Monday, July 30, 2012

BAGIAN KETIGAPULUHENAM MUANG JONG (1)


1.       Teruntuk tuan dan puan salam sejahtera
Tabik beserta hormat mula kami ucapkan
Marilah masalah budaya kita berceritera
Perihal ritual muang jong kita kisahkan

2.       Wahai dewi malam terimalah salam
Dihati nan dalam dikaulah dewi pujaan
Alkisah riwayat sejak beribu tahun silam                                                                     
Diatas muka buana bertebaran kerajaan

3.       Siapatah puan gerangan dewi manja
Apatah kiranya maksud puan kehendaki
Kerajaan dikendalikan oleh seorang raja
Berkuasa turun temurun secara monarki

4.       Jikalau pikiran kusut datang menyerang
Bersenandung malam pelipur perasaan
Tiadalah jarang antar kerajaan berperang
Memperebutkan wilayah dan kekuasaan

5.       Lantunan senandung masa lalu dikenang
Waktu berjalan masa kini sudahlah tiba
Siapa yang kuat keluar sebagai pemenang
Seakan berlakulah padanya hukum rimba

6.       Disinar pagi burung berkicau bersahutan
Diatas dahan meloncat seraya berjemur
Dari belahan utara sampai belahan selatan
Begitu pula dari ujung barat sampai ketimur

7.       Terletak dikaki pegunungan desa terpencil
Disekeliling berbatasan hutan belantara
Bertumbuhan kerajaan besar maupun kecil
Tidak terkecuali pula di kawasan Nusantara

8.       Padang Kandis berpantai Teluk Gembira
Berpanorama indah untuk jepretan lensa
Konon di Kepulauan Riau terkisah ceritera
Banyak kerajaan kecil saling berebut kuasa

9.       Pantai molek terhampar dialam terbuka
Disenja hari langit indah bagaikan diukir
Berperang lazim permainan antar mereka
Pemenang berkuasa,  kalah lari menyingkir

10.   Kawasan pegunganan berhiaskan jurang
Berselang seling lembah berserta ngarai
Tersebutlah sebuah kerajaan kalah perang
Penduduknya menyingkir diri tercerai berai

11.   Kendalikanlah diri tuan hidup berhemat
Jauhkan kehidupan royal berfoya selalu
Menyingkirkan diri perbuatan terhormat
Dari pada menyerah menanggung malu

12.   Terayun didahan hinggap bergelayutan
Diatas  pohon randu kalong bergantung
Berkelanalah mereka mengarungi lautan
Dikepulauan Riau, Bangka dan Belitung

13.   Selamat datang hormat berunjuk tangan
Adat pengantin Belitung berebut lawang
Dari kelompok manakah mereka gerangan
Mereka berucap panggil kami Suku Sawang

14.   Teluk Balok terletak di Belitung Selatan
Zaman dahulu menjadi pusat pangkalan
Berbadan tegap kekar jauh penyakitan
Pengobatan tradisional menjadi andalan

15.   Mengenang kekasih dara bersenandung
Senandung kecil ungkapan tiadalah jelas
Polos serta jujur di sanubari terkandung
Hidup sangat mandiri bukanlah pemalas

16.   Dari Cirebon ke daerah Pamanukan
Singgah di Indramayu membeli mangga
Sebagai nelayan dilaut menangkap ikan
Mencari nafkah menghidupi keluarga

17.   Sangatlah berbisa digigit hewan lipan
Pada tumpukan sampah hewan melata
Walaupun hidup jauh dari kecukupan
Pantang menadahkan tangan meminta

18.   Badan lelah olahraga cepat berhenti
Disekujur tubuh telah mengalir peluh
Membantu orang dengan sepenuh hati
Berapapun imbalan tidaklah mengeluh

19.   Bila kiranya tuan berusia muda masih
Dengar nasehat sepuh sebagai kendali
Bungkukkan badan sopan terima kasih
Kapan diperlukan panggillah kembali   

