tembakan gencar pasukan tiarap
Kena sasaran peluru jiwa melayang
Tapi Mak Kantan tetap mengharap
Akan kembalinya ananda tersayang
52. Biji menunas tumbuhlah kecambah
Tanaman secepatnya dapat disemai
Keadaan kampung telah jauh berobah
Pelabuhan diperluas bertambah ramai
53. Membaca buku duduk bersandar
Buku mengulas masalah keluarga
Kampung telah menjadi bandar
Dikunjungi ramai pedagang berniaga
54. Pohon kemang tinggi berbatang
Tampat keluang hinggap bergantung
Bandar ramai didiami pendatang
Datang merantau mengadu untung
55. Dipasar tempat orang berjual beli
Pengunjung begerak kesana kemari
Bersatu padu dengan penduduk asli
Bahu membahu membangun negeri
56. Keris pusaka perunngu berhulu
Dirawat selalu bersama gamelan
Generasi tua bergantian berlalu
Generasi muda tiba bermunculan
57. Terbentang sangat luas benua Asia
Didalamnya masuk bumi Nusantara
Adapun Mak Kantan panjang usia
Berkehidupan renta sebatang kara
58. Lampu dinyalakan ruangan terang
Mejaga keamanan tidur bergantian
Hidup bergantung belas kasian orang
Nenek renta tetap dalam penantian
59. Ditempat sampah banyak cecunguk
Bersama bunglon teman sepermainan
Sahabat Kantan kadang menjenguk
Datang berkunjung memberi santunan
60. Berdo’alah tuan khusyuk selalu
Mohonkan do’a segera dikabulkan
Kisah tongkat emas sekian dulu
Sambungan segera kami lanjutkan
Bogor, 20 Nopember 2010
No comments:
Post a Comment