20.   Dihembus angin kebakaran membesar
Tentu berjuang keras barisan pemadam
Tidak pernah terucap perkataan kasar
Tiadalah pula jadi manusia pendendam

21.   Orang berada pajak haruslah dipungut
Kaum duafa berikanlah bantuan sosial
Berpantang merengut bersungut-sungut
Wajah merengut petanda pembawa sial             

22.   Pengemis tua jalan tertatih bertongkat
Kehidupan miskin amat kejam mendera
Demikian dalam diri keyakinan melekat
Sehingga selalu tampil cerah bergembira

23.   Selesai pemilihan umum suara dihitung
Rasa cemas dihati menggannggu partai
Berkehidupan diatas perahu tergantung
Dikawasan Pulau Belitung keliling pantai

24.   Dalam suasana rakyat hidup melarat
Era reformasi partai tumbuh menjamur
Dikala bertiup badai dari sebelah barat
Rombongan perahu berpindah ketimur

25.   Jadi anngota parlemen malang melintang
Kerap pelesir studi banding keluar negeri
Balik kebarat kala dari timur badai datang
Tampak nomaden demi keselamatan dicari

26.   Masuk parlemen jangan mencari untung
Tepati datang sidang tidaklah terlambat
Tanjung Pandan, Manggar serta Gantung
Pantai tempat perahu banyak bertambat

27.   Jangan bersuara nyaring bagaikan kodok
Jangan pula bagai kerbau hidung dicucuk
Terkadang diatas sungai membuat pondok
Diwaktu lampau dipinggir Sungai Cerucuk

28.   Wahai rakyatku marilah kita semua bersatu
Dari atas singgasana baginda raja bertitah
Dengan Tanjung Pandan tepi sungai menyatu
Tempat berdiri banyak kantor pemerintah

29.   Terdengar gemerisik derai-derai cemara
Kadang terhenti angin bertiup menyentak
Kantor polisi, kejaksaan dan rumah penjara
Barikut bermacam instansi disana terletak

30.   Bantulah wahai tuan orang tiada berdaya
Sudah menjadi kewajiban kita sesama insan
Tetapi wahai tuan mungkinlah tidak percaya
Dengan aparat tak pernah mereka berurusan

31.   Mendapat rezeki sebagian sumbangkan
Berbuatlah amal kebajikan ikhlas dihati
Tindah pidana tak pernah mereka lakukan
Hukum kutukan sungguhlah sangat ditakuti

32.   Kala tuan ikhkas memberikan santunan
Kepuasan batin niscaya tuan nikmati
Menanggung malu sampai tujuh turunan
Akan lebih baik dunia ditinggalkan mati

33.   Jauhkanlah diri dari sifat suka berseteru
Doronglah selalu suatu pedamaian abadi
Andai kepada suku Sawang datang berguru
Mungkinlah kasus korupsi tidak akan terjadi

34.   Diatas Kali Ciliwung terentang jambatan
Dibuat dari besi jambatan bergantungan
Sesuatu kebiasaan perlu menjadi catatan
Beranak pinak banyak mereka pantangan

35.   Batu satam di Pulau Belitung ditemukan
Batu luar angkasa ramai diperdagangkan
Punya dua orang anak dirasa kebanyakan
Misi keluarga berencana tidak diperlukan

36.   Menjadi seorang hakim wajiblah adil
Mengambil keputusan haruslah mapan
Dibidang seni budaya mereka berandil
Disetiap pesta seni maju paling depan

37.   Wahai pemimpin dengarkanlah aspirasi
Rakyat berharap pergunakan hati nurani
Dibidang olahraga mereka berpartisipasi
Sebagai pemain sepakbola amat disegani

38.   Jangan mengutamakan kaum kerabat
Itu namanya nepotisme perilaku anda
Kalaulah lautan sedang tiada bersahabat
Dimusim barat badai datanglah melanda

39.   Berlakulah baik dalam segala perbuatan
Korupsi, kolusi dan nepotisme haramkan
Menangkap ikan medapatkan hambatan
Bekerja serabutan biasa mereka lakukan

40.   Dahulu tanah air kita negeri jajahan
Penduduk menderita dalam tekanan
Kadang jadi buruh angkat di pelabuhan
Badan kuat dan kekar menjadi jaminan

41.   Dimusim panas telaga kering kerontang
Debu berterbangan memenuhi jalanan
Menutupi kebutuhan terpaksa berhutang
Tapi hanya terbatas pada bahan makanan

42.   Bumi terbentang luas di angkasa raya
Menurut letak garis lintang dan bujur
Sebagai pengutang sangatlah terpercaya
Bersegera melunasi hutang amatlah jujur           

43.   Kalaulah tiada halangan melintang aral
Patutlah memenuhi undangan pernikahan
Apakah petanda tinggi kebudayaan moral
Dari masyarakat yang dianggap rendahan

44.   Abad duapuluh adalah abad perubahan
Banyaklah kaum penjajahan diusir pergi
Sungguh sangat sulit diambil percontohan
Dari masyarakat merasa berbudaya tinggi

45.   Antah Berantah negeri tempat keluyuran
Petualang yang seharusnya terkena cekal
Entah dari mana datangnya tercetus pikiran
Pengamat menyebut sebagai kearifan lokal

46.   Diatas langit berhiaskan bintang sejuta
Indah berkelap-kelip bagaikan sinar intan
Masih ada kalangan melihat sebelah mata
Ataupun bertutup mata tidaklah kelihatan

47.   Wahai pemimpin korupsi jangan lakukan
Jangan anggap hal ini sebagai kebiasaan
Berbagai ungkapan sering kali terucapkan
Ungkapan tak patut cenderung penghinaan

48.   Berbuat tak terpuji dilarang oleh agama
Jangan tuan terpengaruh hasutan setan
Ungkapan Orang Laut masih bisa diterima
Karena mereka berjaya mengarungi lautan

49.   Manakala kemudian hari tuan dipenjarakan
Tuan serta istri dan anak niscaya menyesal
Tetapi ungkapan Sekak amat merendahkan
Tiada yang dapat menerangkan kata berasal

50.   Duduk di parlemen mewakili rakyat
Bukan hanya untuk ngomong melulu
Perihal suku Sawang empunya riwayat
Menjelajah lautan sejak zaman dahulu

51.   Perhatikan selalu nasib rakyat miskin
Dengarkan selalu keluhan masyarakat
Karena hidup terpisah dilautan mungkin
Kepercayaan animis waktu dulu melekat

52.   Ketika dilantik ucapkan sumpah jabatan
Ucapan dan janji tuan selalu perhatikan
Kepada penguasa alam khususnya dilautan
Bebagai hantaran mereka persembahkan

53.   Tikus gemuk lihai merayap diatas jendela
Melihat kucing secepat kilat lari melompat
Warisan budaya nenek moyang dahulu kala
Dibumi Nusantara masih banyak terdapat

54.   Zaman dahulu banyak pemimpin masyhur
Ucapan dan perilakunya menjadi panutan
Ritual muang jong biasa dilakukan leluhur
Tanda terima kasih kepada penguasa lautan

55.   Kemana pun tuan pergi cari persahabatan
Membina perkenalan haruslah didahulukan
Walaupun kini agama sudah menjadi anutan
Adat kebiasaan leluhur terus dipertahankan

56.   Mohon kesembuhan do’a kita panjatkan
Kepada Yang Maha Kuasa marilah berserah    
Pada waktu tertentu ritual diselenggarakan
Dewasa ini menjadi obyek pariwisata daerah

57.   Didaerah Kelekak Balai orang perkebunkan
Pohon sahang merambat tinggi berjunjung
Perihal ritual muang jong nanti kita ceritakan
Marilah ke Pulau Belitung datang berkunjung

58.   Nun jauh dipedalaman mulai kali berhulu
Air mengalir dialiran berkelok berjenjang
Pantun kita cukupkan sampai disini dahulu
Diwaktu mendatang kita berkisah panjang


Bogor,  09 Juni 2011


No comments:

Post a Comment